1.000 Hari Perang Gaza, 21.000 Anak Tewas dan 800.000 Mengungsi

Elfira Halifa • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 08:48 WIB
Ilustrasi anak-anak di Gaza. (AI)
Ilustrasi anak-anak di Gaza. (AI)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Genap 1.000 hari perang, anak-anak di Jalur Gaza menjadi salah satu kelompok yang menanggung dampak paling berat.

Save the Children menyebut sedikitnya 21.000 anak telah dikonfirmasi tewas, sementara lebih dari 800.000 anak kehilangan tempat tinggal akibat konflik berkepanjangan.

Angka tersebut belum menggambarkan seluruh korban. Save the Children memperkirakan jumlah anak yang tewas kemungkinan lebih tinggi karena masih banyak korban yang diyakini tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.

Dalam peringatan 1.000 hari perang, organisasi kemanusiaan itu mengatakan anak-anak Gaza tidak hanya kehilangan rumah dan sekolah. Mereka juga kehilangan rasa aman, rutinitas, pendidikan dan kesempatan menikmati masa kanak-kanak seperti anak-anak seusianya.

Melansir dari JawaPos, Minggu (30/8/2026), lebih dari 800.000 anak atau sekitar 80 persen populasi anak di Gaza telah mengungsi. Sementara itu, sekitar 625.000 anak usia sekolah kehilangan tiga tahun pendidikan formal akibat perang.

Direktur Regional Save the Children untuk Timur Tengah, Afrika Utara dan Eropa Timur, Ahmad Ahendawi, mengatakan penderitaan anak-anak Gaza merupakan kegagalan dunia dalam melindungi mereka dari dampak perang.

“Setiap hari selama 1.000 hari terakhir, dunia telah mengecewakan satu juta anak di Gaza, dengan tidak campur tangan untuk menghentikan pembunuhan dan melukai anak-anak,” kata Ahendawi.

Anak-anak yang berbicara kepada Save the Children menggambarkan kehidupan mereka yang dipenuhi ketakutan akibat serangan dan perpindahan paksa. Namun, di tengah kondisi tersebut, mereka masih berharap perang segera berakhir dan kehidupan kembali normal.

Amani, seorang anak perempuan berusia 14 tahun, mengatakan dirinya dan anak-anak lain di Gaza hidup dalam ancaman kematian setiap saat.

“Kita bisa mati kapan saja. Aku harap perang berhenti untuk kita,” kata Amani.

Ia juga berharap dapat kembali bersekolah dan menjalani kehidupan secara normal.

“Saya berharap perang berhenti sehingga saya dapat melanjutkan pendidikan di Gaza dan menjalani hak-hak saya sebagai manusia seperti gadis mana pun di negara lain. Ada banyak anak di Gaza yang suaranya tidak didengar,” ujarnya.

Perang selama 1.000 hari membuat satu generasi anak-anak Gaza kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan secara normal.

Save the Children mencatat sekitar 625.000 anak usia sekolah telah melewatkan tiga tahun pendidikan formal. Dampaknya tidak sekadar kehilangan ruang kelas, tetapi juga hilangnya rutinitas, lingkungan belajar dan kesempatan tumbuh dalam kondisi yang aman.

Kondisi tersebut diperparah dengan krisis pangan. Save the Children memperkirakan sekitar 245.000 anak berisiko mengalami atau telah terdampak kekurangan gizi.

Dengan demikian, anak-anak yang selamat dari serangan tetap menghadapi ancaman lain, mulai dari kelaparan, pengungsian, kehilangan pendidikan hingga ketidakamanan yang berpotensi meninggalkan dampak jangka panjang.

Save the Children juga merujuk laporan terbaru Komisi Penyelidikan PBB yang memuat tuduhan bahwa otoritas dan pasukan keamanan Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina.

Menurut organisasi tersebut, laporan itu memuat tuduhan terkait genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang di Gaza.

Save the Children menyerukan gencatan senjata segera dan permanen, pertanggungjawaban atas dugaan kejahatan terhadap anak-anak serta penghentian transfer senjata ke Israel.
Meski gencatan senjata tercapai pada Oktober 2025, dalam laporan yang dikutip tersebut Israel disebut masih melanjutkan serangan di Jalur Gaza.

Setelah 1.000 hari perang, kehancuran Gaza bukan hanya terlihat dari bangunan yang runtuh. Bagi anak-anak, perang berarti kehilangan keluarga, rumah, sekolah, rasa aman dan sebagian besar masa kanak-kanak mereka.

Secara keseluruhan, perang tersebut telah menewaskan lebih dari 73.000 orang dan menyebabkan kehancuran besar di Gaza. Proses pembangunan kembali diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun. (*)

Editor : Elfira Halifa
Palestina perang