CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Keterbatasan akses informasi dan jaringan komunikasi di wilayah pedalaman Papua Tengah menghambat upaya mitigasi konflik.
Kondisi geografis ini membuat imbauan keamanan dari aparat keamanan sering kali tidak sampai ke telinga masyarakat di pelosok.
Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Jermias Rontini, menyatakan bahwa jajaran polres bersama pemerintah daerah setempat sebenarnya telah mengeluarkan imbauan resmi agar warga menjauhi titik-titik rawan konflik.
Namun, di lapangan, masih ada warga yang terjebak di zona bahaya. Menurutnya, jatuhnya korban di wilayah konflik kerap terjadi bukan karena warga sengaja mengabaikan peringatan. Melainkan, karena mereka terisolasi dari informasi.
Kesenjangan akses digital ini menjadi tantangan serius bagi kepolisian di wilayah-wilayah seperti Intan Jaya, Ilaga (Puncak), Mulia (Puncak Jaya), Deiyai, dan Dogiyai.
Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang dengan mudah memperbarui informasi lewat internet, warga di pedalaman masih minim perangkat dan jaringan telekomunikasi.
“Tidak semua masyarakat melek teknologi untuk mengakses informasi melalui internet atau media sosial,” jelas Jenderal Jermias Rontini, Selasa 14 Juli 2026.
Kini, Polda Papua Tengah mengubah strategi pendekatan. Aparat di lapangan diinstruksikan melakukan patroli dialogis dengan mendatangi langsung pemukiman warga secara door-to-door untuk menyampaikan peringatan keamanan secara lisan dan persuasif.
Langkah ini diambil guna memastikan perlindungan yang merata dan mencegah terjadinya tindakan kriminal di tengah ketegangan wilayah.
Patroli rutin secara langsung diharapkan dapat menjembatani keterbatasan teknologi komunikasi di daerah-daerah konflik tersebut.
(*)