CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA- Sebuah ironi terkait wajah pendidikan di Indonesia kembali menorehkan potret buram. Seorang bocah kelas 4 SD berusia 10 tahun memilih mengakhiri hidup dengan gantung diri usai permintaannya membeli buku dan alat tulis tak bisa dipenuhi.
Bocah malang tersebut sekolah di SD Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT. Ia tinggal bersama neneknya di pondok bambu kecil yang jauh dari kata layak dengan ukuran 2x3 meter. Kejadian ini terjadi pada 29 Januari 2026 lalu.
Yang menyayat hati adalah sebelum meninggal, anak laki-laki ini menuliskan sepucuk surat. Ia meminta mamanya jangan menangis dan meminta maaf untuk semua. Pada hari kejadian korban sempat pamit ke neneknya namun hingga sore ia tak kunjung kembali.
Warga kemudian mencari ke kebun tempat korban bermain namun justru ditemukan dengan posisi tergantung. Kabar ini akhirnya sampai ke istana Negara dan Presiden Prabowo langsung memerintahkan Mendagri dan Mensos untuk segera menangani masalah ini dengan berkoordinasi dengan pihak keluarga.
Wakil Menteri HAM, Mugiyanto Sipin menegaskan bahwa seorang anak seharusnya tidak dihadapkan pada beban hidup yang begitu berat hingga berujung pada keputusan fatal. Menurut dia, tragedi tersebut menjadi tamparan keras bagi nurani bangsa.
“Peristiwa ini tentu sangat memprihatinkan dan menusuk nurani kita semua sebagai sebuah bangsa, utamanya saya sebagai Wakil Menteri HAM. Seorang anak tidak seharusnya menghadapi beban hidup sedemikian berat, sehingga mengambil keputusan fatal yang orang tua sekalipun tidak membayangkan untuk mengambilnya,” kata Mugiyanto seperti dilansir JawaPos.com, Rabu (4/2/2026). Negara, kata dia, memiliki kewajiban memastikan hak hidup yang layak bagi setiap warga negara, termasuk anak-anak.
“Ini wake up call bagi pemerintah dan negara yang seharusnya hadir di rumah-rumah setiap warga negara. Hadir untuk memastikan hak atas hidup yang layak terpenuhi,” tutup Sipin. (*)
Editor : Abdel Gamel Naser