Event Pariwisata 2025, Tantangan di Tengah Efisiensi Anggaran Bukan Halangan

CEPOSONLINE.COM, BIAK – Juli hingga November 2025 mendatang diprediksi akan menjadi panggung semarak bagi pariwisata Biak Numfor, dengan serangkaian event menarik yang siap memikat wisatawan.
Kendati di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang menuntut kreativitas, semangat untuk membangkitkan geliat pariwisata di Bumi Cenderawasih ini tak surut, justru menjadi pemicu inovasi untuk menghadirkan daya tarik yang tak kalah memukau.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran negara, Dinas Pariwisata (Dispar) Biak Numfor tetap optimis untuk menggenjot sektor pariwisata melalui tiga event unggulan yang direncanakan pada tahun 2025.
Kepala Dispar Biak Numfor, Onny Dangeubun, mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan strategi untuk mendorong program strategis nasional dengan fokus pada kreativitas dan inovasi.
Onny Dangeubun menjelaskan bahwa pengembangan pariwisata di Biak tidak hanya berfokus pada daya tarik wisata dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), tetapi juga pada peningkatan kunjungan wisatawan.
Oleh karena itu, pihaknya telah merancang tiga event dengan konsep yang disesuaikan dengan kondisi negara dan daerah, namun tetap memiliki daya tarik nasional.
Event pertama yang akan digelar adalah Festival Biak Munara Wampasi (FBM) pada tanggal 1-4 Juli 2025. Kabar membanggakan, FBM telah ditetapkan sebagai satu-satunya event dari Provinsi Papua yang masuk dalam Kalender Wisata Nusantara.
"Ini menjadi entry point bagi penguatan kunjungan wisatawan di Biak Numfor di tengah tantangan situasi ekonomi saat ini," ujar Onny Dangeubun ditemui di Biak, Kamis (15/5).
Lebih lanjut, Onny Dangeubun menekankan bahwa FBM akan memberikan panggung seluas-luasnya bagi seniman, budayawan, dan pelaku ekonomi lokal Biak.
"Tidak ada kapital fly, tapi alokasi yang disiapkan bisa terdistribusi habis untuk UMKM dan pelaku wisata lokal di Biak. Kita juga menjaga atmosfer bahwa kemajuan kebudayaan dan kemajuan seni di Biak terus berkembang di tengah situasi yang membutuhkan inovasi dan kreativitas," jelasnya.
Pihaknya juga memastikan bahwa perhelatan ini akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi mikro daerah melalui penumpukan modal pada waktu yang bersamaan.
Event kedua adalah Festival Budaya Biak yang direncanakan pada bulan Agustus.
Dispar Biak Numfor saat ini sedang menjalin komunikasi intens dengan Pemerintah Kabupaten Wamena, Papua Pegunungan, untuk membangun pola perjalanan wisata bersama.
Tujuannya adalah agar wisatawan yang berkunjung ke Lembah Baliem yang sudah mendunia juga dapat menikmati Festival Budaya Biak.
"Festival Budaya Biak yang tadinya kita biasanya gelar di April, tapi kita lihat efisiensi dan efektivitasnya bisa dihelat bersamaan dengan event Lembah Baliem di Wamena," kata Onny Dangeubun.
Event terakhir yang akan menjadi daya tarik wisata bahari adalah Yacht Rally 2025.
Biak telah menjadi salah satu pintu masuk dan keluar kapal pesiar (Yacht) di wilayah utara Indonesia sejak tahun 2023, bersama dengan Tual dan Natuna, pasca perhelatan Sail Teluk Cenderawasih.
"Ini sudah dilakukan sejak tahun 2023, dan dari daftar yang sudah masuk kurang lebih 20 kapal Yacht yang akan menjadikan Biak sebagai Pintu Keluar (exit point) dan juga beberapa menjadikan Biak sebagai Entry Point," ungkapnya.
Onny Dangeubun optimis bahwa ketiga event ini akan mendorong fokus pembangunan Papua, terutama dalam transformasi ekonomi biru yang mencakup kemajuan budaya pesisir dan wisata bahari.
"Kita harapkan penyelenggaraan event ini promosi Biak semakin dikenal dan jumlah kunjungan akan semakin tinggi, dengan begitu ekosistem transportasi dan akses ke Biak akan semakin mudah," pungkasnya. (*)



