CEPOSONLINE.COM, MIMIKA-Pemerintah Kabupaten Mimika menghentikan sementara seluruh pelayanan publik di Distrik Jila pasca-terjadinya gangguan keamanan di wilayah tersebut.
Langkah antisipatif ini diambil dengan mengevakuasi seluruh kepala distrik, tenaga kesehatan (nakes), hingga guru menuju Timika demi keselamatan para pelayan masyarakat.
Bupati Mimika,, Johannes Rettob membenarkan bahwa seluruh aparatur pelayanan dasar telah ditarik ke ibu kota kabupaten sampai kondisi dinyatakan kondusif oleh aparat TNI dan Polri.
“Sudah turun semua. Ke distrik, kepala puskesmas, nakes, guru semua kita sudah evakuasi ke sini. Mereka sudah aman untuk sementara sambil menunggu di sana kira-kira bagaimana baru kita ini lagi, apa namanya, kita bisa kembalikan,” katanya, Kamis (20/8/2026).
Eskalasi gangguan keamanan ini memicu dampak sistemik terhadap roda pemerintahan daerah. Selain lumpuhnya fasilitas pendidikan dan kesehatan, agenda nasional seperti upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Distrik Jila terpaksa dibatalkan.
Situasi ini juga berimbas pada aksesibilitas wilayah, di mana penerbangan perintis dihentikan total akibat ketiadaan jaminan keamanan bagi operator maskapai.
Bupati Johannes Rettob menyoroti bahwa insiden berulang di wilayah terpencil ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sebelum peristiwa di Jila, gangguan keamanan serupa melumpuhkan pelayanan publik di Distrik Alama.
“Dan ini terjadi yang sangat serius ini di wilayah Mimika ini sudah dua kali di Alama dan di Jila. Dan ini kita berharap, kalau yang kecil-kecil sudah ada, tapi ini yang masalah kita,” kata Johannes.
Pemkab Mimika menyampaikan belasungkawa mendalam atas jatuhnya korban dari pihak prajurit TNI maupun warga sipil dalam peristiwa tersebut.
“Kami pertama, kami mengucapkan turut berduka cita atas korban yang telah terjadi, baik untuk TNI maupun juga masyarakat. Dan kami semua berharap bahwa kami akan cari solusi untuk bagaimana caranya mengamankan situasi di sana,” ucapnya.
Atas kendala yang dialami warga, Bupati secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Jila, khususnya terkait penundaan perayaan kemerdekaan.
“Karena kasus kemarin, ya, saya minta maaf kepada masyarakat karena upacara 17 Agustus di Jila tidak jadi dilaksanakan,” katanya.
Guna memulihkan kondisi, Pemkab Mimika berencana menggelar rapat koordinasi intensif bersama aparat hukum, Satgas, TNI, dan Polri.
Komunikasi dengan jajaran keamanan terus dimaksimalkan agar pemulihan keamanan berjalan cepat dan jaminan keselamatan bagi tenaga pelayanan dasar segera terealisasi.
“Saya terus melakukan komunikasi dengan pihak keamanan untuk bagaimana mereka bisa menjamin ke depan bahwa keamanan di Jila itu baik, demi pembangunan masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah menegaskan bahwa stabilitas wilayah merupakan krusial agar pembangunan daerah tidak terhenti berkepanjangan.
“Kita juga tidak mau situasi keamanan, situasi pendidikan jadi kacau, situasi kesehatan juga jadi tidak jalan, pembangunan juga tidak jalan,” katanya.
Penghentian penerbangan perintis menuju Distrik Jila juga menjadi perhatian utama karena memutus rantai pasok logistik dan mobilitas warga.
Operator udara menuntut adanya garansi keamanan resmi sebelum melanjutkan operasional.
“Transportasi juga jadi tidak jalan. Kita sudah, kan ada penerbangan perintis ke sana, tapi kemudian mereka sudah buat surat dan melaporkan kepada kami bahwa kami tidak akan berani dulu. Pemerintah sementara sampai betul-betul ada jaminan aparat keamanan,” jelas Johannes.
Melalui pimpinan distrik setempat, Bupati mengimbau warga Distrik Jila untuk tidak panik dan tetap menjalankan aktivitas harian secara tenang sembari menunggu penanganan dari aparat gabungan.
Pemkab Mimika berkomitmen menyelesaikan masalah ini agar akses kesehatan, pendidikan, dan transportasi penerbangan ke Distrik Jila dapat segera kembali beroperasi normal.(*)
Editor : Elfira Halifa