CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Dampak fenomena El Nino yang memicu kekeringan berkepanjangan mulai menghantam lumbung pangan di Provinsi Papua Selatan.
Ribuan hektare lahan sawah di sejumlah sentra produksi padi utama di Kabupaten Merauke dilaporkan mengalami gagal panen setelah kehilangan pasokan air yang memadai.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Selatan, Paino, mengungkapkan bahwa kondisi terparah terjadi secara merata di kawasan-kawasan sentra pertanian utama, meliputi Distrik Kurik, Semangga, Tanah Miring, hingga Malind.
Menurut Paino, kelangsungan hidup tanaman padi sangat bergantung pada ketersediaan air, terutama dari fase pertumbuhan hingga menjelang panen. Lahan yang tanamannya telah berusia sekitar dua bulan dan mulai mengeluarkan bulir dinilai masih memiliki harapan untuk diselamatkan.
Sebaliknya, padi yang baru menginjak usia satu bulan dan diterpa kekeringan panjang dipastikan mengalami kegagalan total.
"Kalau sawah padi itu ditanam usia dua bulan dan sudah keluar bijinya, kemungkinan masih ada harapan untuk panen. Tetapi kalau masih satu bulan, kemudian dua bulan ke depan tidak ada air, sudah dipastikan tidak akan panen," ujar Paino di Merauke, Kamis (5/11/2026).
Berdasarkan pemantauan langsung di lapangan, banyak areal persawahan yang kini telah kering kerontang. Meskipun data pasti mengenai total luas lahan terdampak masih dalam proses pendataan lanjutan, diperkirakan angka kerugian mencapai ribuan hektare.
Kendati demikian, secercah harapan masih tersisa di beberapa titik. Di Distrik Semangga, misalnya, sejumlah areal persawahan yang ditanam bertepatan dengan kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kini mulai memasuki masa panen.
Sementara itu, wilayah Wanam juga dilaporkan masih memiliki sebagian kecil areal yang dapat diandalkan.
Krisis kekeringan ini turut memukul ketersediaan gabah di tingkat petani serta gudang-gudang penggilingan padi (Rice Milling Unit / RMU) di Semangga, yang kini dilaporkan kosong.
Sebagai langkah antisipasi untuk mengamankan ketahanan pangan hingga akhir tahun, Perum Bulog bergerak cepat mendatangkan tambahan pasokan sekitar 5.000 ton beras dari luar Papua Selatan. Langkah ini melengkapi sisa stok sebelumnya yang berada di kisaran 1.800 ton.
“Di gudang-gudang atau di RMU memang sudah tidak ada beras, gabah juga sudah tidak ada. Kita tinggal menunggu kalau memang nanti hujan di bulan November, berarti akan ada panen,” jelas Paino.
Di tengah bayang-bayang penurunan produksi lokal, harga beras di pasaran sejauh ini terpantau masih stabil. Stabilitas harga tersebut dijaga berkat intervensi Bulog yang aktif menggelontorkan cadangan stok manakala harga mulai menunjukkan tren kenaikan.
"Kalau harga sudah mulai naik, Bulog mengeluarkan stok yang ada. Kalau tidak dikeluarkan, tentu harga bisa naik. Karena itu, Bulog meminta izin kepada Bupati Merauke dan Gubernur untuk mendatangkan stok beras dari luar," pungkasnya. (*)
Editor : Jimianus Karlodi