CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Cara orangtua berbicara kepada anak ternyata bukan sekadar soal menyampaikan pesan atau memberi nasihat. Kata-kata yang diucapkan setiap hari dapat memengaruhi suasana hati, kepercayaan diri, hingga cara anak memandang dirinya sendiri dan membangun hubungan dengan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, orangtua terkadang mengucapkan kalimat tertentu ketika sedang lelah, kesal, atau ingin anak segera menuruti perkataan.
Meski terdengar sederhana, ungkapan tersebut dapat membuat anak merasa tidak dipahami, tidak dihargai, bahkan tidak nyaman mengekspresikan emosinya.
Dilansir dari Kompas.com, Psikolog Klinis Dr. Shefali Tsabary mengatakan, kata-kata orangtua memiliki kekuatan besar dan dapat meninggalkan kesan mendalam dalam diri anak.
Karena itu, orangtua perlu lebih berhati-hati memilih kata ketika berkomunikasi dengan anak.
Komunikasi yang tepat bukan berarti orangtua harus selalu berbicara dengan sempurna. Namun, memahami dampak dari setiap perkataan dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih hangat, terbuka, dan saling menghargai.
Berikut tiga kalimat yang sebaiknya dihindari orangtua saat berbicara kepada anak.
1. “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?”
Membandingkan anak dengan saudara kandung atau anak lain kerap dilakukan orangtua dengan tujuan memotivasi. Namun, kebiasaan tersebut justru dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik.
Menurut Dr. Shefali, membandingkan anak dapat memicu rasa rendah diri dan berpotensi menciptakan persaingan yang tidak sehat antarsaudara.
Setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, orangtua sebaiknya memberikan ruang bagi anak untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing.
Daripada mengatakan, “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?”, orangtua dapat menggunakan kalimat yang lebih membangun seperti, “Ayo kita cari cara supaya kamu bisa berkembang sesuai kemampuanmu.”
Dengan pendekatan tersebut, anak tetap mendapatkan dorongan untuk berkembang tanpa merasa dirinya lebih rendah dibandingkan saudara atau anak lainnya.
2. “Karena Ayah atau Ibu bilang begitu.”
Kalimat ini sering digunakan ketika orangtua ingin mengakhiri perdebatan dengan anak.
Namun, menurut Dr. Shefali, ungkapan tersebut dapat membuat komunikasi terhenti karena anak tidak memahami alasan di balik aturan yang diberikan.
Memberikan penjelasan sederhana sesuai usia anak dapat membantu mereka memahami batasan sekaligus membangun rasa percaya kepada orangtua.
Orangtua tidak harus memberikan penjelasan panjang setiap kali membuat aturan. Penjelasan singkat dan mudah dipahami sudah dapat membantu anak memahami alasan di balik keputusan tersebut.
Misalnya, ketika meminta anak tidur lebih awal, orangtua dapat mengatakan, “Kamu harus tidur lebih awal supaya tubuhmu bisa beristirahat dan besok tetap segar.”
Cara ini membuat anak tidak sekadar mengetahui aturan, tetapi juga memahami alasan mengapa aturan tersebut perlu dilakukan.
3. “Berhenti menangis.”
Tangisan merupakan salah satu cara anak mengekspresikan emosi. Namun, ketika anak menangis, orangtua terkadang secara spontan meminta mereka berhenti agar situasi segera tenang.
Padahal, meminta anak berhenti menangis dapat membuat mereka merasa emosinya tidak diterima.
Menurut Children's Hospital of Philadelphia, mengabaikan atau menekan emosi anak tidak membantu mereka belajar mengelola perasaan. Anak justru membutuhkan bantuan untuk mengenali, memahami, dan mengekspresikan emosinya secara sehat.
Dr. Shefali menyarankan orangtua terlebih dahulu mengakui perasaan anak sebelum membantu mereka mencari solusi.
Orangtua bisa mengatakan, “Ibu tahu kamu sedang sedih,” atau “Ayah mengerti kamu kecewa.”
Setelah anak merasa didengar dan dipahami, orangtua dapat membantu mereka menenangkan diri dan mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.
Komunikasi Empati Jadi Fondasi Pengasuhan
Interaksi sehari-hari dengan orangtua menjadi bagian penting dalam proses anak mengenali dirinya, memahami emosi, dan membangun rasa percaya diri.
Karena itu, komunikasi yang penuh empati dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam pengasuhan. Orangtua tidak harus selalu mengatakan hal yang sempurna, sebab kesalahan dalam berkomunikasi merupakan sesuatu yang wajar.
Yang terpenting adalah kesediaan orangtua untuk menyadari dampak dari perkataan yang disampaikan, meminta maaf ketika diperlukan, serta memperbaiki cara berkomunikasi.
Dengan membangun komunikasi yang lebih terbuka dan menghargai perasaan anak, hubungan antara orangtua dan anak dapat tumbuh lebih hangat, aman, dan saling menghargai. (*)
Editor : Elfira Halifa