Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Tuntaskan Persoalan Eksodus Mahasiswa Papua

Administrator • Rabu, 15 Januari 2020 | 11:22 WIB
SOCIAL DISTANCING: Dua oranng karyawan/karyawati Mercure Hotel Jayapura menerapkan social distabcing saat menggunakan lift di hotel tersebut, Kamis (28/5).
SOCIAL DISTANCING: Dua oranng karyawan/karyawati Mercure Hotel Jayapura menerapkan social distabcing saat menggunakan lift di hotel tersebut, Kamis (28/5).

JAYAPURA-Kapolda Papua, Irjend Pol Paulus Waterpauw nampaknya memahami jika hingga kini sejumlah mahasiswa eksodus yang datang ke Papua belum sepenuhnya tuntas. Ia sendiri tak mau mengambil risiko dengan keberadaan mahasiswa yang belum sepenuhnya kembali ke kota studi ini sehingga statemen keras dimunculkan agar jangan ada pihak yang mencoba bermain dengan menahan mahasiswa ini tetap di Papua.


Hal ini ditanggapi pengamat sosial politik Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung yang berpendapat bahwa memang masalah mahasiswa eksodus harus segera dituntaskan. Persoalan ini bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah di wilayah Lapago dan Meepago semata namun jika berada di Jayapura maka wali kota perlu ikut memikirkan. Terlebih gubernur, DPRP maupun MRP yang  sempat mengeluarkan maklumat.


“Saya melihat selama mahasiswa ini masih ada di Papua dan menyebar di kabupaten kota maka selama itu pula potensi gangguan keamanan masih cukup tinggi. Ada banyak dampak yang bisa diterima salah satunya menggangu investor yang akan masuk ke Papua,” jelas Marinus Yaung, Selasa (14/1).


Apalagi menurutnya, Papua saat ini menjadi satu pilot project utama Presiden Jokowi dalam menarik investor untuk menanamkan modalnya di Papua. Akan tetapi banyak investor asing yang belum bisa masuk karena sebagian besar negara sahabat telah mengeluarkan travel warning sejak September 2019 lalu.  Nah pejabat di Papua harus memahami dan jangan selalu berfikir Papua aman-aman saja sebab bisa juga dengan kondisi yang ada satu saat akan mengancam pelaksanan  PON juga.


Dampak keberadaan 3.000 lebih mahasiswa luar Papua yang ada di Papua meski jumlahnya dipastikan berkurang namun bisa memberi dampak. Ingat, Papua ini wilayah yang tertutup dan jangan dengan situasi ini malah semuanya diam sebab potensi akan terjadi kembali kerusuhan sosial seperti Agustus lalu masih sangat terbuka.


“Ini bukan hanya tanggungjawab kapolda saja tapi kalau bisa gubernur dan MRP berdikusi termasuk tokoh gereja untuk membicarakan persoalan keberadaan mereka. Awalnya  aksi mereka sebagai respon terjadi rasisme tapi kini sangat mudah ditunggangi apalagi jika isunya menyangkut Papua. Ada tangan asing yang ikut bermain. Awalnya biasa namun ketika menjadi besar maka ada tangan asing di dalamnya,” wanti Yaung,



Ia meminta mahasiswa eksodus Papua tetap diurusi termasuk oleh mereka yang memberi janji-janji kepada mahasiswa itu sendiri ketika itu mengingat ada masa depan yang harus diraih dan mahasiswa ini adalah masa depan Papua yang patut diperhatikan. (ade/nat)

Editor : Administrator