Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Redam Konflik di Wamena, Bupati Tolikara Willem Wandik: Jangan Tumpahkan  Darah di Honai Kita Sendiri!

Agung Trihandono • Minggu, 17 Mei 2026 | 07:31 WIB
Bupati Tolikara Willem Wandik 
(Ceposonline.com/Dismkomdigi Tolikara)
Bupati Tolikara Willem Wandik  (Ceposonline.com/Dismkomdigi Tolikara)

CEPOSONLINE.COM, TOLIKARA - Suasana duka dan ketegangan pasca-konflik sosial di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, kini menjadi perhatian serius berbagai pihak. 

Di tengah situasi yang memanas, Bupati Tolikara, Willem Wandik,S.Sos tampil menyampaikan seruan damai yang menyentuh hati masyarakat Papua Pegunungan.

Dari Karubaga, Jumat 15 Mei 2026, Willem Wandik mengajak seluruh masyarakat untuk menghentikan pertikaian dan kembali merawat persaudaraan yang selama ini menjadi kekuatan Orang Asli Papua.

Dengan suara penuh empati dan ketegasan, ia mengingatkan bahwa Wamena bukan hanya sebuah kota, tetapi rumah bersama bagi seluruh masyarakat Papua pegunungan. 

“Wamena adalah honai besar kita bersama. Jangan kita tumpahkan darah di honai kita sendiri,” tegas Willem Wandik dalam pernyataannya. 

Konflik yang menyebabkan korban jiwa, pengungsian warga, hingga kerusakan fasilitas tersebut dinilai tidak boleh terus berkembang menjadi konflik antarsuku yang dapat memecah persatuan masyarakat Papua.

Bupati Tolikara Willem Wandik mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh tindakan segelintir oknum. 

Menurutnya, persoalan yang dilakukan individu tertentu tidak boleh menyeret nama suku maupun kelompok masyarakat secara luas.

“Kalau yang bermasalah hanya beberapa orang, jangan satu suku dibawa ke dalam konflik. Kita semua bersaudara di atas Tanah Papua,” ujarnya.

Sebagai langkah penyelesaian, Bupati Willem wandik mendorong pendekatan damai melalui tiga jalur utama, yakni pendekatan adat dan musyawarah dengan melibatkan tokoh adat, tokoh perempuan, dan pemuda, kemudian pendekatan keagamaan bersama para tokoh gereja dan pemimpin agama, serta pendekatan hukum agar keadilan tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku.

Tidak hanya menyoroti keamanan, Willem Wandik juga menegaskan bahwa konflik berkepanjangan akan menghambat pembangunan dan masa depan generasi Papua.

Ia menilai anggaran pemerintah seharusnya diprioritaskan untuk pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi masyarakat, dan pelayanan dasar, bukan habis untuk menangani dampak pertikaian sosial yang terus berulang.

“Dana pembangunan jangan habis untuk konflik. Kita harus fokus membangun masa depan generasi Papua yang lebih baik,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Tolikara Willem Wandik juga mengajak masyarakat untuk bijak menggunakan media sosial. Ia meminta warga tidak menyebarkan informasi bohong atau ujaran provokatif yang dapat memperkeruh keadaan.

Menurut Willem Wandik, setiap nyawa Orang Asli Papua sangat berharga dan tidak boleh dikorbankan karena kebencian maupun ego kelompok tertentu.

“Jangan bakar Papua dengan kebencian. Mari jadi pembawa damai bagi negeri ini. Mari kita jaga Wamena, mari kita jaga Papua Pegunungan, mari kita jaga Tanah Papua,” pungkasnya.

Seruan damai dari Bupati Tolikara ini diharapkan menjadi titik balik bagi terciptanya rekonsiliasi permanen di Wamena dan seluruh wilayah Papua Pegunungan, demi menjaga persatuan, keamanan, dan masa depan generasi Papua yang lebih damai dan bermartabat. (*)

Editor : Agung Trihandono
#Willem wandik #tolikara #karubaga