Lihai Mainkan Reog, Aksi Pemuda Papua di Biak Tuai Pujian

Ismail Ceposonline • Dipublikasikan Minggu, 8 November 2026 | 20:39 WIB
Anak asli Papua saat bermain Reog di Tasyakuran Kerukunan Keluarga Pati ke 39, di Biak, Minggu (8/11). (Foto: Ismail/CEPOSONLINE.COM)
Anak asli Papua saat bermain Reog di Tasyakuran Kerukunan Keluarga Pati ke 39, di Biak, Minggu (8/11). (Foto: Ismail/CEPOSONLINE.COM)

CEPOSONLINE.COM, ​JAYAPURA - ​Perayaan Tasyakuran ke-39 Kerukunan Keluarga Pati (KKP) di Lapangan Gelanggang Remaja, Minggu (8/11/2026), menyuguhkan pemandangan yang menghangatkan hati. Di antara deretan atraksi kesenian tradisional Jawa, seorang pemuda asli Papua tampil penuh percaya diri dan sangat lihai membawakan tarian Reog.

 

​Aksi memukau sang pemuda sukses mencuri perhatian ratusan pasang mata yang memadati lokasi acara. Bergerak seirama dengan para pemain lainnya, ia menunjukkan bahwa seni dan budaya tradisional mampu menjadi jembatan ampuh untuk merajut kebersamaan lintas suku.

 

​Suasana tasyakuran semakin meriah ketika deretan kesenian khas Jawa Tengah lainnya, seperti kuda lumping dan jaranan, bergantian ditampilkan oleh para generasi muda. Antusiasme masyarakat terlihat jelas dari gemuruh tepuk tangan yang terus menggema di sepanjang acara.

 

​Ketua Panitia Tasyakuran ke-39 KKP, Legiran, mengungkapkan bahwa keterlibatan pemuda asli Papua dalam kelompok kesenian ini bukanlah hal yang kebetulan atau bersifat instan. Menurutnya sudah ada beberapa pemuda Papua yang menaruh minat tinggi dan bergabung secara aktif.

 

​“Betul. Sebenarnya tidak hanya satu, ada beberapa teman Papua yang mau bergabung dengan Trenggo Joyo Putro,” ujar Legiran.

 

​Bagi Legiran, fenomena ini merupakan bukti nyata adanya penerimaan budaya yang berjalan secara natural di tengah masyarakat. Kesenian tradisional seperti Reog terbukti tidak memiliki batasan geografis maupun suku, melainkan menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat ikatan persaudaraan antarwarga.

 

​“Kami ingin sinergi dalam hal kebudayaan,” tambahnya.

​

​Selain menjadi ajang pelestarian budaya, perayaan HUT ke-39 ini juga menjadi momentum konsolidasi penting bagi warga asal Pati dan Jawa Tengah secara luas yang telah lama menetap dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tanah Biak.

 

​Legiran berharap ke depannya Kerukunan Keluarga Pati dapat terus mempererat sinergi dengan pemerintah daerah, baik dalam program pembangunan maupun aksi sosial kemasyarakatan.

 

​“Kami berharap ada sinergi kegiatan, baik yang sifatnya kedaerahan maupun dengan pemerintah daerah. Kami ingin dilibatkan karena kami juga sudah lama ada di sini supaya tidak kelihatan parsial,” tegasnya.

 

​Menapaki usia ke-39 tentu bukan perjalanan yang singkat. Berbagai dinamika dan tantangan telah dilalui paguyuban ini, menjadikan momentum tasyakuran sebagai pelejit solidaritas internal warga Pati untuk terus menebar kontribusi positif.

 

​Pada akhirnya, di bawah langit Lapangan Gelanggang Remaja hari itu, Reog, kuda lumping, dan jaranan hadir lebih dari sekadar tontonan hiburan. Mereka menjelma menjadi simbol indah dari persaudaraan—di mana budaya Jawa dan Papua tumbuh beriringan dalam harmoni. (*)

Editor : Jimianus Karlodi
papua Ceposonline.com Biak Numfor budaya jawa