
CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Karut-marut data pendidikan di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mulai memakan korban. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi tumpuan perbaikan gizi siswa, kini terantuk tembok besar bernama ketidakakuratan Data Pokok Pendidikan atau Dapodik.
Kepala Dinas Pendidikan Mimika, Antonius Welerubun, membongkar adanya indikasi manipulasi data yang membuat distribusi bantuan pangan ini menjadi salah sasaran.
Lubang dalam sistem Dapodik ini terungkap saat realisasi di lapangan menunjukkan disparitas angka yang mencolok.
Antonius menyebut bahwa daftar siswa yang tercatat dalam sistem pusat tidak mencerminkan fakta sosiologis di sekolah-sekolah Mimika. Ada celah antara administrasi dan realita yang berujung pada inefisiensi anggaran negara.
“Sejujurnya data Dapodik tidak akurat. Ada semacam manipulasi. Misalnya, ada murid yang sudah meninggal tapi masih tercatat, atau yang sudah pindah namun datanya belum diperbarui,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Dampaknya bersifat sistemik. Penyiapan logistik makanan yang mengacu pada data usang tersebut menciptakan kekacauan distribusi.
Di beberapa sekolah, porsi makanan berlebih hingga terbuang, sementara di sekolah lain, para siswa justru kekurangan jatah. Ketidakpastian ini merusak esensi program yang dirancang untuk menjangkau setiap anak sekolah.
“Akibatnya, penyiapan MBG ada yang kurang, ada yang lebih. Datanya tidak pasti, sehingga distribusi tidak tepat sasaran,” tegas Antonius.
Keterbatasan wewenang juga menjadi isu krusial. Dinas Pendidikan Mimika mengaku berada dalam posisi administratif yang pasif, di mana fungsi mereka dibatasi hanya pada ranah koordinasi dan fasilitasi infrastruktur pendukung, seperti penyediaan lahan untuk dapur umum.
“Kami hanya bisa berkoordinasi. Kami menyiapkan tempat untuk pembangunan dapur-dapur sementara,” katanya.



