CEPOSONLINE.COM,TOLIKARA - Pemerintah Kabupaten Tolikara menegaskan komitmennya dalam membangun sumber daya manusia melalui sektor pendidikan.
Hal ini ditandai dengan pembukaan resmi ujian Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Tolikara oleh Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos, yang dipusatkan di SD Negeri Lianogoma, Distrik Lianogoma, pada Senin, 4 Mei 2026 kemarin.
Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan tonggak penting dalam perjalanan pendidikan di wilayah pegunungan Papua yang penuh tantangan. Dari sebuah sekolah di daerah yang relatif terpencil, gaung semangat belajar anak-anak Tolikara dikumandangkan untuk seluruh penjuru kabupaten.
Dalam sambutannya, Bupati Willem Wandik menegaskan bahwa pendidikan adalah kunci utama perubahan dan masa depan daerah. Ia mengajak seluruh siswa untuk mengikuti ujian dengan sungguh-sungguh, penuh kejujuran, serta percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri.
“Anak-anak Tolikara harus berani bermimpi besar. Walaupun kita berada di daerah pegunungan, kita tidak boleh tertinggal. Pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan,” tegasnya di hadapan para siswa dan guru.
Bupati Willem wandik juga memberikan apresiasi tinggi kepada para guru yang telah berjuang di tengah keterbatasan, menjaga api pendidikan tetap menyala.
Menurutnya, dedikasi para tenaga pendidik di daerah terpencil merupakan pilar utama dalam mencetak generasi penerus yang berkualitas.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pemerintah daerah akan terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, baik melalui pembangunan infrastruktur sekolah, penyediaan sarana belajar, maupun peningkatan kapasitas tenaga pendidik.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tolikara, Oktovianus Yeimo, SE, dalam laporannya menyampaikan bahwa jumlah peserta ujian SD tahun 2026 di seluruh Kabupaten Tolikara mencapai 2.565 siswa.
Rinciannya terdiri dari:
1.464 siswa laki-laki
1.101 siswa perempuan.
Jumlah ini mencerminkan meningkatnya partisipasi pendidikan dasar di wilayah Tolikara, sekaligus menjadi indikator tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka.
Dari sisi pelaksanaan, ujian tahun ini dilaksanakan dengan dua moda, menyesuaikan kondisi masing-masing sekolah. Sehingga dua sekolah telah melaksanakan ujian berbasis komputer, yaitu SD Negeri Karubaga dan SD YPPGI Karubaga. Sementara itu, 74 sekolah lainnya masih menggunakan sistem berbasis kertas.
Perbedaan moda ini menggambarkan realitas pendidikan di wilayah pegunungan Papua, di mana keterbatasan infrastruktur dan akses teknologi masih menjadi tantangan.
Namun demikian, pemerintah daerah terus mendorong transformasi digital secara bertahap agar seluruh sekolah ke depan dapat beradaptasi dengan sistem berbasis teknologi.
Pelaksanaan ujian yang dipusatkan di SD Negeri Lianogoma juga memiliki makna simbolis yang kuat. Sekolah ini menjadi representasi dari perjuangan pendidikan di daerah terpencil—bahwa di tengah keterbatasan, semangat untuk maju tetap tumbuh dan berkembang.
Suasana haru dan bangga terlihat dari wajah para siswa yang mengikuti ujian dengan penuh kesungguhan. Dukungan dari orang tua, guru, dan pemerintah menjadi kekuatan besar bagi mereka untuk melangkah menuju jenjang pendidikan berikutnya.
Dengan terselenggaranya ujian ini, Pemerintah Kabupaten Tolikara berharap lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, iman, dan semangat membangun daerah.
Pendidikan adalah jembatan masa depan, dan Tolikara sedang melangkah maju menapakinya. (*)
Editor : Agung Trihandono