Bupati Dogiyai Bantu Pembangunan Gereja Putaapa Rp706 Juta

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 19:32 WIB
Bupati Dogiyai, Yudas Tebai menyerahkan bantuan uang tunai kepada panitia pembangunan Gereja Katolik Santa Maria Magdalena Putaapa, Paroki Modio, Dekenat Kamuu Mapia, Jumat, (9/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/HUMAS PEMDA DOGIYAI)
Bupati Dogiyai, Yudas Tebai menyerahkan bantuan uang tunai kepada panitia pembangunan Gereja Katolik Santa Maria Magdalena Putaapa, Paroki Modio, Dekenat Kamuu Mapia, Jumat, (9/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/HUMAS PEMDA DOGIYAI) 

CEPOSONLINE.COM, NABIRE- Bagi umat, gereja bukan sekadar bangunan, melainkan tempat untuk berdoa, menguatkan iman, dan membangun kebersamaan. 

Ketika rumah ibadah terdampak bencana kebakaran, kehadiran pemerintah menjadi bagian penting dalam membantu umat kembali memiliki tempat untuk beribadah. Pemerintah Kabupaten Dogiyai pun menyalurkan bantuan dengan total sekitar Rp706 juta untuk pembangunan kembali Gereja Katolik Santa Maria Magdalena Putaapa di Kampung Putaapa, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Jumat (9/10/2026).

Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap umat yang terdampak bencana. 

“Bantuan diberikan dalam dua tahap, yakni Rp400 juta yang sebelumnya disalurkan melalui Dinas Sosial dan sekitar Rp306 juta yang diserahkan pada hari ini,” tutur Bupati Dogiyai kepada media ini saat diwawancarai, Jumat, (9/10/2026).

Yudas menjelaskan, bantuan itu berawal dari laporan masyarakat mengenai sejumlah gereja yang mengalami kebakaran, termasuk gereja di Putaapa dan Megaikebo. Menindaklanjuti laporan tersebut, pemerintah memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan survei untuk mengetahui kondisi dan dampak yang ditimbulkan.

Setelah proses survei dilakukan, pemerintah memutuskan untuk mengambil bagian dalam membantu pembangunan kembali rumah ibadah yang terdampak.

“Kami menerima laporan dari masyarakat bahwa rumah Tuhan mengalami musibah seperti ini. Karena itu, kami perintahkan BPBD untuk melakukan survei. Setelah diketahui dampaknya, kami harus mengambil bagian untuk membantu mereka yang terkena bencana,” ujar Yudas.

Menurutnya, pemerintah harus hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Terlebih, gereja memiliki arti penting dalam kehidupan umat, bukan hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga ruang untuk menguatkan iman dan merawat kebersamaan.

“Kalau kita tidak hadir di sana, berarti sama saja Tuhan tidak memberikan kita berkat. Karena itu, kita harus membantu dan hadir di tengah mereka supaya rumah Tuhan bisa dibangun kembali, sehingga masyarakat dan umat bisa kembali beribadah di tempat semula,” katanya.

Bagi Yudas, bantuan yang diberikan bukan semata-mata tentang besarnya nominal, melainkan manfaatnya bagi umat. 

“Saya harap dana ini dapat digunakan dengan baik agar pembangunan gereja dapat berjalan sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, umat telah memiliki rencana pembangunan dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang tersedia di sekitar kampung, seperti batu dan pasir. Sementara itu, bantuan pemerintah diharapkan dapat memenuhi kebutuhan material lain yang harus didatangkan dari luar daerah.

Karena itu, Yudas mengingatkan umat agar tidak hanya melihat besarnya bantuan, tetapi juga memperhatikan manfaatnya bagi kelanjutan pembangunan rumah ibadah.

“Tolong jangan melihat nilai bantuan ini, tetapi lihatlah manfaatnya. Kami berharap apa yang kami berikan bisa membantu umat membangun kembali rumah Tuhan,” tuturnya.

Kunjungan ke Putaapa juga membawa kenangan tersendiri bagi Yudas. Ia mengaku telah beberapa kali mengunjungi wilayah tersebut, bahkan pernah bermalam bersama masyarakat ketika akses jalan belum terbuka seperti sekarang.

Pengalaman itu menjadi bagian dari kedekatannya dengan masyarakat Putaapa. Dalam kunjungan kali ini, ia kembali bertemu dengan warga sekaligus melihat kehidupan masyarakat yang terus bertumbuh di tengah berbagai keterbatasan.

Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah kehadiran anak-anak sekolah yang datang menyambut rombongan. Bagi Yudas, anak-anak tersebut merupakan generasi penerus yang perlu dipersiapkan melalui pendidikan dan pembinaan sejak dini.

Ia menegaskan, pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga dan gereja juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kehidupan, serta mempersiapkan anak-anak dan kaum muda untuk melanjutkan pelayanan di tengah masyarakat.

“Pendidikan itu bukan hanya di sekolah. Pendidikan dimulai dari keluarga, kemudian di sekolah, dan gereja juga harus berperan. Para pendamping dan pembina anak-anak serta kaum muda perlu mengambil bagian dalam membina generasi berikutnya,” jelasnya.

Yudas berharap gereja-gereja di wilayah terpencil dapat terus menjadi tempat pembinaan bagi anak-anak dan kaum muda. Dengan begitu, keberadaan gereja tidak hanya mendukung kehidupan rohani umat, tetapi juga membantu menyiapkan generasi yang mampu meneruskan pelayanan dan pembangunan di daerahnya.

Menurutnya, generasi yang lebih tua tidak selamanya dapat menjalankan seluruh tanggung jawab pelayanan. Karena itu, anak-anak dan kaum muda perlu dipersiapkan agar kelak mampu meneruskan apa yang telah dibangun oleh para pendahulu mereka.

“Ke depan, generasi berikutnya yang akan melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh orang-orang tua kita sekarang. Karena itu, anak-anak dan kaum muda harus dibina sejak dini agar mereka siap meneruskan pelayanan dan pembangunan gereja,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Yudas juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Putaapa yang telah memberikan dukungan kepadanya dalam pemilihan kepala daerah.

“Terima kasih kepada masyarakat Putaapa yang sudah memberikan suara dan kepercayaan kepada saya. Semoga semua karya dan tugas yang kita lakukan diberkati Tuhan,” ungkapnya.

Bantuan pembangunan gereja tersebut diharapkan dapat membantu umat kembali beribadah dengan nyaman sekaligus menghidupkan kembali peran gereja dalam kehidupan masyarakat. Sebab, membangun kembali rumah ibadah bukan hanya tentang mendirikan bangunan, tetapi juga menjaga ruang bagi umat untuk bertumbuh dalam iman, mempererat persaudaraan, dan membimbing generasi muda.

Menutup sambutannya, Yudas mengajak umat untuk memaknai bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan. Ia berharap bantuan itu dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab demi kepentingan bersama.

“Apa yang Tuhan punya, kita kembalikan kepada Tuhan,” pungkasnya. (*)

Editor : Weny Firmansyah
Dogiyai