CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Kasus hantavirus kembali menjadi sorotan dunia setelah wabah di kapal pesiar MV Hondius menewaskan tiga penumpang dan membuat sejumlah lainnya jatuh sakit.
Kapal pesiar berbasis Belanda yang tengah berlayar di Samudera Atlantik itu menjadi lokasi munculnya dugaan infeksi virus langka yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan risiko penyebaran ke masyarakat umum masih rendah. Namun, penyelidikan untuk memastikan sumber penularan terus dilakukan.
Virus Langka dengan Risiko Tinggi
Hantavirus dikenal sebagai kelompok virus yang dapat memicu dua penyakit serius pada manusia, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Dari keduanya, HPS menjadi perhatian utama karena memiliki tingkat kematian yang tinggi, mencapai sekitar 40 persen. Sementara HFRS memiliki tingkat fatalitas antara 1 hingga 15 persen.
Hingga kini, otoritas kesehatan belum memastikan jenis virus yang menyebabkan wabah di MV Hondius. Namun, sejumlah laporan internasional menduga kasus tersebut berkaitan dengan tipe HPS.
Menular dari Tikus
Penularan hantavirus umumnya terjadi melalui kontak dengan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Saat partikel tersebut mengering dan bercampur di udara, manusia dapat terinfeksi setelah menghirupnya.
WHO menyebut penularan antarmanusia sangat jarang terjadi. Namun, dalam kasus di kapal pesiar ini, kemungkinan tersebut masih ditelusuri karena adanya kontak erat antar pasien.
Gejala Mirip Flu, Berisiko Fatal
Gejala awal infeksi hantavirus sering menyerupai flu biasa, seperti demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan mual.
Pada kasus HPS, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius, termasuk batuk, sesak napas, hingga penumpukan cairan di paru-paru yang berpotensi fatal.
Sementara itu, HFRS lebih banyak menyerang ginjal dan biasanya berkembang dalam satu hingga dua minggu setelah paparan.
Karena kemiripan gejala dengan influenza, diagnosis pada tahap awal sering kali sulit dilakukan.
Belum Ada Obat Spesifik
Hingga saat ini, belum tersedia pengobatan khusus untuk infeksi hantavirus. Penanganan medis difokuskan pada perawatan suportif, seperti pemberian cairan, istirahat, dan bantuan pernapasan pada kasus berat.
Para ahli menekankan pentingnya pencegahan dengan menghindari paparan terhadap hewan pengerat. Membersihkan kotoran tikus secara langsung tanpa perlindungan juga tidak disarankan karena berisiko menyebarkan partikel virus ke udara.
Risiko Publik Tetap Rendah
Meski memicu kekhawatiran, WHO menegaskan wabah ini belum menjadi ancaman besar bagi masyarakat luas.
“Risiko terhadap masyarakat umum tetap rendah. Tidak perlu panik atau menerapkan pembatasan perjalanan,” kata Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Henri P. Kluge.
Secara global, hantavirus tergolong penyakit langka. Diperkirakan hanya sekitar 200 kasus terjadi setiap tahun di seluruh dunia.
Virus ini lebih banyak ditemukan di wilayah Amerika Utara dan Selatan, sementara jenis HFRS lebih umum terjadi di Asia dan Eropa.
Meski demikian, insiden di MV Hondius menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit zoonosis tetap ada, dan kewaspadaan terhadap lingkungan, terutama yang berkaitan dengan hewan pengerat, menjadi kunci pencegahan. (*)
Editor : Elfira Halifa