Cak Imin Unggah Teaser Film Dirty Vote ke Medsos, Warganet: Hapus Aja!

CEPOSONLINE.COM – Terkait viralnya film dokumenter Dirty Vote belakangan ini, Calon Wakil Presiden Nomor Urut 1, Muhaimin Iskandar, ikut mengunggah teaser film tersebut melalui akun X @cakiminNow.
Hal itu justru membuat warganet memintanya untuk tak melakukannya karena sudah memasuki masa tenang Pemilu.
Benar saja, per pukul 13.24 WIB, akun X cawapres yang akrab disapa Cak Imin itu mengunggah teaser film Dirty Vote itu sudah menjangkau hingga 8 juta pengguna X.
"Ada yang udah nonton?" tanyanya 21 jam lalu melalui akun X-nya @cakimiNow.
Saat ini, sudah ada 14 ribu pengguna yang men-tweet ulang unggahan Cak Imin tersebut.
Tanggapannya beragam. Salah satunya adalah yang mengarah pada film tersebut diproduksi dengan bekingan salah satu paslon dalam Pemilu.
Hal itu juga sebelumnya sudah diperingatkan warganet.
Mereka bahkan meminta agar unggahan Cak Imin itu dihapus karena akan mengundang reaksi yang menyudutkan pembuat film.
"Filmnya bagus cak, tapi boleh ga dihapus aja?" kata akun X @deaokihardana.
"Kita uda tau kok info film ini dari sumber lain, jangan dirimu yang posting cak, nanti ada tuduhan yang tidak diinginkan," tandasnya.
Sebelumnya, film Dokumenter Dirty Vote yang memuat dugaan kecurangan yang dilakukan dalam Pemilu 2024 menjadi sorotan seusai di rilis pada Minggu (11/2/2024).
Film yang dikupas tiga akademisi Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar itu ternyata diproduksi dengan dana patungan.
Produser Dirty Vote Joni Aswira mengatakan, film ini lahir dari kolaborasi lintas CSO.
Ia mengatakan, dokumenter ini sesungguhnya juga memfilmkan hasil riset kecurangan pemilu yang selama ini dikerjakan koalisi masyarakat sipil.
Biaya produksinya dihimpun melalui crowd funding, sumbangan individu, dan lembaga.
“Biayanya patungan," ujarnya kepada wartawan, Minggu (11/2).
Selain itu, ia mengungkap bahwa film dokumenter ini digarap dengan waktu yang cenderung pendek dibanding film dokumenter lainnya.
"Dirty Vote juga digarap dalam waktu yang pendek sekali sekitar dua minggu, mulai dari proses riset, produksi, penyuntingan, hingga rilis," ungkap Joni. (*)



