Antre Berjam-jam di Bawah Terik Matahari, Warga Amunkay Belum Tentu Dapat Minyak Tanah

Yulius Sulo • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 13:45 WIB
Warga Kampung Amunkay, SP 8 Tanah Miring saat antre minyak tanah, Rabu  (24/9/2026).(CEPOSONLINE.COM/SULO)
Warga Kampung Amunkay, SP 8 Tanah Miring saat antre minyak tanah, Rabu  (24/9/2026).(CEPOSONLINE.COM/SULO)  

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE - Masyarakat Kampung Amunkay, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, rela mengantre di bawah terik matahari untuk mendapatkan minyak tanah di salah satu pangkalan yang berada di kampung tersebut.

Pantauan media ini, antrean panjang didominasi kaum ibu. Di bawah terik matahari,  mereka datang dengan membawa jeriken berbagai ukuran, mulai dari 5 liter, 10 liter hingga 20 liter.

Untuk jeriken ukuran 5 liter, sebagian warga bahkan membawa hingga lima jeriken. Sementara warga yang menggunakan jeriken ukuran 20 liter umumnya hanya membawa satu jeriken.

Antrean tersebut dilakukan warga untuk mendapatkan minyak tanah yang menjadi salah satu kebutuhan penting rumah tangga, terutama untuk keperluan memasak.

Salah seorang warga, Siti Kohijah, mengatakan minyak tanah masih menjadi pilihan utama masyarakat karena semakin sulit mendapatkan kayu bakar di sekitar kampung.

“Sekarang pakainya minyak tanah, karena untuk kayu bakar sulit kita dapat,” katanya.

Menurut Siti, warga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih dapat menggunakan LPG sebagai alternatif. Namun, harga LPG yang harus dibeli tanpa subsidi dinilai cukup mahal bagi sebagian masyarakat.

“Kalau yang mampu bisa membeli LPG, tetapi harganya juga cukup mahal karena tidak mendapatkan subsidi pemerintah,” ujarnya.

Persoalan lain yang dikeluhkan warga adalah ketidakpastian mendapatkan minyak tanah meskipun sudah mengantre cukup lama.

Siti mengaku, warga terkadang sudah menghabiskan waktu untuk mengantre, tetapi tidak mendapatkan minyak tanah karena stok di pangkalan telah habis sebelum seluruh warga terlayani.

“Kita sudah antre panjang begini, tapi kadang kita tidak dapat. Karena saat sampai, minyak sudah habis,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat warga berharap pasokan minyak tanah ke pangkalan dapat lebih terjamin, sehingga masyarakat tidak harus berulang kali mengantre tanpa kepastian memperoleh kebutuhan bahan bakar untuk memasak. (*)

Editor : Elfira Halifa
Merauke Ceposonline.com Minyak tanah