Sempat 158 Kasus Sehari, ISPA di Mappi Mulai Turun Usai Hujan

Yulius Sulo • Dipublikasikan Kamis, 5 November 2026 | 07:53 WIB
Ilustrasi. (GEMINI ai)
Ilustrasi. (GEMINI ai)

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE-Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Mappi sempat mengalami lonjakan cukup tinggi pada pekan terakhir Oktober 2026.

 

 Jumlah kasus harian bahkan mencapai 158 kasus pada 26 Oktober, di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan.

 

Namun, memasuki November, jumlah kasus ISPA mulai menunjukkan tren penurunan. Kondisi ini dipengaruhi hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir sehingga membantu memperbaiki kualitas udara di wilayah tersebut.

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi, dr. Ronny Herry Tombokan, mengatakan lonjakan kasus ISPA mulai terjadi pada 26 Oktober dan bertahan hingga akhir bulan. Pada periode tersebut, jumlah kasus harian masih berada di atas 150 kasus.

 

“Yang tertinggi itu 158 pada 26 Oktober. Lonjakan cukup tinggi mulai tanggal 26 Oktober dan stabil sampai akhir Oktober, masih di atas 150-an,” ungkap dr. Ronny kepada Ceposonline.com di Merauke, Kamis (5/11/2026). 

 

Memasuki November, jumlah kasus mulai menurun. Pada 1 November tercatat 54 kasus, kemudian kembali meningkat menjadi 135 kasus pada 2 November. Sementara pada 3 November, jumlah kasus turun menjadi 98.

 

Meski belum kembali ke kondisi normal, tren penurunan tersebut menjadi indikasi membaiknya situasi kesehatan masyarakat seiring berkurangnya kabut asap.

 

“Memasuki November, tanggal 1 turun cukup jauh menjadi 54. Kemudian tanggal 2 naik lagi, mungkin karena akumulasi, menjadi 135. Tetapi tanggal 3 turun menjadi 98. Jadi memang belum normal, tetapi sudah ada tren penurunan,” jelasnya.

 

Menurutnya, hujan yang turun selama beberapa hari terakhir turut membantu memperbaiki kualitas udara. Karena itu, pihaknya berharap hujan terus turun sehingga dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat semakin berkurang.

 

Selama periode lonjakan ISPA, Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi juga melakukan langkah antisipasi dengan membagikan masker dan memberikan edukasi kepada masyarakat.

 

Masyarakat diimbau sedapat mungkin mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus beraktivitas di luar, warga diminta menggunakan masker. Sementara masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan diharapkan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.

 

“Kami aktif memberikan edukasi kepada masyarakat supaya kalau beraktivitas di luar sedapat mungkin jangan. Tetapi kalau harus di luar, gunakan masker. Kalau sudah sakit, segera ke fasilitas kesehatan,” katanya.

 

Untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya kasus, Dinas Kesehatan telah menyiapkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Mappi, mulai dari rumah sakit, 19 puskesmas hingga puskesmas pembantu (pustu).

 

Kesiapan tersebut meliputi tenaga kesehatan, obat-obatan, alat medis serta kebutuhan penanganan pasien yang mengalami gangguan pernapasan.

 

Termasuk penyediaan nebulizer untuk pasien yang mengalami sesak napas serta oksigen. Ketersediaan oksigen di Kepi juga dipastikan dapat membantu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan.

 

Selain itu, setiap puskesmas telah memiliki mesin oxygen concentrator untuk mendukung penanganan pasien.

 

“Kalau orang sesak napas, kita pastikan alat kesehatan terkait nebulizer maupun oksigen tersedia. Kebetulan ada oksigen di Kepi sehingga bisa menyuplai kebutuhan. Setiap puskesmas juga memiliki mesin oxygen concentrator,” terangnya.

 

Ia memastikan, hingga saat ini lonjakan kasus ISPA akibat kabut asap belum menimbulkan korban meninggal dunia. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dan menjaga kesehatan selama kondisi udara belum sepenuhnya normal.

 

Terkait sumber kabut asap yang menyelimuti wilayah Mappi, dr. Ronny menyebutkan memang terdapat kebakaran di wilayah setempat. Namun, berdasarkan informasi yang diterima dalam rapat koordinasi bersama pihak bandara, terdapat pula dugaan kiriman asap dari luar wilayah Mappi, termasuk Merauke dan Boven Digoel.

 

Kabut asap tersebut sempat berdampak pada operasional penerbangan di Kepi. Bandara dilaporkan sempat ditutup selama lebih dari satu minggu, tetapi kini telah kembali beroperasi normal. (*)

Editor : Elfira Halifa
asap MAPPI karhutla