CEPOSONLINE.COM, BIAK - Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Dr. Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr., mengajak seluruh peserta Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) menjadikan kegiatan tersebut sebagai sarana membangun iman, memuliakan Tuhan, dan mempererat persaudaraan.
Dikatakan semangat memuji Tuhan melalui paduan suara hendaknya terus dipelihara meskipun rangkaian Pesparani telah berakhir.
Pesan tersebut disampaikan Uskup Jayapura setibanya di Biak bersama tim Pesparani dari Provinsi Papua, Jayapura, para juri, serta sejumlah anggota panitia lainnya, Selasa (27/10). Kehadiran mereka merupakan bagian dari persiapan pelaksanaan Pesparani yang dijadwalkan dibuka pada 28 Oktober melalui Misa Kudus yang dipimpin langsung oleh Uskup Jayapura.
Dalam pesannya, Uskup Yanuarius mengharapkan seluruh peserta yang datang dari berbagai provinsi, kota, dan kabupaten dapat memanfaatkan momentum Pesparani untuk memperkuat kehidupan iman melalui nyanyian gerejawi. Memuliakan Tuhan sekaligus menjaga hubungan persaudaraan diantara umat.
Semangat kompetisi tidak menggeser tujuan utama tersebut. Pesparani hendaknya menjadi kesempatan bagi setiap peserta untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperkuat kebersamaan, bukan menjadi ruang untuk saling menyalahkan.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan Pesparani tidak semata-mata ditentukan oleh hasil perlombaan, tetapi juga oleh bagaimana para peserta mempertahankan semangat iman dan persaudaraan selama mengikuti kegiatan.
Selain menekankan makna spiritual Pesparani, Uskup Jayapura juga memberikan perhatian pada keberlanjutan pembinaan paduan suara di lingkungan gereja. Ia berharap para peserta tidak berhenti berlatih setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Setelah kembali ke daerah dan paroki masing-masing, peserta diharapkan tetap aktif dalam kelompok paduan suara serta menghidupkan kegiatan bernyanyi dan memuji Tuhan secara berkelanjutan.
Uskup Yanuarius juga mendorong agar pembinaan koor dilakukan pada semua tingkatan usia, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga kelompok kaum bapak dan kaum ibu. Dengan demikian, keterlibatan umat dalam pelayanan melalui nyanyian gerejawi dapat terus berkembang.
Ia menegaskan bahwa Pesparani seharusnya menjadi bagian dari proses pembinaan iman yang berlangsung terus-menerus, bukan kegiatan sesaat yang hanya menggerakkan umat ketika perlombaan diselenggarakan.
Melalui Pesparani, Uskup Jayapura berharap semangat memuliakan Tuhan, mempererat persaudaraan, dan mengembangkan pelayanan paduan suara dapat terus hidup dalam kehidupan umat Katolik, baik selama kegiatan berlangsung maupun setelah para peserta kembali ke komunitas masing-masing. (*).
Editor : Abdel Gamel Naser