Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

PDIP Tutup Pendaftaran Calon Bupati dan Wabub Jayapura, Ini 16 Nama yang Mendaftar

P
Proses pendaftaran calon kepala daerah Kabupaten Jayapura di DPC PDIP Jayapura.
Proses pendaftaran calon kepala daerah Kabupaten Jayapura di DPC PDIP Jayapura.

CEPOSONLINE.COM, SENTANI – DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kabupaten Jayapura resmi menutup pendaftaran calon kepala daerah untuk Pilkada 2024.


Advertisement

Pendaftaran ditutup pada Kamis 2 Mei 2024, tepatnya pukul 17.00 WIT.

Sementara pengembalian formulir pendaftaran masih dibuka hingga 4 Mei 2024 mendatang.

Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPC PDIP Kabupaten Jayapura, Nur Khasanah Ali, mengonfirmasi sejumlah nama yang telah terdaftar.

Advertisement

Disebutkan ada 12 kandidat calon Bupati Jayapura dan 4 calon Wakil Bupati Jayapura yang mendaftar di partai pimpinan Megawati Soekarnoputri tersebut.

“Hingga pukul 13.00 WIT, sudah ada 12 kandidat calon bupati dan wakil bupati.”

“Mereka semua datang sendiri, tidak diwakilkan oleh tim suksesnya.”

Advertisement

“Sebab ini sudah keputusan rapat bersama di PDIP Kabupaten Jayapura,” ujar Nur Khasanah.

Kata Nur Khasanah, yang terakhir mendaftar di DPC PDIP Jayapura adalah mantan Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro.

“Demikian, proses selanjutnya ialah verifikasi berkas para pendaftar, sebelum dilanjutkan ke tingkat DPD PDIP Papua,” ujarnya.

Berikut 12 nama kandidat calon Bupati Jayapura dari PDIP:

  1. Alpius Toam
  2. Yohanes Manangsang
  3. Hana Hikoyabi
  4. Ted J. Mokay
  5. Ronald Manoach
  6. Alex Waisimon
  7. Billy Suwae
  8. Orgenes Kaway
  9. Jop Suebu
  10. Hermes Felle
  11. John Wicklif Tegai
  12. Edison Lambe

Baca Juga: Jelang Pilkada Keerom, Piter Gusbager Merapat Ke PDIP dan PPP

Sementara itu, berikut 4 nama kandidat calon Wakil Bupati Jayapura dari PDIP:

  1. Zakarudin
  2. Pardi
  3. Mulyono
  4. Giri Wijayantoro

Nur Khasanah menyebutkan bahwa sudah ada 4 nama yang mengembalikan formulir pendaftaran.

Mereka adalah Hana Hikoyabi, Ted Mokay, Alpius Toam, dan Yap Suebu.

Demikian, dengan waktu tersisa, DPC PDIP Jayapura masih menunggu pengembalian berkas oleh para pendaftar lainnya.

Giri Wijayantoro

Mantan Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro mengaku kembali mencalonkan diri sebagai Calon Wakil Bupati Jayapura karena mendapat kepercayaan dan dukungan masyarakat.

Giri memenuhi janji masyarakat untuk kembali lagi menjadi Wakil Bupati Jayapura.

Giri mengaku optimis bisa menang, apalagi ia  sudah diusung 10 kursi dari DPRD Kabupaten Jayapura, atau setara 50 persen partai politik yang duduk di DPRD Kabupaten Jayapura.

"Target saya harus bisa didukung koalisi yang gemuk, koalisi yang besar di atas 50 persen kursi yang ada di DPRD Kabupaten Jayapura.”

“Oleh sebab itu, saya mendaftar di DPC PDIP Kabupaten Jayapura bergabung dengan koalisi yang ada untuk maju Pilkada.”

“Saya tidak ada keraguan saya pergi untuk kembali dan saya sudah belajar menjadi Wakil Bupati periode sebelumnya," ucapnya.

Soal siapa yang menjadi pasangannya, Giri tidak mau gegabah.

Ia mengaku berkaca pada pengalaman sebelumnya, di mana dalam memilih pasangan tentu harus ada yang chemistry dan sejalan dengan dirinya dalam membangun dan mensejahterakan masyarakat Kabupaten Jayapura. (*)

Advertisement

Artikel Terkait

Pemerintah Buka Donasi untuk Bencana NTT, PDIP: APBN Harusnya jadi Prioritas

Pemerintah Buka Donasi untuk Bencana NTT, PDIP: APBN Harusnya jadi Prioritas

Sikap pemerintah yang membuka donasi untuk bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat kemeriahan acara karnaval mewah peringatan

Di Tengah Semarak HUT RI, PDIP Papua Kirim Doa untuk Korban Gempa di NTT

Di Tengah Semarak HUT RI, PDIP Papua Kirim Doa untuk Korban Gempa di NTT

Suasana haru mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia yang digelar Pengurus DPD PDI Perjuangan Provinsi Papua ber

Peristiwa Kudatuli, Benturan Keras Kehendak Rakyat dan Kepentingan Kekuasaan

Peristiwa Kudatuli, Benturan Keras Kehendak Rakyat dan Kepentingan Kekuasaan

Sabtu, 27 Juli 1996, dicatat sebagai salah satu hari paling kelam dalam sejarah demokrasi Indonesia. 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer