Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Haru di Nabire! Anak-anak Sekolah Minggu Nyalakan Lilin untuk Korban Konflik Bersenjata di Papua

Theresia F. Tekege • Kamis, 21 Mei 2026 | 07:33 WIB
Anak-anak Sekolah Minggu Jemaat Kingmi Bukit Zaitun Kali Susu Nabire menyalakan lilin dan berdoa untuk teman sebaya mereka, Aliko Walia yang meninggal dunia karena tertembak pada konflik bersenjata di Distik Kembru, Kabupaten Puncak, Rabu (20/5/2026).(CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE).
Anak-anak Sekolah Minggu Jemaat Kingmi Bukit Zaitun Kali Susu Nabire menyalakan lilin dan berdoa untuk teman sebaya mereka, Aliko Walia yang meninggal dunia karena tertembak pada konflik bersenjata di Distik Kembru, Kabupaten Puncak, Rabu (20/5/2026).(CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE).

CEPOSONLINE.COM, NABIRE-Rintik hujan yang turun Selasa malam (20/5/2026) tidak menyurutkan langkah jemaat Gereja Kingmi Bukit Zaitun Kalisusu Nabire untuk tetap bertahan di halaman gereja.

Usai mengikuti nonton bareng film dokumenter “Pesta Babi”, jemaat menggelar doa bersama dan penyalaan lilin untuk mengenang almarhum Aliko Walia, anak korban penembakan di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Papua Tengah.

Suasana haru menyelimuti kegiatan tersebut. Di tengah dinginnya malam, jemaat memanjatkan doa bagi Aliko Walia, para pengungsi, serta masyarakat adat di tanah Papua yang hidup di tengah konflik berkepanjangan.

Yang paling menyentuh perhatian jemaat adalah ketika lilin-lilin kecil dinyalakan oleh anak-anak sekolah minggu.

Dengan wajah polos dan penuh khidmat, mereka berdiri bersama sambil menggenggam lilin sebagai simbol harapan dan penghormatan kepada teman sebaya mereka yang telah meninggal dunia.

Ketua BPJ Gereja Kingmi Bukit Zaitun Kalisusu Nabire, Petrus Pigai, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar pemutaran film, tetapi juga bentuk kepedulian gereja terhadap situasi kemanusiaan yang terjadi di Papua.

“Pertama, kegiatan ini bertujuan supaya kami bersama-sama melihat situasi dan kondisi di atas tanah Papua. Kami juga mengenang kembali adik kami Walia yang meninggal akibat penembakan di Distrik Kembru”

“Kami sebagai keluarga merasa sangat berduka,” ujar Petrus Pigai usai nonton Film Pesta Babi dan  Doa bersama di halaman Gereja Jemaat Kingmi Bukit Zaitun Kalisusu Nabire, (20/5/2026).

Menurutnya, jemaat ingin menunjukkan bahwa anak-anak Papua memiliki hak untuk hidup aman dan damai tanpa menjadi korban konflik.

“Hal yang terjadi kepada adik Walia tidak boleh terjadi kepada anak kecil siapa pun. Anak-anak itu sangat berharga,” katanya.

Ia menjelaskan, simbol lilin yang dinyalakan anak-anak sekolah minggu memiliki pesan mendalam bahwa harapan untuk Papua masih tetap hidup.

“Mereka percaya bahwa Tuhan Yesus ada, maka harapan untuk hidup masih ada dan mereka siap menjadi generasi pembawa perubahan di Papua,” ungkapnya.

Petrus juga menyampaikan bahwa gereja ingin membangun kesadaran umat mengenai situasi yang sedang terjadi di tanah Papua, termasuk penderitaan masyarakat sipil yang terdampak konflik.

“Kami ingin membangun pemahaman kepada umat bahwa sebenarnya kami hidup di tanah yang kaya, tetapi justru karena kekayaan itu kami menjadi korban,” ujarnya.

Dalam refleksinya, ia mengajak masyarakat Papua untuk tetap menjaga iman dan persatuan.

“Hidup orang Papua akan aman bila ada di dalam Yesus. Tuhan menciptakan alam Papua ini untuk orang Papua dan Papua bukan tanah kosong, tetapi tanah milik orang Papua,” tegasnya.

Pihak gereja juga berharap persoalan kemanusiaan di Papua mendapat perhatian serius dari Komnas HAM maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Kami harap Komnas HAM bahkan PBB bisa turun tangan melihat masalah ini. Karena ini bukan lagi sekadar masalah antara TNI-Polri dan TPN, tetapi sudah menyangkut pembunuhan terhadap anak di bawah usia,” tutup Petrus Pigai. (*)

Editor : Elfira Halifa
#Papua Tengah #NABIRE #gereja