Umat Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha Didorong Terlibat dalam Pelayanan Haji, Apa Perannya?

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia berpeluang menjadi ruang kolaborasi masyarakat lintas agama.
Kementerian Haji dan Umrah mendorong keterlibatan umat Kristen, Katolik, Hindu hingga Buddha dalam mendukung pelayanan jemaah haji.
Gagasan ini dinilai dapat menjadi wujud nyata toleransi dan gotong royong di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan pelayanan kepada jemaah haji tidak harus hanya melibatkan umat Islam.
Masyarakat dari berbagai latar belakang agama juga dapat mengambil bagian selama didasari semangat kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.
"Fokus kita adalah memastikan jemaah haji menjadi simbol toleransi bagi umat beragama. Nantinya, petugas-petugas haji dapat melibatkan saudara-saudara kita dari kalangan Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan sebagainya," kata Dahnil, dilansir dari Jawa Pos, Selasa (3/11/2026).
Menurut Dahnil, toleransi tidak cukup diwujudkan melalui sikap saling menghormati. Lebih dari itu, nilai keberagaman perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata, termasuk melalui kerja sama lintas agama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ia mencontohkan Sulawesi Utara sebagai salah satu daerah dengan kehidupan masyarakat yang majemuk. Daerah tersebut dinilai memiliki ruang untuk memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat diwujudkan melalui kerja sama dan kepedulian sosial.
Karena itu, Dahnil mengaku telah meminta jajaran terkait di Sulawesi Utara membuka kesempatan bagi masyarakat Kristen, Katolik, Buddha, dan Hindu untuk ikut mendukung penyelenggaraan ibadah haji.
"Ini menjadi salah satu upaya menghadirkan simbol toleransi, tidak hanya di Sulawesi Utara, tetapi juga di seluruh Indonesia," lanjutnya.



