Pria Keturunan Indonesia Ini jadi Wali Kota di Mississauga, Ontario 

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Rabu, 28 Oktober 2026 | 10:56 WIB
Alvin Tedjo merayakannya bersama para pendukung pada malam pemilihan setelah terpilih sebagai walikota Mississauga. (Mitchell Fox/Metroland)
Alvin Tedjo merayakannya bersama para pendukung pada malam pemilihan setelah terpilih sebagai walikota Mississauga. (Mitchell Fox/Metroland)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Alvin Tedjo, pria keturunan Indonesia yang tumbuh di Kanada, berhasil memenangkan pemilihan Wali Kota Mississauga, Ontario, pada Senin (26/10/2026).

 

Politikus yang sebelumnya menjabat sebagai anggota dewan kota itu mengalahkan petahana Carolyn Parrish dan mantan wali kota Bonnie Crombie dalam persaingan politik yang ketat.

 

Dilansir dari JawaPos.com, kemenangan tersebut menjadi pencapaian penting bagi Tedjo. Sebelum terpilih sebagai wali kota, dia baru menjabat satu periode sebagai anggota Dewan Kota Mississauga. Dia juga pernah gagal dalam pemilihan wali kota pada 2024.

 

Lantas, siapakah Alvin Tedjo, pria keturunan Indonesia yang kini dipercaya memimpin salah satu kota terbesar di Kanada tersebut?

 

Tumbuh di Mississauga Sejak Usia Empat Tahun

 

Alvin Tedjo merupakan putra dari orang tua yang bermigrasi dari Indonesia ke Kanada. Keluarganya menetap di Mississauga ketika dia berusia empat tahun.

 

Sejak saat itu, Tedjo tumbuh dan menempuh pendidikan di Kanada hingga akhirnya meniti karier di pemerintahan dan politik.

 

Kedekatannya dengan pemerintahan kota bahkan telah terbentuk sejak kecil. Tedjo tumbuh di rumah yang menghadap ke arah Balai Kota Mississauga.

 

Kini, tempat yang dahulu menjadi bagian dari pemandangan sehari-harinya itu menjadi pusat pemerintahan yang akan dia pimpin.

 

Ketertarikan Tedjo terhadap politik mulai terlihat ketika masih bersekolah di Father Michael Goetz Secondary School.

 

Dia pernah menjabat sebagai presiden dewan siswa selama dua tahun.

 

Pengalaman tersebut menjadi salah satu awal keterlibatannya dalam kegiatan organisasi dan kepemimpinan sebelum memasuki dunia politik profesional.

 

Lulusan Queen's University dan Harvard University

 

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Tedjo melanjutkan studi di Queen's University di Kingston, Ontario, Kanada.

 

Dia kemudian meraih gelar master dari Harvard University di Amerika Serikat.

 

Latar belakang akademik tersebut menjadi bekal dalam perjalanan kariernya, terutama di bidang kebijakan publik, pendidikan tinggi, dan pemerintahan.

 

Setelah lulus dari perguruan tinggi, Tedjo bekerja di Ontario Undergraduate Student Alliance (OUSA), organisasi advokasi mahasiswa yang memperjuangkan kepentingan mahasiswa dan kebijakan pendidikan tinggi.

 

Kariernya kemudian berlanjut ke pemerintahan Provinsi Ontario.

 

Dia pernah menjadi staf senior bagi empat menteri yang menangani urusan pendidikan tinggi, yakni Glen Murray, John Milloy, Brad Duguid, dan Reza Moridi.

 

Pengalaman itu memberinya kesempatan untuk terlibat dalam proses penyusunan kebijakan dan memahami cara kerja pemerintahan dari dalam.

 

Tedjo selanjutnya bekerja di Sheridan College dan Toronto Metropolitan University.

 

Di kedua institusi tersebut, dia menempati berbagai posisi yang berkaitan dengan urusan publik. Sebelum terjun ke politik elektoral, dia telah mengumpulkan pengalaman di lingkungan pemerintahan, pendidikan, dan advokasi kebijakan.

 

Perjalanan Politik Alvin Tedjo: Sempat Gagal Dua Kali

 

Jalan Tedjo menuju kursi wali kota tidak berlangsung mulus.

 

Sebelum memenangkan pemilihan pada 2026, dia telah mengikuti sejumlah kontestasi politik, termasuk pemilihan tingkat provinsi dan pemilihan pemimpin partai.

 

Pada 2018, Tedjo maju sebagai kandidat Partai Liberal Ontario untuk daerah pemilihan Oakville North—Burlington dalam pemilihan legislatif provinsi. Namun, dia gagal memenangkan kursi tersebut.

 

Dua tahun kemudian, dia mengikuti pemilihan pemimpin Partai Liberal Ontario pada 2020. Dalam persaingan yang diikuti enam kandidat itu, Tedjo menempati posisi kelima.

 

Kemenangan pertamanya dalam pemilihan jabatan publik baru datang pada 2022. Saat itu, dia terpilih sebagai anggota Dewan Kota Mississauga untuk Ward 2 dengan memperoleh sekitar 41 persen suara.

 

Sebagai anggota dewan kota, Tedjo terlibat dalam pembahasan berbagai persoalan perkotaan.

 

Isu perumahan, transportasi umum, dan kebutuhan warga menjadi bagian dari agenda yang dia bawa dalam kiprahnya di pemerintahan lokal.

 

Pada pemilihan sela wali kota Mississauga pada Juni 2024, Tedjo kembali mencoba meningkatkan perannya dalam pemerintahan kota. Namun, dia kalah dari Carolyn Parrish.

 

Tedjo memperoleh sekitar 25 persen suara, sedangkan Parrish meraih sekitar 31 persen. Kekalahan itu belum menghentikan ambisinya untuk memimpin Mississauga.

 

Dua tahun kemudian, Tedjo kembali maju dalam pemilihan wali kota. Kali ini, dia berhasil mengungguli Parrish dan Bonnie Crombie, dua tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam politik lokal.

 

Mengalahkan Petahana dan Mantan Wali Kota

 

Kemenangan Tedjo terbilang menonjol karena dia menghadapi dua pesaing yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Mississauga.

 

Parrish merupakan wali kota petahana, sedangkan Crombie pernah memimpin kota tersebut sebelum terjun ke politik tingkat provinsi sebagai pemimpin Partai Liberal Ontario.

 

Persaingan keduanya bahkan sempat memanas selama masa kampanye. Dalam sebuah debat pada awal Oktober, Parrish menyindir kemungkinan kembalinya Crombie ke pemerintahan kota.

 

Sementara itu, Crombie mengkritik pendekatan kepemimpinan Parrish dan menekankan pentingnya bertemu langsung dengan masyarakat serta meyakinkan investor untuk menanamkan modal di Mississauga.

 

Di tengah persaingan kedua tokoh tersebut, Tedjo membangun kampanye yang semakin mendapat perhatian menjelang hari pemungutan suara.

 

Jajak pendapat Liaison Strategies yang dirilis pada 22 Oktober menempatkannya di posisi kedua dengan dukungan 31 persen, sedikit di belakang Crombie.

 

Namun, hasil pemilihan menunjukkan Tedjo mampu mengungguli kedua pesaingnya dengan selisih suara yang cukup besar.

 

Dalam pidato kemenangannya, Tedjo menegaskan bahwa hasil pemilihan mencerminkan keinginan masyarakat untuk melihat perubahan dalam pemerintahan kota.

 

"Mississauga telah memilih untuk perubahan. Hari ini, Kota Mississauga telah membuat pilihan yang jelas dan bersejarah untuk menuntut perubahan di balai kota," kata Tedjo dikutip dari GlobalNews.

 

Dia juga menyampaikan apresiasi kepada para pesaingnya, termasuk Parrish dan Crombie, serta keluarga, tim kampanye, dan relawan yang mendukung perjuangannya.

 

Tantangan Tedjo Setelah Terpilih

 

Kemenangan dalam pemilihan wali kota menjadi babak baru bagi Tedjo, tetapi pekerjaan besar menantinya.

 

Dia harus menerjemahkan janji kampanye menjadi kebijakan yang menjawab kebutuhan masyarakat Mississauga.

 

Pengalamannya sebagai anggota dewan kota dan staf pemerintahan provinsi dapat menjadi modal untuk menjalankan tugas tersebut.

 

Namun, memimpin seluruh kota tentu membawa tanggung jawab yang lebih luas dibandingkan mewakili satu daerah pemilihan.

 

Crombie, yang mengakui kekalahannya, memberikan ucapan selamat kepada Tedjo. Dia menilai energi dan antusiasme politikus tersebut mampu mendorong masyarakat untuk terlibat dalam menentukan masa depan kota.

 

Sementara itu, Parrish mengakui Tedjo akan menghadapi pekerjaan berat sebagai wali kota. Meski demikian, dia menyatakan bersedia memberikan masukan jika dibutuhkan.

 

Tedjo sendiri menyebut jabatan barunya sebagai tanggung jawab besar. Dia berjanji segera bekerja untuk mewujudkan program yang telah disampaikan selama kampanye.

 

Bagi Tedjo, kemenangan ini bukan sekadar keberhasilan dalam kontestasi politik.

 

Setelah tumbuh di Mississauga sejak usia empat tahun, dia kini akan memimpin kota yang telah menjadi rumah bagi keluarganya selama puluhan tahun.

 

Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa perubahan yang dijanjikannya dapat dirasakan langsung oleh warga. (*)

Editor : Weny Firmansyah
kanada wali kota