Latihan terpadu ini bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan ritual pembuktian kesiapsiagaan aparat dalam merawat denyut keamanan di wilayah pesisir Papua tersebut.
Sejumlah skenario eskalasi diperagakan secara presisi: mulai dari tahap "hijau" yang sejuk melalui perundingan Tim Negosiator dan Dalmas Awal, berlanjut ke tahap "kuning" yang menghangat bersama Dalmas Lanjutan, hingga membara di tahap "merah" saat Kompi PHH Brimob dan Detasemen 45 Anti Anarkis diterjunkan.
Simulasi ditutup dengan manuver tajam Pasukan Anti Teror serta aksi mendebarkan Tim Penjinak Bom (Jibom) Brimob.
Latihan ini menjadi salah satu simpul utama dalam rangkaian Evaluasi Gelar Operasional Triwulan I Polda Papua Tengah.
Kapolres Mimika, AKBP Alredo Agustinus Rumbiak, menegaskan bahwa ketangkasan aparat tidak boleh digantungkan pada ada atau tidaknya ancaman yang tampak di permukaan.
“Ini sebenarnya juga dalam rangka rangkaian kegiatan Evaluasi Gelar Operasional Triwulan I Polda Papua Tengah. Kebetulan dilaksanakannya di sini, sehingga kita juga menunjukkan kesiap-siagaan kita dalam rangka pengamanan sistem pengamanan kota,” ujar Alredo di lokasi kegiatan.
Ketika ditanya mengenai potensi konflik lokal di Mimika, Alredo menekankan bahwa kesiapsiagaan adalah nafas rutin kepolisian, bukan sekadar respons spontan saat api kerusuhan telah memercik.
“Latihan yang dilakukan itu bukan cuma dalam rangka kalau ada mau demo atau tidak, tapi ini untuk menunjukkan kita ini selalu siap. Situasi damai, situasi tidak baik pun, kita harus selalu siap. Sehingga latihan ini tetap harus dilakukan dengan berjangka. Jadi bukan karena mau ngadapin ada situasi masalah dulu, kita baru latihan untuk mensimulasikan kalau masalah itu terjadi, tidak. Tapi ini memang latihan yang memang dilakukan untuk menunjukkan kesiap-siagaan kita dalam setiap waktu,” kata Alredo.
Sistem Pengamanan Kota dirancang sebagai payung prosedur standar Polri untuk menjamin stabilitas, melindungi keselamatan jiwa dan harta benda, serta memastikan kebebasan menyampaikan pendapat tetap mengalir di koridor hukum dan pemenuhan hak asasi manusia.
Di balik riuk asap dan langkah boots yang menderap tanah, latihan ini memadukan tiga pilar kekuatan: Polres Mimika, Batalyon B Sat Brimob Polda Papua Tengah, serta Pasukan III Korbrimob Polri.
Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Jermias Rontini, menilai keterpaduan antar-satuan ini menjadi cermin dari standar operasional prosedur yang akan terus diasah menghadapi dinamika sosial di Papua.
“Jadi, hari ini rekan-rekan menyaksikan bagaimana latihan terpadu kita dengan Brimob. Dari Polres Mimika dengan Brimob, di sini Brimob itu ada dua satuan: Organik Yon B yang berada di bawah Sat Brimob Polda Papua Tengah, dan Pas III Brimob yang berada di bawah Korps Brimob. Jadi di sini ada dua satuan Brimob,” tutur Jermias.
Jermias menambahkan, setiap langkah penanganan di lapangan akan selalu diselaraskan secara fleksibel dengan kearifan serta realitas sosial masyarakat setempat.
“Terlihat dari keterpaduan latihan ini, Teman-teman bisa lihat. Seperti inilah mekanisme kita penanganan unjuk rasa yang beraksi... berakhir ricuh, sesuai SOP yang kami miliki. Tahapan-tahapannya tadi Rekan-rekan sudah lihat, terakhir dengan penembakan. Tadi ada yang kaget enggak? Kalau ada yang kaget berarti besok jangan hidup di lingkungan militer,” selorohnya.
“Ke depan, latihan ini akan kita giatkan terus untuk membiasakan anggota kita dengan prosedur latihan ini. Ketika terjadi insiden yang ini, protapnya seperti itu. Langkah-langkah dan tahapannya. Tentunya kita sesuaikan dengan kondisi masyarakat yang kita hadapi. Kalau masyarakat pakai panah, kita tidak full seperti protap, tapi tahapannya seperti itu penanganannya,” pungkas Kapolda.
Melalui olah taktis ini, kepolisian berupaya memastikan bahwa ketertiban di Mimika tidak berdiri di atas kerentanan, melainkan ditopang oleh kesiapan personel yang terukur dan terencana.
(*)
Editor : Lucky Ireeuw