Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ribuan Pencari Kerja Antre di Job Fair, Tapi Benarkah Efektif Dapat Pekerjaan?

E
Penulis: Elfira Halifa❯
ILUSTRASI PELAMAR KETIKA DIWAWANCARAI.
ILUSTRASI PELAMAR KETIKA DIWAWANCARAI.

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Bursa kerja atau job fair selama ini menjadi salah satu tempat yang diandalkan masyarakat untuk mencari pekerjaan. Ribuan pencari kerja rela mengantre berjam-jam dengan membawa berkas lamaran demi mendapatkan kesempatan bekerja.

Namun, di tengah tingginya antusiasme tersebut, efektivitas job fair mulai dipertanyakan. Jumlah pencari kerja yang datang dalam satu kegiatan sering kali jauh lebih besar dibandingkan posisi yang benar-benar tersedia.

Fenomena itu menjadi sorotan dalam tayangan kanal YouTube Aneh Memang berjudul “Jobs Fair: Ribuan Pencari Kerja, tapi Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?”.

Advertisement

Tayangan tersebut mengkritisi penyelenggaraan job fair yang dinilai tidak selalu memberikan kepastian kepada para pelamar. Mereka yang telah mengikuti proses pendaftaran dan seleksi disebut tidak jarang harus menunggu tanpa kejelasan mengenai hasil lamaran.

Bagi pencari kerja, mengikuti job fair juga membutuhkan biaya. Selain transportasi, pelamar harus menyiapkan dokumen lamaran dan terkadang mengikuti berbagai tahapan administrasi yang ditetapkan perusahaan.

Dilansir dari RadarTuban, masalah muncul ketika proses tersebut tidak diikuti dengan informasi yang jelas mengenai perkembangan lamaran.

Advertisement

Tayangan Aneh Memang juga menyoroti penggunaan kode QR dan portal daring dalam proses pendaftaran. Mekanisme digital tersebut dinilai berpotensi menjadi sarana pengumpulan data pelamar dalam jumlah besar.

Meski demikian, penggunaan sistem digital dalam proses rekrutmen tidak serta-merta membuktikan adanya penyalahgunaan data. Perlu ada bukti serta penjelasan dari perusahaan atau penyelenggara untuk memastikan bagaimana data pelamar digunakan dan dilindungi.

Selain itu, fenomena ghosting dalam proses rekrutmen turut menjadi perhatian. Pelamar yang telah mengikuti tahapan seleksi terkadang tidak memperoleh informasi lanjutan mengenai status lamaran mereka.

Dalam tayangan tersebut, job fair bahkan digambarkan secara kritis sebagai “teater keputusasaan”. Narasi itu merujuk pada kondisi ketika tingginya harapan pencari kerja tidak sebanding dengan kesempatan kerja yang tersedia.

Advertisement

Artikel Terkait

Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Dapat Kerja, Ini yang Dicari Perusahaan

Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Dapat Kerja, Ini yang Dicari Perusahaan

Gelar sarjana selama ini dianggap sebagai tiket untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, di tengah persaingan dunia kerja yang semakin

Wagub Paskalis Ingatkan Sarjana Anak Asli Papua Jangan Pilih-Pilih Pekerjaan 

Wagub Paskalis Ingatkan Sarjana Anak Asli Papua Jangan Pilih-Pilih Pekerjaan 

Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa menegaskan sarjana anak asli Papua agar jangan pilih-pilih pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. 

Pertama, Job Fair Dibuka di Biak, Diikuti 215 Pencaker

Pertama, Job Fair Dibuka di Biak, Diikuti 215 Pencaker

Pemerintah Kabupaten Biak Numfor membuka job fair (bursa kerja), di Hanggar Lanud Manuhua, Rabu (26/8).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer