CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Sepekan terakhir trip pendakian ke Gunung Cycloop sempat menjadi sorotan para pegiat lingkungan.
Pasalnya gunung pendiam yang sempat memuntahkan material di tahun 2019 ini sejatinya bukan gunung yang bebas dikunjungi.
Meski begitu ada salah satu akun di media sosial yakni Healing Japrax justru membuka ruang untuk mengakomodir siapa saja untuk mendaki hingga ke titik air terjun.
Dalam akun ini terdapat 100 lebih peserta yang diartikan ada 100 lebih peserta siap menuju air terjun Cycloop.
Ini memantik protes dari pegiat lingkungan, Julian Howai yang menyebut harus ada tindakan tegas.
"Aturannya sudah jelas, itu bukan gunung yang sama seperti di wilayah Jawa yang setiap akhir pekan selalu ramai didaki orang.
Ini Cycloop yang menyimpan air untuk kebutuhan masyarakat di kabupaten dan kota, jadi naik ke atas juga untuk apa?," sindirnya.
Ia minta lembaga terkait dalam hal ini BBKSDA untuk tidak membiarkan aktivitas pendakian tersebut.
"Cycloop memang tidak ada pintu tapi bukan berarti bebas naik seenaknya.
Kami juga berharap teman-teman disekitar Cycloop bisa mengawasi dan menjaga sama-sama," imbuhnya.
Sementara Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, Johni Santoso meminta untuk masalah ini dikawal.
Pasalnya kondisi Gunung Cycloop saat ini kurang kondusif pasca banjir bandang Maret 2019 lalu.
"Belum lagi akibat gempa baru-baru ini, jangan sampai ada patahan dan bebatuan yang bergeser.
Selain itu gunung ini rentan terjadi bencana hidrometereologi.
Kami meminta aktivitas pendakian tidak dilakukan karena rawan sekali," singkat Kababes. (*)