CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Sejumlah analis dan ekonom memprediksi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi per 1 April 2026.
Hal tersebut dipicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini berada jauh di atas asumsi APBN, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Dikutip dari radarsolo.jawapos.com, harga minyak mentah acuan Brent tercatat menyentuh level US$115,25 per barel.
Sementara asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 hanya ditetapkan sebesar US$70 per barel.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memprediksi harga Pertamax (RON 92) bakal melonjak ke kisaran Rp13.500 hingga Rp14.500 per liter dari harga Maret sebesar Rp12.390 per liter.
Senada, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, memproyeksikan kenaikan harga BBM nonsubsidi berkisar antara Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter.
"Transmisi efek sampingnya dari BBM bisa ke mana-mana, termasuk ke inflasi pangan yang bisa tembus 6%–7% pada April," jelasnya.
Bhima menilai pemerintah harus segera melakukan realokasi belanja negara. Jika tidak, anggaran berisiko tidak mampu menanggung harga keekonomian BBM bersubsidi, yang pada akhirnya akan membebani keuangan Pertamina.
"Indonesia belum punya mitigasi krisis energi dibanding negara lainnya. Ini disebut quiet before the storm (tenang sebelum badai), terlalu santai dan anggap enteng," tutur Bhima.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi sulit dihindari karena kompensasi yang harus dibayarkan pemerintah kepada PT Pertamina (Persero) melonjak drastis akibat selisih harga keekonomian.
Bhima menilai tanpa adanya realokasi anggaran besar dalam APBN, pemerintah akan kesulitan menanggung selisih harga tersebut.
Jika harga tidak segera disesuaikan, beban finansial akan beralih sepenuhnya kepada Pertamina.
"Risikonya memang Pertamina yang menanggung, dengan cashflow yang bleeding (berdarah)," tambahnya.
Lebih lanjut, Bhima memperingatkan bahwa jika tekanan fiskal terus meningkat, tidak menutup kemungkinan harga BBM bersubsidi juga akan ikut disesuaikan.
Dampak dari kenaikan energi ini diprediksi akan memicu transmisi kenaikan harga di berbagai sektor, terutama pangan.
Ekonom Universitas Airlangga (Unair) Wisnu Wibowo menjelaskan, skema penetapan harga BBM nonsubsidi di tingkat eceran sangat bergantung pada variabel harga acuan dunia dan nilai tukar kurs yang dinamis.
Wisnu meyakini bahwa penyesuaian harga tersebut masih akan berada di bawah angka 10 persen.
Prediksi ini didasarkan pada pemantauan rutin terhadap Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus.
Masyarakat diimbau untuk memperhatikan bahwa harga tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah yang sangat berpengaruh terhadap rantai pasok energi dunia. (*)
Editor : Weny Firmansyah