Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Alarm bagi Orang Tua! Kasus Anak di Mimika Soroti Pentingnya Kedekatan Emosional

Wahyu Welerubun • 2026-02-22 12:18:51

Ilustrasi. (ISTIMEWA)
Ilustrasi. (ISTIMEWA)

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA-Kasus tragis yang menimpa seorang anak di Mimika baru-baru ini menjadi alarm keras bagi para orang tua. Korban dilaporkan meninggal dunia di rumah sakit setelah melakukan aksi nekat mengakhiri hidup di kediamannya.

Peristiwa bermula saat korban diminta oleh ayahnya untuk belajar. Namun, korban justru mengurung diri di kamar. Tak lama kemudian, orang tua korban menemukan sang anak dalam kondisi kritis dengan leher terlilit handuk dan tergantung di rak besi.

Meski sempat mendapatkan perawatan intensif, nyawa korban tidak tertolong.

Tragedi ini menyoroti betapa krusialnya menjaga kesehatan mental anak serta membangun kedekatan emosional sejak dini.

Psikolog muda di Mimika, Dwi Gilda, menjelaskan bahwa gangguan mental pada anak sering kali dipicu oleh akumulasi masalah yang tidak tersampaikan. Beberapa faktor utama meliputi:

Perundungan (bullying) di lingkungan sekolah, ketidakharmonisan di dalam rumah tangga, tekanan ekonomi yang berdampak pada psikologis keluarga.

"Anak-anak usia dini umumnya belum memiliki kemampuan untuk meregulasi emosi dengan baik. Mereka cenderung berpikir pendek. Ketika emosi menumpuk dan tidak ada tempat bercerita, mereka bisa memilih jalan pintas yang fatal," ujar Dwi Gilda saat ditemui, Sabtu 21 Februari 2026 malam.

Ia mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun. Anak yang biasanya ceria namun tiba-tiba menjadi murung, pendiam, atau malas saat diminta melakukan sesuatu, bisa jadi sedang mengalami tekanan mental.

*Kehadiran Sosok Orang Tua vs Pemenuhan Materi*
Dwi menekankan bahwa banyak orang tua terjebak pada pemenuhan kebutuhan finansial namun mengabaikan kebutuhan emosional terhadap anak.

Fenomena fatherless dan motherless, di mana orang tua ada secara fisik tapi absen secara peran menjadi ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak.

"Banyak orang tua merasa sudah memberikan segalanya karena kebutuhan materi terpenuhi atau anak diberi gadget agar tenang. Padahal, anak tidak butuh barang mewah, mereka butuh sosok yang hadir dan mengerti mereka," tambahnya.

Penggunaan gadget tanpa pengawasan juga dinilai berisiko karena anak bisa terpapar konten negatif atau perilaku kasar di dunia maya yang memperburuk kondisi mental mereka.

*Tantangan Layanan Psikologi di Timika*
Salah satu kendala besar di Mimika adalah minimnya fasilitas kesehatan mental khusus anak. Dwi Gilda mencatat bahwa kesadaran masyarakat untuk berkonsultasi ke psikolog masih rendah karena dianggap mahal atau tidak penting.

"Di Timika belum ada psikolog khusus anak yang menetap. Akibatnya, jika ada masalah serius, anak harus dibawa ke luar kota. Itu pun jika orang tuanya memiliki waktu dan biaya," ungkapnya.

*Solusi dan Langkah Preventif*
Untuk mencegah kejadian serupa, Dwi menyarankan beberapa langkah bagi orang tua dan komunitas di Mimikaz

Yang pertama observasi aktif. Menurutnya, sebagai orang tua wajib untuk mengamati perubahan sikap anak dan cari tahu penyebabnya dengan pendekatan yang lembut.

Kedua, komunikasi dua arah. Menurut Dwi, orang tua harus menciptakan ruang aman agar anak merasa nyaman bercerita tanpa merasa dihakimi.

Ketiga, edukasi parenting. Dwi berpendapat bahwa di Mimika perlu adanya seminar atau komunitas parenting yang mudah diakses, misalnya melalui Zoom, agar orang tua yang sibuk tetap bisa belajar cara membangun karakter anak.

Keempat, prioritas mental "Mencari uang itu penting untuk finansial, tapi kesehatan mental anak jauh lebih berharga," tutup Dwi.

Tragedi ini diharapkan menjadi titik balik bagi seluruh elemen masyarakat di Mimika untuk lebih peduli pada kesehatan mental generasi muda, dimulai dari lingkaran terkecil, yaitu keluarga. (*)

Editor : Elfira Halifa
#Anak Bunuh Diri #mimika #Ceposonline.com