Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Tangguh Bak Pohon Lolaro, Perempuan Waropen Didorong Jadi Pemimpin Pembawa Perubahan

Ismail Ceposonline • Kamis, 18 Juni 2026 | 19:07 WIB
Ketua DPRK Waropen Yeneke S.K Dippan saat membuka kegiatan Seminar SKPP di Biak, Kamis (18/6) bersama para unsur gabungan organisasi wanita di Waropen. (Ceposonline.com/Ismail).
Ketua DPRK Waropen Yeneke S.K Dippan saat membuka kegiatan Seminar SKPP di Biak, Kamis (18/6) bersama para unsur gabungan organisasi wanita di Waropen. (Ceposonline.com/Ismail).

CEPOSONLINE.COM, BIAK-Sebanyak 76 perempuan dari berbagai organisasi wanita di Kabupaten Waropen berkumpul di Hotel Swissbel Cenderawasih Biak, Kamis (18/6/2026).

 

Mereka hadir untuk mengasah kapasitas kepemimpinan dalam sebuah seminar interaktif yang menghadirkan pembicara nasional Sri Sumahardani serta praktisi Master of Ceremony (MC) Popy Soukota.

 

Mengangkat tema "Kepribadian Sehat, Organisasi Maju, dan Perempuan Berjaya", kegiatan ini dirancang sebagai wadah konkret untuk melatih kepemimpinan yang adaptif dan solutif.

 

Ketua DPRK Waropen, Yeneke S.K Dippan, S.Sos, yang membuka sekaligus menutup kegiatan yang diinisiasi oleh GOW Waropen tersebut, menegaskan bahwa perempuan Waropen tidak boleh lagi ragu untuk tampil di depan.

 

Menurutnya, kepemimpinan perempuan sangat dibutuhkan di berbagai lini, mulai dari birokrasi, tempat kerja, hingga lingkungan keluarga.

 

"Kita butuh pengetahuan, keterampilan, rasa percaya diri, komunikasi yang baik, serta jaringan yang kuat dan tata krama. Pelatihan ini hadir sebagai wadah mengasah potensi itu," ujar Yeneke.

 

Dalam arahannya, Yeneke mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan filosofi mendalam dari akar Pohon Lolaro (Bakau), tanaman khas yang menjadi simbol ketangguhan pesisir.

 

"Akar Lolaro itu sebagian di air dan sebagian di tanah. Fungsinya luar biasa: menyerap makanan, menjadi tempat hidup biota laut seperti kepiting dan udang, sekaligus menjadi pemecah gelombang alami yang melindungi dari abrasi”

 

“Arus yang deras bisa diredam menjadi tenang melalui akarnya," jelas Yeneke.

 

Ia menilai, filosofi ini sangat melekat pada realitas perempuan di Waropen saat ini.

 

"Saya lihat selama di Waropen, yang berjualan di pasar adalah ibu-ibu. Jadi tulang punggung sebenarnya adalah ibu-ibu”

 

“Kita adalah pencari nafkah dan penadah ombak bagi keluarga kita. Perempuan Waropen itu berani menampung ombak, dan mampu menenangkan persoalan yang besar," tambahnya memotivasi.

 

Acara yang berlangsung meriah ini diikuti dengan antusias oleh jajaran Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Waropen, Dharma Wanita Persatuan (DWP), serta berbagai organisasi wanita lainnya.

 

Melalui pembekalan intensif dari para pakar, para peserta diharapkan pulang membawa perubahan nyata.

 

Seminar ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah awal bagi perempuan Waropen untuk berani melangkah lebih jauh dan menjadi pemimpin yang membawa dampak positif bagi masyarakat luas. (*)

 

Editor : Elfira Halifa
#Ceposonline.com #Waropen