Kasih Yang Diberikan, Iman Yang Digerakkan, 22 Kampung Bersatu Bangun Kantor Klasis Geya

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 17:56 WIB
22 Kampung Bersatu Bangun Kantor Klasis Geya.
22 Kampung Bersatu Bangun Kantor Klasis Geya.

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA— Kasih kepada Tuhan tidak hanya dinyatakan melalui doa dan perkataan, tetapi juga melalui kepedulian, pengorbanan, dan kerelaan untuk berbagi.

 

 

Semangat itulah yang kini terlihat dalam pembangunan Kantor Klasis Geya Gereja Injili Di Indonesia atau GIDI.

 

Pemerintah, kepala kampung, ASN, TNI-Polri, anggota DPRK Tolikara, anggota DPR Papua Pegunungan, para pengusaha, serta umat dan kader GIDI, bersatu mengambil bagian dalam pembangunan melalui sumbangan dana, bantuan material, dan janji iman.

 

 

Gerakan bersama ini merupakan tindak lanjut dari hasil rapat yang berlangsung di Gereja Nangguli pada Sabtu, 18 Juli 2026.

 

 

Rapat tersebut diikuti para kepala kampung, kepala distrik, pejabat eselon II, III dan IV, staf pemerintahan, anggota TNI-Polri, para pengusaha, serta kader GIDI lainnya.

 

 

Dalam rapat tersebut disepakati, setiap kepala kampung memberikan sumbangan paling sedikit Rp20 juta, sedangkan para kepala dinas memberikan dukungan paling sedikit Rp50 juta.

 

 

Namun, semangat yang dibangun bukanlah tentang siapa yang memberi paling besar.

Lebih dari itu, setiap pemberian merupakan ungkapan kasih dan kerinduan agar pembangunan Kantor Klasis Geya segera diselesaikan dan dapat menjadi rumah pelayanan, tempat persekutuan, pembinaan iman, serta tempat umat berkumpul untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan.

 

 

Dari 12 kampung di Distrik Geya, terkumpul sumbangan sebesar Rp162.500.000.

Salah satu dukungan datang dari Kepala Kampung Geya, Negira Wanimbo, sebesar Rp30 juta.

 

 

Sementara sejumlah kepala kampung lainnya memberikan sumbangan masing-masing 20 juta , sesuai dengan kesepakatan dan kemampuan.

Bahkan, terdapat kepala kampung yang baru mampu menyerahkan Rp10 juta, disertai janji iman untuk melengkapi kekurangan Rp10 juta setelah menerima dana dan memperoleh berkat.

 

 

Semangat yang sama juga datang dari 10 kampung di Distrik Wenam, yang secara bersama-sama memberikan sumbangan sebesar Rp 210 juta.

 

 

Dengan demikian, total sumbangan dari 22 kampung di Distrik Geya dan Distrik Wenam mencapai Rp 372 juta 500 ribu (Rp372.500.000).

 

 

Sumbangan tersebut diserahkan secara resmi oleh para kepala kampung, didampingi Kepala Distrik Geya Toni Weya, Kepala Distrik Wenam Benyamin Enambere, serta pendamping Distrik Geya Buyan Weya dan pendamping Distrik Wenam Yoben Wenda.

Penyerahan berlangsung di lokasi pembangunan Kantor Klasis Geya di Witipur, Jumat, 31 Juli 2026.

 

 

Momentum ini menjadi bukti bahwa pembangunan rumah pelayanan gereja bukan hanya menjadi tanggung jawab panitia.

Pembangunan ini telah berubah menjadi gerakan bersama yang lahir dari hati masyarakat.

 

 

Semangat pengorbanan juga ditunjukkan Kepala Distrik Wenam, Benyamin Enambere.

Ia menyatakan janji iman sebesar Rp50 juta. Sebanyak Rp30 juta telah diserahkan, sementara Rp20 juta sisanya akan diberikan ketika Tuhan membuka jalan dan memberikan berkat.

 

 

Hal yang sama dilakukan Kepala Distrik Geya, Toni Weya.

Ia juga menyatakan janji iman sebesar Rp 50 rupiah, dan telah menyerahkan Rp10 juta sebagai bagian awal dari komitmennya.

 

 

Sementara sisanya akan diberikan ketika memperoleh berkat dari Tuhan.

Bagi keduanya, janji iman bukan sekadar janji kepada manusia, melainkan sebuah bentuk kepercayaan bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia berasal dari kemurahan Tuhan dan pada akhirnya dipersembahkan kembali untuk pekerjaan-Nya.

 

 

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Tolikara.

Saat peletakan batu pertama pembangunan Kantor Klasis Geya, Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., memberikan bantuan sebesar Rp100 juta.

 

 

Ketua Panitia Pembangunan Kantor Klasis Geya, Derwes Yikwa, yang juga Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tolikara, memberikan dukungan sebesar Rp50 juta.

 

 

Sementara Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja Yonias Yikwa memberikan bantuan sebesar Rp5 juta.

 

 

Dukungan dalam bentuk material juga datang dari berbagai pihak.

Anggota DPRK Tolikara Karmil Kogoya memberikan bantuan berupa batu bata, sedangkan Anggota DPR Papua Pegunungan Timiles Yikwa memberikan bantuan keramik lantai.

 

 

Sejumlah pejabat eselon III, yakni Karmel Kogoya, Kepala Bidang pada Dinas Kesehatan; Mailes Wenda, Kepala Bidang pada Dinas Kominfo; dan Vison Kogoya, Kepala Bidang pada Dinas Pendidikan, turut memberikan bantuan berupa kusen jendela dan kusen pintu.

 

 

Dukungan lainnya datang dari Boas Yikwa, Inspektur Pembantu pada Inspektorat, sebesar Rp10 juta, serta Ibu Bedi Weya, ASN Kabupaten Tolikara, sebesar Rp500 ribu.

 

 

Berapapun nilainya, setiap pemberian memiliki makna ketika dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh kasih.

 

 

Dalam rapat bersama pada Sabtu, 18 Juli 2026, para ASN juga diajak mengambil bagian dalam pembangunan Kantor Klasis Geya.

Para ASN disepakati memberikan sumbangan paling rendah 3 juta rupiah, sesuai kemampuan masing-masing. 

 

 

 

Semangat ini memperlihatkan bahwa pembangunan gereja dapat menjadi ruang kebersamaan antara pemerintah, masyarakat, dan umat dalam semangat pelayanan dan kasih.

 

 

Ketua Panitia Pembangunan Kantor Klasis Geya, Derwes Yikwa, menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas seluruh dukungan yang telah diberikan.

 

 

Ia menilai, bantuan dari Bupati Tolikara, para kepala kampung dari Distrik Geya dan Distrik Wenam, para pejabat, ASN, serta seluruh pihak yang mengambil bagian merupakan bukti bahwa Tuhan terus membuka jalan bagi pembangunan rumah pelayanan tersebut.

 

 

“Kami bersyukur kepada Allah karena dalam kemurahan-Nya, Tuhan menggerakkan hati banyak orang untuk mengambil bagian dalam pembangunan Kantor Klasis Geya. Kami percaya, setiap tangan yang memberi dan setiap hati yang berkorban merupakan bagian dari pekerjaan Tuhan,” ungkap Derwes Yikwa.

 

 

Pembangunan Kantor Klasis Geya diharapkan tidak berhenti pada berdirinya sebuah bangunan secara fisik.

Lebih dari itu, gedung ini diharapkan menjadi rumah pelayanan yang mempertemukan para hamba Tuhan, jemaat, pemuda, perempuan, anak-anak, dan seluruh umat GIDI untuk bersama-sama membangun kehidupan iman dan pelayanan.

 

 

Di tempat inilah umat diharapkan dapat berkumpul, berdoa, berdiskusi, memperkuat pelayanan, dan menyatukan hati untuk memuji serta memuliakan Allah.

Sebab yang sedang dibangun bukan hanya tembok, lantai, jendela, pintu, dan atap.

Yang sedang dibangun adalah tempat untuk menumbuhkan iman, memperkuat persaudaraan, dan meneruskan pelayanan Tuhan kepada generasi yang akan datang.

 

 

Semangat gotong royong dari 22 kampung, pemerintah, ASN, TNI-Polri, anggota legislatif, pengusaha, dan seluruh umat menjadi pesan bahwa ketika hati dipersatukan oleh kasih, keterbatasan dapat dihadapi bersama.

Setiap rupiah yang diberikan, setiap batu bata yang disumbangkan, setiap kusen dan keramik yang dipersembahkan, bahkan setiap janji iman yang diucapkan, menjadi bagian dari satu harapan besar:

agar pekerjaan Tuhan terus berjalan dan nama Yesus Kristus semakin dimuliakan.

 

 

Pembangunan Kantor Klasis Geya masih membutuhkan dukungan dan uluran tangan dari berbagai pihak.

Panitia berharap seluruh bantuan yang telah diberikan dapat melengkapi berbagai kekurangan sehingga pembangunan dapat segera dirampungkan.

Dan ketika kelak gedung ini berdiri dan pintunya dibuka bagi umat Tuhan, kiranya tempat tersebut bukan hanya menjadi sebuah bangunan yang berdiri kokoh.

 

 

 

Tetapi menjadi tempat di mana doa dinaikkan, firman Tuhan diberitakan, kasih persaudaraan dipelihara, pelayanan dikembangkan, dan nama Yesus Kristus senantiasa dimuliakan.

Karena ketika manusia memberi dengan kasih, Tuhanlah yang menyempurnakan pekerjaan itu dengan kasih karunia-Nya.

Apa yang dibangun dengan kasih, dipelihara dengan iman, dan dipersembahkan bagi Tuhan, kiranya menjadi berkat bagi banyak generasi.

 

 

Kiranya seluruh proses pembangunan Kantor Klasis Geya senantiasa berada dalam penyertaan dan kemurahan Tuhan Yesus Kristus.

Segala kemuliaan hanya bagi Allah.

(*)

Editor : Weny Firmansyah
tolikara Ceposonline.com