CEPOSONLINE.COM, MERAUKE-Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke menegaskan pentingnya penerapan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Tata Laksana Gizi Buruk Terintegrasi di seluruh puskesmas sebagai upaya menekan angka stunting, gizi buruk, hingga kematian balita.
Berdasarkan data tahun 2025, prevalensi stunting di Kabupaten Merauke tercatat 17,4 persen atau sebanyak 1.462 balita.
Angka tersebut memang sudah mendekati target nasional sebesar 14 persen, namun jumlah kasusnya masih menjadi perhatian serius.
"Kalau dipersentase memang sudah mendekati target nasional, tetapi kalau dilihat dari jumlahnya masih cukup banyak, yakni 1.462 balita," ujar Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat pada Dinkes Kabupaten Merauke Winarti, ditemui Sabtu (11/7/2026).
Selain stunting, kasus gizi buruk di Merauke tercatat sebanyak 152 balita atau 1,8 persen dari total balita usia 0-59 bulan.
Sementara gizi kurang mencapai 506 balita atau 6 persen, dan wasting (kurus) sebanyak 658 balita atau 7,8 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat berkaitan dengan kasus balita sakit. Anak yang mengalami gizi buruk lebih mudah terserang penyakit, sedangkan balita yang sering sakit berisiko mengalami penurunan status gizi hingga berujung pada gizi buruk maupun stunting.
Karena itu, Kementerian Kesehatan mengintegrasikan program MTBS dengan tata laksana gizi buruk agar penanganan balita di fasilitas kesehatan dapat dilakukan secara menyeluruh.
"Kalau tidak tertangani dengan baik, kondisi ini bisa mengakibatkan kematian bayi dan balita maupun meningkatkan angka stunting”
“Karena itu MTBS dan gizi buruk terintegrasi menjadi program prioritas nasional," jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa kasus gizi buruk di Merauke tersebar di seluruh distrik dan tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan pangan.
Meski Merauke dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, masih banyak keluarga yang belum menerapkan pola makan bergizi seimbang.
"Menu gizi seimbang tidak harus mahal. Yang penting ada sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Namun masih banyak keluarga yang belum memahami penyusunan menu seperti itu," katanya.
Selain pola makan, sejumlah faktor lain turut berkontribusi terhadap terjadinya gizi buruk, antara lain penyakit infeksi, kelainan jantung bawaan, tuberkulosis (TBC), hingga kondisi sosial keluarga.
Banyak kasus ditemukan pada anak yang diasuh oleh keluarga selain orang tua kandung, seperti nenek, kakak, atau keluarga lain karena ibunya meninggal atau alasan tertentu. Kondisi ekonomi yang terbatas juga menyebabkan kebutuhan gizi anak, termasuk pemberian susu formula, tidak dapat dipenuhi secara optimal.
"Kami juga melihat cukup banyak kasus pada anak asuh atau anak yang tidak dirawat langsung oleh ibunya. Selain itu, anak dalam keluarga dengan jumlah yang banyak juga berpotensi mengalami kurang perhatian dalam pemenuhan kebutuhan gizinya," tambahnya. (*)
Editor : Elfira Halifa