"Mama Melahirkan Bukan untuk Dibunuh", Seruan Mahasiswa Intan Jaya yang Menyita Perhatian

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 11:21 WIB
Pamflet “Mama melahirkan bukan untuk dibunuh“ yang dibentangkan dalam aksi demonstrasi di titik Pasar Karang Nabire. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE) 
Pamflet “Mama melahirkan bukan untuk dibunuh“ yang dibentangkan dalam aksi demonstrasi di titik Pasar Karang Nabire. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE) 

CEPOSONLINE.COM,NABIRE-Di antara deretan poster dan spanduk yang dibentangkan dalam aksi damai Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya se-Indonesia (GPMI-I) di titik pasar Karang Nabire, Kamis, (23/7/2026) terdapat satu kalimat sederhana yang berhasil menyita perhatian banyak orang.

“Mama melahirkan bukan untuk dibunuh.”

Kalimat singkat itu terpampang di atas selembar karton putih yang diangkat seorang peserta aksi.

Tanpa banyak kata, pesan tersebut menjadi simbol sekaligus harapan atas situasi yang menurut mahasiswa masih dialami masyarakat sipil di Kabupaten Intan Jaya.

Melalui pamflet itu, massa aksi ingin menyuarakan bahwa setiap ibu melahirkan anak untuk dirawat, dibesarkan, dan diberi kesempatan hidup, bukan untuk menjadi korban kekerasan ataupun kehilangan nyawa akibat konflik.

Pesan kemanusiaan itu menjadi salah satu dari puluhan pamflet yang dibawa peserta aksi. Selain menyerukan penghentian kekerasan terhadap warga sipil, mahasiswa juga menyampaikan tuntutan agar berbagai kasus yang terjadi di Intan Jaya diusut secara adil dan transparan.

Tak hanya itu, mereka juga membentangkan poster bertuliskan “Intan Jaya Darurat dan Krisis Kemanusiaan”, “Segera Adili Pelaku Pembunuhan Gembala di Intan Jaya”, hingga “TNI Polri Stop Kekerasan terhadap Warga Sipil di Kabupaten Intan Jaya.” 

Seluruh pesan tersebut disampaikan sebagai bentuk aspirasi yang mereka tujukan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum.

Rakyat Papua bersama mahasiswa membentangkan pamflet-pamflet itu bukan sekadar alat demonstrasi, melainkan suara hati masyarakat yang mereka wakili. 

Mereka berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, serta seluruh pihak terkait dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan kemanusiaan yang mereka angkat.

Di tengah aksi yang berlangsung damai, kalimat “Mama melahirkan bukan untuk dibunuh” menjadi pengingat bahwa di balik setiap konflik, selalu ada keluarga yang kehilangan, seorang ibu yang berduka, dan anak-anak yang mendambakan hidup dalam rasa aman.

 Bagi para mahasiswa, kedamaian dan perlindungan terhadap warga sipil adalah harapan yang harus terus diperjuangkan melalui cara-cara damai dan sesuai koridor hukum. (*)

Editor : Elfira Halifa
Papua Tengah INTAN JAYA Ceposonline.com