CEPOSONLINE.COM, WAROPEN — Gema takbir berkumandang sahut-menyahut memecah keheningan pagi di Kampung Sarafambai, Distrik Waropen Bawah, Kabupaten Waropen., Rabu (27/5).
Di salah satu sudut kampung, ratusan langkah kaki bergegas menuju sebuah bangunan sederhana yang berdiri di atas kolam air. Bangunan itu adalah Masjid Nurul Anwar, sebuah tempat ibadah yang menyimpan cerita tentang keteguhan iman di tengah lilitan keterbatasan fasilitas fisik.
Bagi warga setempat, Masjid Nurul Anwar lebih akrab disapa dengan sebutan Masjid Haji Kama. Penamaan ini bukan tanpa alasan, sebab seluruh struktur bangunan kediaman ibadah tersebut berdiri di atas aset properti dan tanah milik seorang warga bernama Haji Kama.
Dibandingkan dengan masjid pada umumnya, bangunan ini sebenarnya jauh lebih layak disebut sebagai sebuah musala karena ukurannya yang kecil dan arsitekturnya yang teramat bersahaja.
Berdasarkan penuturan dari sejumlah jamaah senior, Fadli memgatakan tempat ibadah ini awalnya memang berstatus dan disebut sebagai sebuah musala oleh masyarakat sekitar. Namun, seiring dengan bertumbuhnya jumlah penganut agama Islam di kawasan Kampung Sarafambai, pada tahun 2017 silam, status bangunan kayu ini disepakati dan resmi mulai disebut sebagai sebuah masjid guna mengakomodasi kebutuhan ibadah yang lebih besar, termasuk pelaksanaan salat Jumat dan salat Ied.
Jika menilik kondisinya saat ini, ada rasa sangsi sekaligus kagum yang menyeruak. Seluruh struktur utama bangunan lama ini masih berbahan dasar kayu, dengan lantai yang ditopang oleh tiang-tiang kayu balok berukuran 10x10 sentimeter saja.
Di bawah lantai kayu tempat jamaah bersujud, air kolam tenang mengintip dari celah-celah papan. Tidak terasa jika salat di dalam, karena tertutup sajadah, namun demikian rasa khawatir akan kekokohan bangunan seketika sirna begitu melihat wajah-wajah tulus para jamaah yang datang dengan pakaian terbaik mereka.
Sejatinya, kerinduan Jamaah Masjid Nurul Anwar, akan tempat ibadah yang megah, kokoh, dan permanen sudah berlangsung lama.
Persis di seberang bangunan kayu yang ada saat ini, sebuah proyek pembangunan masjid baru berbahan batu dan beton sebenarnya sedang berjalan. Meski baru memperlihatkan hamparan fondasi yang tertanam dan beberapa tiang pancang yang berdiri tegak, struktur awal tersebut menjadi simbol harapan baru bagi warga kampung sekitar.
Namun apa daya, pembangunan yang telah memakan waktu selama sepuluh tahun terakhir ini harus berjalan tertatih-tatih.
Hingga saat ini, proyek pembangunan fisik tersebut murni hanya mengandalkan dana swadaya dari kantong para jamaah sendiri. Ketiadaan donatur besar atau suntikan dana khusus membuat para jamaah harus menyisihkan pendapatan mereka sedikit demi sedikit demi melihat tiang-tiang masjid baru itu bisa berdiri tegak.
"Masjid ini murni swadaya, dan masjid ini yang terdekat dari Kantor Bupati dan perkantoran lainnya di Waren," Ujar Fadli salah satu Jamaah senior yang juga Panitia Kurban tahun ini.
Kondisi sosiologis ini tidak mengurangi kekhusyukan perayaan hari besar Islam di sana. Pada momentum Idul Adha kali ini, sekitar 100-an jamaah tampak memadati ruang utama masjid kayu tersebut hingga meluber ke bagian luar.
Berbeda dengan kota-kota besar yang kerap menggelar salat Ied berpusat di lapangan terbuka, umat Muslim di Kabupaten Waropen tahun ini memang melaksanakan ibadah salat secara mandiri di masjid masing-masing wilayah mereka.
Nuansa Idul Adha terasa kian lengkap dan penuh haru ketika panitia mulai mempersiapkan prosesi penyembelihan hewan kurban.
Tahun ini, Masjid Nurul Anwar mengorbankan satu ekor sapi dan satu ekor kambing. Kehadiran hewan kurban ini menjadi berkah yang sangat disyukuri, mengingat keduanya merupakan uluran tangan dari pihak luar; satu ekor sapi jenis Bali merupakan bantuan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Waropen, sedangkan satu ekor kambing merupakan bantuan dari Bank Papua.
Meski salat di atas lantai kayu yang berderit dan ditopang tiang seadanya, senyum bahagia tetap merekah di wajah umat Muslim dari Kampung Waren, Nonomi, hingga Sarafambai itu.
Hari itu menjadi bukti nyata, bahwa kemegahan sebuah rumah ibadah tidak melulu diukur dari beton yang kokoh atau kubah yang berkilau, melainkan dari tebalnya rasa syukur dan kokohnya kebersamaan yang dirawat secara swadaya oleh para jamaahnya. (*).
Editor : Lucky Ireeuw