Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Makna Kamis Putih Bagi Umat Katolik: Refleksi Kasih, Pengorbanan, dan Pelayanan

Yohanes Palen • 2026-04-02 20:40:58
Ilustrasi Gereja Khatolik.
Ilustrasi Gereja Khatolik.

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Jutaan umat Katolik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia pada hari ini, Kamis (2/4/2026) merayakan Kamis Putih dengan penuh khidmat sebagai bagian penting dalam rangkaian Pekan Suci. 

Sementara itu perayaan ini menjadi momen sakral untuk mengenang Perjamuan Terakhir Yesus Kristus bersama para murid-Nya, sekaligus menandai dimulainya Trihari Suci menuju Paskah.

 

Kamis Putih bukan sekadar peringatan historis, melainkan perayaan iman yang sarat makna. 

 

Dalam misa yang digelar di berbagai gereja, umat diajak merenungkan kasih dan pengorbanan Yesus yang diwujudkan melalui peristiwa Perjamuan Terakhir sebelum Ia ditangkap dan disalibkan.

 

Adapun kamis Putih menjadi salah satu momen paling sakral bagi umat Katolik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. 

 

Perayaan ini tidak sekadar mengenang Perjamuan Terakhir Yesus Kristus bersama para murid-Nya, tetapi juga menjadi ajakan mendalam untuk merefleksikan nilai kasih, kerendahan hati, dan pengabdian dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dalam tradisi Gereja Katolik, Kamis Putih menandai dimulainya Trihari Suci, yakni rangkaian perayaan iman yang berpuncak pada Hari Raya Paskah. 

 

Momentum ini mengajak umat untuk mengingat peristiwa penting ketika Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan iman, yang hingga kini terus dirayakan dalam setiap misa.

 

Selain itu, Kamis Putih juga menjadi peringatan penetapan Sakramen Imamat. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus memberikan mandat kepada para rasul untuk melanjutkan pelayanan-Nya, yang kemudian diwariskan kepada para imam dalam Gereja.

 

Makna yang paling menyentuh dalam perayaan ini tercermin melalui ritual pembasuhan kaki. 

 

Tindakan Yesus yang membasuh kaki para murid-Nya menjadi simbol kerendahan hati dan pelayanan tanpa pamrih. 

 

Melalui tradisi ini, umat diingatkan bahwa kepemimpinan sejati adalah melayani, bukan dilayani.

 

Kamis Putih sekaligus menjadi penutup masa Prapaskah, yakni masa pertobatan selama 40 hari. 

 

Perayaan ini menjadi titik peralihan menuju peringatan sengsara dan wafat Yesus pada Jumat Agung, sebelum akhirnya umat merayakan kebangkitan-Nya pada Hari Paskah.

 

Dalam perayaan liturgi, warna putih mendominasi suasana Kamis Putih. Warna ini melambangkan kesucian, sukacita, dan kemenangan, menghadirkan nuansa khidmat sekaligus penuh harapan di tengah permenungan akan pengorbanan Kristus.

 

Dekorasi gereja pun dihiasi serba putih, memperkuat makna spiritual yang terkandung di dalamnya.

 

Sebagai tanda memasuki masa dukacita, lonceng gereja biasanya tidak dibunyikan setelah perayaan Kamis Putih hingga Malam Paskah. 

 

Suasana hening ini menjadi simbol duka atas sengsara Kristus yang akan dikenang pada Jumat Agung.

 

Meski memiliki perbedaan dalam tata perayaan, sejumlah gereja Protestan juga turut memperingati Kamis Putih, meskipun umumnya tanpa ritual pembasuhan kaki atau pemindahan Sakramen.

 

Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Kamis Putih mengandung pesan universal tentang cinta kasih, pengorbanan, dan solidaritas.

 

Umat Katolik diajak untuk tidak hanya mengenang peristiwa iman, tetapi juga menghidupi nilai-nilai tersebut dalam relasi dengan sesama.

 

Dengan demikian, Kamis Putih menjadi momentum penting untuk memperbarui iman dan komitmen hidup, serta meneladani kasih Kristus yang total dan tanpa batas dalam kehidupan sehari-hari. (*).

Editor : Yohanes Palen
#kamis putih #Ceposonline.com #Katolik