Mendengar Cerita Welpy Sobolim, Putra Yahukimo yang Kini Banting Setir Jadi Pedagang Sembako
Nasib seseorang tidak ada yang bisa menentukan. Jika ingin berubah maka yang dibutuhkan adalah niat, tekad dan kerja keras. Semuanya dimulai dari mimpi dan seorang putra Yahukimo, Welpy Sobolim membuktikan itu.
Laporan: Abdel Gamel Naser, Dekai
SEBUAH motor matic 125 cc berwarna putih keluaran tahun 2015 diparkir miring di depan kios berukuran 10 x 12 m di sebuah jalan poros menuju Pasar Baru Dekai, Kabupaten Yahukimo.
Di atas motor tersebut disusun sejumlah karton mie instan yang jumlahnya belasan karton. Secara volume dan manfaat motor tentu motor matic seperti ini tidak untuk memuat barang sebanyak itu. Bayangkan saja 16 karton mie instan disusun di atas sebuah motor kecil dan hanya diikat menggunakan karet ban.
Tapi inilah yang menjadi kendaraan operasional dari pemilik kios tersebut. Menariknya kios ini tak memiliki nama, namun tetap ramai pengunjung. Kios ini tak beda jauh dengan kios – kios lainnya meski ada yang jauh lebih besar dan lebih lengkap.
Halamannya juga masih beralas tanah dan bebatuan kali. Bangunannya juga semi permanen bahkan lebih banyak dari papan dan balok namun bagian depannya berjejer beras karungan dan tumpukan karton hingga ke bagian belakang. Di ujung kios tersebut bagian depannya ada lapak penjual pinang plus penjual es.
Bagi masyarakat khususnya di Distrik Dekai, Yahukimo, pemilik kios ini bukan orang baru. Dia adalah Welpy Sobolim. Seorang pemuda asli Yahukimo, kelahiran Distrik Soba 25 Mei 1980 dan sudah sangat dikenal.
Welpy Sobolim disebut salah satu anak asli Yahukimo yang kini sukses. Beberapa orang yang ditemui Cenderawasih Pos mengaku mengenal pemuda ini dan memberi apresiasi jempol karena kini mau bekerja mandiri sebagai pedagang. Ya.. Welpy di kalangan masyarakat khususnya Dekai sudah begitu dikenal. Bagaimana tidak untuk Yahukimo hanya ada 2 anak daerah setempat yang melakukan usaha berdagang.
Hanya berdagangnya sudah berbicara modal besar, bukan sekedar membuka lapak PKL atau berjualan di pasar. Melainkan berani menerima pesanan barang dalam bentuk grosir. Bahkan kepala daerah termasuk anggota – anggota DPRD setempat juga mengakui perjuangan Welpy. Hanya saja perjuangannya untuk bisa bekerja mandiri ini bukan tanpa kendala. Melainkan dipenuhi rasa keprihatinan dan perjuangan yang tak pernah putus asa. Tempat usahanya malah mendapat julukan Kios Welsob atau kependekan dari namanya, Welpy Sobolim.
“Itu orang – orang sendiri yang kasih nama. Mereka bilang beli di kios Welsob saja dan saya tidak tahu mereka membuat sendiri. Ha..ha.. ha..,” ujar Welpy saat ditemui di Yahukimo, Jumat (25/9).
Saat bertemu Cenderawasih Pos ia terlihat sumringah dan seakan tidak percaya mengingat sudah gantung pena sejak beberapa tahun lalu, namun masih bisa bertemu rekan seprofesinya dulu. “Kawan minum dululah, pilih saja mau makan apa dan tenang saja di sini,” ujarnya sambil membuka pintu lemari kulkas.
Ia saat itu tetap terlihat sibuk apalagi ketika pertama kali didatangi. Welpy nampak tengah membuka buku catatan sambil menghitung barang masuk dan tidak menggubris siapa yang masuk ke kiosnya. Disini mantan wartawan Deteksi Pos itu mulai menceritakan kisah perjuangannya yang akhirnya membuatnya memilih menjadi pedagang di kampung halamannya.
Dikatakan, pada tahun 2008 memang sudah diangkat sebagai ASN di Pemkab Yahukimo. Welpy ditugaskan di Tata Pemerintahan dan disinilah momentum ia merasa harus bangkit dan tidak selamanya menggantungkan hidup pada status ASN.
Disebut momentum karena selama bekerja bertahun – tahun dengan dua bupati berbeda ternyata ia tidak kunjung mendapatkan posisi yang lebih baik. Padahal teman – teman satu ruangannya mendapatkan itu.
Welpy lalu curhat kepada seorang temannya yang juga memiliki nasib tak jauh berbeda. Hanya rekannya ini bukan ASN melainkan pekerja serabutan yang merasa tidak ada perbaikan ekonomi dengan pekerjaan yang digeluti.
Nah dari saling bertukar cerita inilah, Welpy menerima tawaran rekannya tersebut untuk mendatangi sebuah kampung di Buton untuk membuat kapal. “Jadi itu tonggak dimana saya merasa harus berubah dan tidak berharap selalu dari gaji ASN. Saya juga sebagai anak daerah merasa tidak terlalu diberdayakan akhirnya saya dengan teman bernama Akbar ini sepakat untuk mencari peluang lain. Ketika itu, saya setuju dengan ajakannya ke Buton, Kendari Sulawesi Tenggara untuk melihat peluang dan saat itu kami coba lewat perkapalan,” ceritanya.
Welsob sendiri hampir 2 tahun di Buton untuk merangkai kapal kayu yang biasa digunakan untuk memuat barang. Yang jelas kapal ini sangat sederhana. Namun selama pembuatan kapal ternyata ia beberapa kali dikerjai. Ia disuruh membeli kayu untuk bahan kapal namun kayu yang dibeli ternyata bukan kualitas nomor satu. Tak hanya itu, ukuran waktu normal jika membuat kapal sederhana waktunya hanya sekitar 3 bulan namun ini menghabiskan waktu hampir 1 tahun.
Welsob berkeinginan memiliki kapal barang sendiri karena beberapa kali melihat peluang usaha di Pelabuhan Log Pond Yahukimo dimana banyak orang membutuhkan alat transportasi. “Yang jelas uang jutaan habis selama mencoba membuat kapal, saya lupa jumlahnya,” ceritanya.
“Jadi sudah dipakai beberapa kali tapi kayunya hancur. Kayunya jelek dan saya merasa ketika itu kami dikerjai,” sambungnya. Hingga akhirnya kapal tersebut rampung namun Welsob dulu memilih untuk kembali ke Yahukimo. Ia mulai memikirkan bisnis berdagang kecil – kecilan meski niatnya memiliki kapal belum berjalan mulus.
“Tapi saya dengar kapal itu sudah ada di Timika, semoga baik – baik saja. Jadi dari situlah saya berpikir bahwa saya anak daerah berstatus ASN tapi tidak diberdayakan akhirnya saya banting setir jadi pedagang,” akunya. Hanya meski kini telah memiliki sebuah kios, namun Welsob masih tetap berstatus ASN.
Pria dengan 1 putra ini menyebut bahwa ia telah membuka kios sejak tahun 2017 dengan modal pertama Rp 27 juta. Modal ini diperoleh saat ia masih bekerja sebagai wartawan. Terkadang ada rejeki yang terima itu disimpan dan dikumpulkan.
Dari awal tahun 2017 ia mulai membuka kios kecil kemudian enam bulan kemudian ia memberanikan melebarkan kiosnya untuk melayani pembelian grosiran sembako. Bahasanya agen sembako.
Ini juga bukan karena tanpa alasan. Sebab ketika masih memiliki kios mungil dan mengambil barang di Log Pond, terkadang ia mendengar cibiran orang bahwa anak daerah barangnya paling sedikit dan tidak berani membeli banyak. Untuk itu, ia memutuskan mencari pinjaman dan memulai memesan barang dalam jumlah lumayan.
Jika dulunya ia hanya mengambil belasan karton, kini Welsob berani bermain ret atau menggunakan mobil pikap penuh. “Saya juga masih ingat, banyak yang ragu dengan niat berdagang saya. Mereka bilang ah saya paling barang sedikit dan hanya itu – itu saja. Tapi saya buktikan bahwa anak daerah juga bisa dan saya buktikan itu,” tegasnya.
Selama ini Welpy mengambil barang lewat pengiriman kapal dari Timika dan sekali pengiriman ia membayar Rp 8 juta dan barang sebanyak 1 ret biasanya habis hanya dalam waktu 3 hari. “Tidak ada jadwal khusus, biasanya kalau barang habis baru saya langsung memesan lagi ke Timika dan puji Tuhan kadang dalam waktu 3 hari barang – barang ini sudah habis,” tuturnya.
Dalam merintis usahanya, Welsob juga memberi service. Bentuknya adalah menerima pesan antar dimana jika masyarakat sudah datang membeli terkadang meminta barangnya diantar. “Nah itu tadi karton – karton mie instan tadi itu bagian dari service. Cuma saya masih pakai motor dan ini masih proses perjuangan. Karena memang saya belum punya mobil, seberapa banyaknya saya siap antarkan,” katanya.
Tak hanya itu, biasanya ada juga yang membayar separo dan akan melunasi jika sudah diantarkan. Ini juga dilayani.
Niatnya memperbesar usaha rupanya dijawab Tuhan. Ketika masih memiliki kios kecil ia menyebut bahwa sehari kadang ia hanya mengeluarkan 20 karton barang, tapi kini ia bisa mengeluarkan 50 – 70 karton barang per item. “Misalnya ada 10 produk barang berbeda nah masing – masing produk itu bisa 50 – 70 karton,” tambahnya.
Untungnya dalam usahanya ini Welpy banyak dibantu sang istri, Desy. Ia memilih menikahi seorang gadis asal Medan yang dianggap mampu menjadi pelengkap perjuangannya. “Istri saya sangat membantu. Ia menghandel sebagian besar usaha kami dan ia tak pernah marah, orangnya sangat sabar,” bebernya.
Hanya diakui kadang masih ada yang menganggap ia keluar dari adat karena menikahi wanita yang bukan dari sukunya. Di sini Welpy tak menampik hal tersebut namun ia berpandangan bahwa dalam hidup pasti ada tantangan dan manusia harus bertahan kemudian berkembang. Dan saat ini sang istri telah menjawab semuanya.
Welsob juga tak pelit ilmu. Ia menceritakan bahwa tak sedikit masyarakatnya yang datang padanya untuk belajar bagaimana bisa berdagang seperti dirinya dan di situ ia menceritakan semuanya.
“Ada 12 orang sudah datang dan mereka tanya-tanya. Saya tidak mau pelit ilmu. Meski akhirnya mereka juga membeli di tempat lain, tidak masalah karena rejeki tak pernah tertukar,” katanya.
Untuk pendapatannya, pria yang sempat menulis untuk majalah Dimonim dan Papua Ekspress ini menyebut bahwa ia pernah berhitung dengan apa yang didapat dari statusnya menjadi ASN dengan pedagang. “Caya coba hitung dimana gaji saya di ASN Rp 2.475.000 dan kalau dihitung rata – rata perharinya hanya sekitar Rp 99 ribu. Itupun berangkat dari jam 8 pagi dan pulang jam 2 siang. Sedangkan kios dalam sehari bisa mengumpulkan Rp 5 – Rp 10 juta jadi tinggal bedakan sendiri saja,” tuturnya.
Welpy sendiri kini terus merintis usahanya dan kini telah memiliki 10 karyawan. Namun untuk operasional pekerjaannya, ia mengaku sedang membutuhkan kendaraan roda empat. “Pelan – pelan saya coba terus meski kadang saya juga melihat sikap cemburu atau iri dari teman – teman sedaerah juga cukup tinggi, tapi sekali lagi semua harus dimulai dari tekad dan kerja keras,” tambahnya.
Dari usahanya ini, Welpy juga merasa bangga karena kiosnya ini beberapa kali didatangi pejabat. “Pak Ones (mantan Bupati Yahukimo) kalau tidak salah sudah 7 kali ke tempat saya. Pak wakil bupati yang sekarang juga kalau lewat selalu melambaikan tangan dan memberi jempol,” pungkasnya. (*)
Editor : Administrator