Waspadai Kematian Mendadak Anak Muda Saat Berolahraga

Abdel Gamel Naser • Dipublikasikan Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:31 WIB
Ilustrasi. (GEMINI AI)
Ilustrasi. (GEMINI AI)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA -  Kematian mendadak usai berolahraga umumnya lebih sering diidentifikasikan dengan orang dewasa akibat serangan jantung. Namun, ketika peristiwa serupa menimpa anak-anak dan remaja, dampaknya meninggalkan duka mendalam sekaligus memicu pertanyaan penting mengenai keamanan aktivitas fisik di usia muda. 

 

“Kematian mendadak pada usia muda umumnya tidak disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah jantung seperti yang sering terjadi pada orang dewasa. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah kelainan jantung bawaan atau gangguan struktur jantung yang sudah ada sejak lahir, tetapi belum terdeteksi,” jelas Pakar Kardiologi dari Rumah Sakit Spesialis KPJ Tawakkal Malaysia, Dr. Zulhilmi Yaakob dilansir Jawapos.com.

 

Zulhilmi menjelaskan, beberapa gangguan tersebut di antaranya meliputi hypertrophic cardiomyopathy, atau penebalan otot jantung, serta arrhythmogenic right ventricular cardiomyopathy atau jaringan otot jantung yang sebagian digantikan oleh lemak dan jaringan parut.

 

Pakar Kardiologi dari Rumah Sakit Spesialis KPJ Tawakkal Malaysia, Dr. Zulhilmi Yaakob. (Istimewa). Problemnya, lanjut Zulhilmi, kondisi tersebut kerap tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga anak atau remaja bisa tampak sehat dan aktif berolahraga. Guna mengantisipasi risiko fatal, lanjutnya, orang tua diminta memperhatikan riwayat kesehatan keluarga, seperti adanya kasus kematian mendadak sebelum usia 50 tahun.

 

"Keluhan anak seperti pingsan tanpa sebab atau jantung berdebar tidak normal juga tidak boleh diabaikan," katanya. Pemeriksaan lanjutan seperti EKG atau ekokardiogram dapat dilakukan sesuai anjuran tenaga medis.Selain pencegahan dari sisi kesehatan, kesiapan sekolah dan penyelenggara kegiatan juga memegang peranan krusial. Sekolah tidak hanya dituntut menyediakan fasilitas olahraga, tetapi juga sistem darurat yang memadai.

 

Guru dan pelatih perlu dibekali pelatihan bantuan hidup dasar (Basic Life Support) termasuk RJP atau CPR, serta penyediaan alat kejut jantung otomatis (Automated External Defibrillator / AED).

 

Dengan deteksi dini, kewaspadaan keluarga, serta kesiapan fasilitas darurat di sekolah, risiko fatal dapat diminimalkan sehingga aktivitas olahraga tetap menjadi sarana efektif dalam membangun generasi yang sehat secara fisik dan mental. Pada akhirnya, risiko gangguan jantung bukan alasan untuk melarang anak dan remaja berolahraga tanpa dasar medis. Aktivitas fisik tetap berperan penting dalam mendukung kesehatan tubuh, perkembangan fisik, dan kesejahteraan mental.

 

Upaya pencegahan sebaiknya dilakukan melalui pendekatan yang seimbang. Orang tua perlu mengetahui riwayat kesehatan keluarga dan mendengarkan keluhan anak. Tenaga medis perlu melakukan evaluasi berdasarkan kebutuhan, sedangkan sekolah dan pelatih harus memastikan kegiatan berlangsung dengan prosedur keselamatan yang memadai.

 

Keselamatan olahraga merupakan tanggung jawab bersama. Deteksi dini, edukasi mengenai tanda bahaya, dan kesiapan memberikan pertolongan darurat dapat membantu menciptakan lingkungan olahraga yang lebih aman bagi anak dan remaja.

 

Bagi yang tertarik untuk melakukan konsultasi terkait hal ini, dapat menghubungi nomor +62 877-7427-5785 atau Instagram @berobatkemalaysia. (*)

Editor : AdminDua
OLAHRAGA