CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Tim forensik Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Papua mengungkap hasil autopsi luar terhadap jenazah pilot pesawat PT Associated Mission Aviation (AMA), Captain Nicholas F. Gosselin, yang meninggal dalam insiden penembakan di Bandara Ipdeheik, Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis (2/7/2026).
Pemeriksaan dilakukan di RS Bhayangkara Polda Papua pada Jumat (3/7/2026) malam dan disaksikan kerabat korban serta perwakilan maskapai AMA.
Kepala RS Bhayangkara Polda Papua, Kombes Pol. Sebastian Romi, mengatakan tim forensik menemukan sejumlah luka terbuka pada bagian kepala, dahi, pipi kiri, dan area sekitar telinga kanan.
Selain itu, ditemukan luka lecet di kepala bagian kanan serta patah tulang pada rahang atas kiri dan kanan, termasuk patah tulang rahang bawah sisi kanan yang diduga akibat benturan benda tumpul.
"Dari hasil pemeriksaan ditemukan luka terbuka pada pipi kiri yang sesuai dengan karakteristik luka tembak masuk tempel, dengan posisi moncong senjata tegak lurus terhadap permukaan kulit," kata Sebastian kepada wartawan.
Hasil pemeriksaan radiologi (X-ray) menunjukkan proyektil masuk melalui pipi kiri dan keluar di sisi kanan wajah hingga menembus area telinga kanan.
Lintasan peluru tersebut menyebabkan patah tulang pipi kanan serta kerusakan pada dasar tengkorak yang berakibat fatal.
"Peluru masuk dari pipi kiri kemudian keluar melalui sisi kanan wajah. Jalur peluru merusak tulang wajah dan menyebabkan patah pada dasar tengkorak. Cedera itulah yang menyebabkan korban meninggal dunia," ujarnya.
Sebastian menjelaskan, tim forensik hanya melakukan autopsi luar dan tidak melakukan pembedahan organ dalam. Untuk mengetahui lintasan peluru dan kondisi tulang, pemeriksaan dilakukan menggunakan foto rontgen.
Berdasarkan hasil autopsi, penyebab kematian korban adalah luka tembak tempel pada pipi kiri yang menembus hingga telinga kanan sehingga menyebabkan kerusakan berat pada struktur tulang di dalam tengkorak.
Selain luka tembak, tim forensik juga menemukan indikasi adanya kekerasan sebelum penembakan terjadi.
"Dugaan sementara, korban mengalami kekerasan terlebih dahulu sebelum ditembak. Kami menemukan tanda-tanda benturan benda tumpul pada bagian wajah dan kepala. Namun, untuk memastikan rangkaian peristiwa secara utuh masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian," jelasnya.
Menurut Sebastian, dari hasil pemeriksaan hanya ditemukan satu luka tembak pada tubuh korban.
"Kami hanya menemukan satu luka tembak, yaitu pada pipi kiri yang menembus hingga telinga kanan," katanya.
Ia menambahkan, temuan residu atau pecahan mesiu di sekitar luka menguatkan dugaan bahwa korban ditembak dari jarak sangat dekat atau dengan metode luka tembak tempel (contact gunshot wound).
"Adanya residu mesiu di sekitar luka menunjukkan tembakan dilakukan dari jarak sangat dekat. Diameter luka masuk diperkirakan sekitar sembilan milimeter," tutupnya. (*)