Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Putra Mahkota Iran: Serangan Rudal AS-Israel Akan Ubah Nasib Iran, Klaim Rezim di Ambang Kehancuran

Y

 


Advertisement

Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi
Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, kini angkat bicara menyusul kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Sabtu (28/2/2026).

 

Advertisement

Melansir laporan kantor berita internasional, Pahlavi yang merupakan putra mendiang Shah terakhir Iran dan kini hidup di pengasingan Los Angelas, Amerika Serikat menyebut Republik Islam Iran yang menggantikan rezim pro-Barat ayahnya telah mencapai titik akhir.

 

“Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan segera dibuang ke tempat sampah sejarah,” tulis Pahlavi melalui akun media sosial X miliknya.

Advertisement

 

Ia menilai serangan rudal yang dilancarkan AS dan Israel menjadi momentum besar yang dapat mengubah arah masa depan Iran. 

 

Menurutnya, situasi saat ini membuka peluang bagi perubahan politik yang selama ini diperjuangkan kelompok oposisi di luar negeri.

 

Dalam pernyataannya, Pahlavi juga memperingatkan agar tidak segera menunjuk pengganti Khamenei. 

 

Ia menyerukan militer, aparat keamanan, dan kepolisian agar tidak mempertahankan pemerintahan yang dinilainya tengah runtuh.

 

“Kepada militer, aparat keamanan, dan kepolisian, segala upaya untuk menopang rezim yang runtuh akan berujung pada kekalahan,”ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa kesetiaan aparat seharusnya ditujukan kepada bangsa Iran dan rakyatnya, bukan kepada individu atau sistem pemerintahan tertentu.

 

Pahlavi, yang selama ini memposisikan diri sebagai figur transisi menuju pemerintahan baru, meski belum sepenuhnya mendapat dukungan seluruh kelompok oposisi, juga meminta warga Iran tetap waspada dan bersiap menghadapi kemungkinan perubahan besar.

 

“Waktunya untuk kehadiran besar dan menentukan di jalanan sudah sangat dekat,” katanya.

 

Kini dirinya turut menyerukan persatuan nasional dan menyinggung warisan panjang peradaban Iran, termasuk era pra-Islam, sebagai bagian dari identitas bangsa yang harus dijaga dalam proses transisi mendatang.

 

Sementara itu sejak serangan militer tersebut, situasi di sejumlah kota besar Iran dilaporkan tegang. 

 

Pemerintah meningkatkan pengamanan dan membatasi aktivitas publik guna mencegah potensi kerusuhan serta aksi protes massal.

 

Pengamat politik menilai dinamika ini dapat menjadi titik krusial bagi masa depan Iran, terutama jika tekanan eksternal akibat konflik militer berpadu dengan tekanan internal dari kelompok oposisi dan masyarakat sipil.

 

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas Iran terkait klaim Pahlavi mengenai runtuhnya rezim. 

 

Sementara itu, komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan tatanan geopolitik global. (*).

Advertisement

Artikel Terkait

Eskalasi Konflik di Selat Hormuz Berpotensi Picu Lonjakan Harga Minyak, APBN Indonesia Terancam Tertekan

Eskalasi Konflik di Selat Hormuz Berpotensi Picu Lonjakan Harga Minyak, APBN Indonesia Terancam Tertekan

Meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak global itu dinilai memiliki

Iran Resmi Tutup Selat Hormuz, AS Langsung Balas dengan Serangan Militer Baru

Iran Resmi Tutup Selat Hormuz, AS Langsung Balas dengan Serangan Militer Baru

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz mulai Minggu (12/7) hingga waktu yang belum ditentukan.

Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak

Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak

Harga minyak mentah dunia kembali naik pada perdagangan Rabu (8/7/2026) akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, di tengah meja perundingan perdamaian perang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer