Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Geram, Ada Spesies Anggrek Asal Papua yang Dipatenkan Negara Lain

Administrator • 2019-03-16 00:29:00
Photo
Photo
Berbagai spesies Anggrek yang dipamerkan dan diperlombakan dalam Lomba Anggrek yang diselenggarakan DPD Perhimpunan Anggrek Indonesia Provinsi Papua di Swissbel Hotel Jayapura, Rabu (13/3) lalu 

Ngobrol Anggrek Bareng Ketua DPD PAI Papua, Ny. Yolanda Tinal, SE

Spesies Anggrek di provinsi Papua kini baru diketahui mencapai 2000 spesies. Namun, diprediksi bahwa spesies Anggrek ini mampu mencapai 5000 spesies lebih yang mana tersebar di 29 kabupaten/kota. Saking banyaknya, sejumlah spesies Anggrek berhasil lolos keluar dan dipatenkan di negara lain.

Laporan: GRATIANUS SILAS

Di sepanjang jalan dari Sentani, Kabupaten Jayapura, hingga ke pusat Kota Jayapura, ratusan spesies Anggrek dapat ditemukan. Tidak heran, sebab, Papua sendiri dinilai sebagai rumah bagi jenis tanaman daerah tropika ini. Semakin jauh menelusuri ke daerah-daerah, baik wilayah pegunungan, rawa, bahkan pesisir, semakin banyak pula ditemui spesies Anggrek yang “aneh.”

Spesies paling sering ditemui ialah Anggrek Besi, Anggrek Kelinci, Anggrek Kribo, dan Anggrek Dendrobium. Spesies inilah yang seringkali dijadikan tanaman hias, dipamerkan, bahkan diperlombakan di ajang nasional maupun internasional.

Secara khusus, Anggrek Besi memang asalnya asli dari Papua dengan tinggi mencapai 4 meter. Spesies Anggrek ini banyak ditemui di Sentani, Kabupaten Jayapura. Spesies Anggrek Kelinci pun tak susah ditemui, di mana paling banyak itu di Manokwari, Papua Barat.

Sedangkan, untuk spesies paling langka, tidak lain ialah Anggrek Hitam. Menurut Ny. Tinal, spesies Anggrek ini bukan hanya langka di Papua, melainkan pula di daerah manapun di Indonesia, bahkan di luar negeri. Tak jarang, masyarakat dari luar daerah dan luar negeri kerapkali meminta spesies Anggrek ini. Namun, tak semudah itu, sebab, spesies langka yang satu ini memang menjadi aset di Papua, sehingga sangat diproteksi.

“Tiap spesies Anggrek memiliki harganya masing-masing. Seperti halnya Anggrek Kelinci dan Anggrek Besi, karena paling sering ditemui, harganya itu relatif lebih murah. Sedangkan, kalau dibandingkan dengan Anggrek Hitam, harganya itu luar biasa mahalnya. Di luar negeri bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta,” jelas Ny. Yolanda Tinal, SE., Ketua DPD Perhimpunan Anggrek Indonesia Provinsi Papua.

Memang, baik spesies yang paling sering ditemui hingga yang paling sulit ditemui harus diproteksi dengan sangat ketat. Bukan tanpa alasan, sebab, Ny. Tinal berkisah bahwa kala ia berpartisipasi dalam APOC (Asia Pasifik Orchid Conference) di Thailand, ia mendapati banyaknya spesies Anggrek Besi dan Anggrek Kribo yang ia yakini asal usulnya dari Papua.

Dugaannya, spesies Anggrek ini dibawa keluar dari Papua, diperbanyak, dipatenkan, untuk kepentingan pameran dan perlombaan tingkat internasional.

Alhasil, adu mulut yang tak terelakkan pun menjadi suatu cerita yang diakui Ny. Tinal membekas di benaknya hingga kini. Pasalnya, ia mengenali benar spesies Anggrek yang sering ia temui di lingkungan hidupnya, namun malah dibantah peserta APOC tersebut, dengan dalih bahwa itu merupakan spesies dari negaranya yang sudah dipatenkan.

“Kami mendapati Anggrek Besi dengan ukuran yang tinggi, lebih dari punya kami. Ketika kami pertanyakan, mereka sebut bahwa itu berasal dari negara mereka dan sudah dipatenkan. Nah, dari situ kami baku adu mulut soal asal-usul anggrek itu,” kisahnya.

Sampai-sampai Sekretaris DPD PAI Papua pun diomelin karena saking kesalnya tanaman Anggrek asal Papua itu tidak diproteksi dengan baik kala itu. Untungnya, lanjut Ny. Tinal bercerita, dewan juri di ajang internasional itu mengetahui perbedaan antara Anggrek Besi yang ia bawa dari Papua dan Anggrek Besi peserta lain di APOC Thailand tersebut.

Juri secara terperinci menjelaskan perbandingan antara Anggrek asli dan hasil diperbanyak berdasarkan daun, rongga mulut bunga, dan warna bunga yang jelas berbeda.

“Punya kami disebut alami, sementara punya mereka dinilai hasil semprotan. Juri ini kelas internasional sehingga tak heran mereka bisa tahu bedanya Anggrek asli dan hasil diperbanyak. Hasil pengujian juri itu membuktikan bahwa itu Anggrek yang mereka klaim dan patenkan dari negara mereka itulah yang hasil diperbanyak alias bukan aslinya,” jelasnya.

Sejak menjadi Ketua DPD PAI Provinsi Papua, Ny. Tinal menjaga ketat spesies Anggrek di Papua sehingga tidak boleh sampai ada satupun spesies yang keluar dan diperbanyak untuk kepentingan apapun. “Kalau saya tahu ada yang bawa spesies Anggrek Papua keluar, saya tangkap!,” tegasnya.(*/wen)

  Editor : Administrator