Masyarakat Adat dan TNI-Polri Berjaga Usai Pengibaran Bendera Merah Putih HUT  ke-81 RI di Waropen

Ismail Ceposonline • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 12:48 WIB
Empat anggota TNI/Polri didampingi Empat Pasukan Masyarakat Adat Kirhi-Walani,berjaga  di tiang bendera, usai pengibaran Bendera Merah Putih pada Pelaksanaan HUT RI ke 81 di Lapanngan Elias Paprindey, Senin (17/8). 
(Ceposonline.com/Waropen)
Empat anggota TNI/Polri didampingi Empat Pasukan Masyarakat Adat Kirhi-Walani,berjaga  di tiang bendera, usai pengibaran Bendera Merah Putih pada Pelaksanaan HUT RI ke 81 di Lapanngan Elias Paprindey, Senin (17/8).  (Ceposonline.com/Waropen)

CEPOSONLINE.COM, WAROPEN – Pemerintah Kabupaten Waropen menggelar Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Elias Paprindey, Senin (17/8). 

Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si., bertindak sebagai Inspektur Upacara dalam peringatan kemerdekaan yang berlangsung khidmat sekaligus meriah tersebut.

Meski sejak pagi langit Waropen diselimuti mendung, seluruh rangkaian upacara berlangsung lancar tanpa hujan. Peserta dari unsur pemerintah daerah, DPRK, TNI-Polri, pelajar, organisasi kemasyarakatan, tokoh adat, tokoh agama hingga masyarakat mengikuti jalannya upacara dengan tertib.

Bupati Fransiscus Xaverius Mote memberikan apresiasi kepada seluruh perangkat upacara, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, TNI-Polri, panitia serta seluruh peserta yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan peringatan kemerdekaan tahun ini. 

Menurut Bupati, keberhasilan pelaksanaan upacara menjadi gambaran semangat kebersamaan masyarakat Waropen dalam menghormati perjuangan para pendiri bangsa sekaligus menjaga persatuan Indonesia.

Ada pemandangan berbeda yang menarik perhatian setelah Sang Merah Putih berhasil dikibarkan.

 Sejumlah masyarakat adat Kirihi Walai, salah satu masyarakat adat dari wilayah pedalaman Kabupaten Waropen, tampil mengenakan pakaian adat lengkap dengan membawa busur dan anak panah. 

Mereka kemudian berdiri berdampingan dengan personel TNI dan Polri pada empat sisi di sekitar tiang Bendera Merah Putih.

Pemandangan tersebut menghadirkan kontras yang kuat. Di satu sisi, personel TNI-Polri berdiri dengan perlengkapan pengamanan modern, sementara di sisi lainnya masyarakat adat berdiri membawa busur dan anak panah sebagai bagian dari identitas serta warisan leluhur.

 Namun keduanya berada pada satu titik yang sama: menjaga Merah Putih.

Kehadiran masyarakat adat tersebut menghadirkan pesan simbolik bahwa menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan semata-mata menjadi tanggung jawab aparat keamanan, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa, termasuk masyarakat adat yang sejak turun-temurun hidup dan menjaga wilayahnya.

Pesan itu menjadi semakin kuat mengingat sejumlah wilayah pedalaman Waropen memiliki kondisi geografis yang berbatasan maupun berdekatan dengan kawasan pedalaman Papua yang memiliki dinamika keamanan tersendiri.

 Karena itu, keterlibatan masyarakat adat dalam momentum kemerdekaan dapat dimaknai sebagai penegasan bahwa masyarakat adat merupakan bagian penting dalam menjaga kedamaian, persatuan, serta keutuhan wilayah dalam bingkai NKRI.

Usai rangkaian upacara, formasi masyarakat adat Kirihi Walai bersama TNI-Polri di sekitar tiang bendera menjadi salah satu pusat perhatian peserta.

 Banyak warga dan peserta upacara mengabadikan momentum tersebut karena dinilai menghadirkan gambaran yang kuat tentang pertemuan antara tradisi, negara dan semangat kebangsaan.

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Waropen tahun ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa Merah Putih berdiri di atas kebersamaan seluruh anak bangsa. 

Dari aparat negara hingga masyarakat adat, dari pesisir hingga pedalaman, semuanya memiliki ruang dan tanggung jawab yang sama untuk menjaga Indonesia. (*)

Editor : Agung Trihandono
Waropen hut ri