CEPOSONLINE.COM - Cristiano Ronaldo resmi mengakhiri perjalanan panjangnya bersama Timnas Portugal pada usia 41 tahun. Sang megabintang meninggalkan tim nasional dengan catatan luar biasa, yakni 146 gol dalam 234 penampilan, serta pencapaian terbesar berupa keberhasilan menjuarai Euro 2016.
Dalam pesan perpisahan yang emosional, Ronaldo mengungkapkan bahwa dirinya sudah siap menyerahkan jersey nomor 7 kepada generasi berikutnya.
"Kepada rakyat Portugal, hari telah tiba untuk mengembalikan jersey nomor 7 tim nasional kita. Saya tidak pernah merasa itu sepenuhnya milik saya. Tetapi selama 23 tahun saya memiliki hak istimewa dan tanggung jawab untuk mengenakannya, mempertahankannya, dan membawanya ke stadion-stadion di seluruh dunia.”
“Hari ini saatnya telah tiba untuk menyerahkannya kepada masa depan. Ini bukanlah keputusan yang mudah, karena ada keputusan yang tidak hanya dibuat dengan kepala. Keputusan itu juga dibuat dengan hati."
Ronaldo tentu meninggalkan warisan besar sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa. Namun, pengumuman pensiunnya tidak sepenuhnya berlangsung dalam suasana bahagia.
Sebelum mengambil keputusan tersebut, penyerang Al-Nassr itu terlibat perselisihan dengan pelatih Portugal, Jorge Jesus, terkait kesempatan bermain. Bahkan, Ronaldo sempat meninggalkan kamp pelatihan tim nasional setelah ketegangan dengan sang pelatih.
Sebagian pihak menilai Ronaldo seharusnya mengakhiri karier internasionalnya lebih awal. Penurunan performa yang dianggap mulai terlihat juga memunculkan anggapan bahwa kehadirannya justru menghambat perkembangan tim.
Situasi tersebut membuat media Portugal menyoroti bagaimana perpisahan Ronaldo dengan tim nasional sangat berbeda dibandingkan Lionel Messi ketika mengakhiri perjalanan internasionalnya bersama Argentina.
Jorge Jesus Beri Penghormatan kepada Ronaldo
Jorge Jesus akhirnya memberikan tanggapan mengenai keputusan pensiun Ronaldo. Pelatih Portugal tersebut berusaha menjauhkan diri dari kontroversi yang mengiringi perpisahan sang megabintang dan memilih memberikan penghormatan atas kontribusinya.
"Ini semua keputusannya. Kami sudah punya kesempatan untuk membicarakan ini sebelum panggilan pertama. Saya memintanya untuk tetap tinggal, untuk tetap bersama saya karena saya membutuhkannya di sisi saya, tetapi saya harus menerima keputusannya."
Jesus juga menegaskan bahwa Ronaldo tetap menjadi sosok penting bagi Portugal, baik sebagai pemain maupun panutan bagi generasi muda.
"Dia adalah panutan dunia, panutan bagi Portugal, panutan bagi Tim Nasional. Dia adalah pemain yang, selama bertahun-tahun ini, telah memberikan banyak hal kepada Tim Nasional. Dia adalah simbol bagi pemuda Portugal. Sebagian besar penggemarnya masih muda.”
“Saya berkesempatan untuk berbagi pengalaman bekerja dengannya selama setahun di Al Nassr. Oleh karena itu, dia akan selalu menjadi panutan bagi Tim Nasional kita, bagi rakyat kita, bagi sejarah kita."
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Jesus tetap menghargai warisan Ronaldo, meskipun hubungan keduanya sempat mengalami ketegangan.
Media Portugal Bandingkan Perpisahan Ronaldo dan Messi
Melansir Give Me Sport, media Portugal, O Jogo, secara khusus membandingkan cara Ronaldo dan Messi mengakhiri perjalanan mereka bersama tim nasional.
Kedua pemain tersebut telah mendominasi sepak bola dunia selama hampir dua dekade dan menjadi bagian dari salah satu persaingan terbesar dalam sejarah olahraga. Namun, akhir perjalanan internasional mereka berlangsung dengan suasana yang sangat berbeda.
O Jogo menyoroti bahwa Messi mendapatkan perpisahan dalam suasana meriah dan penuh perayaan bersama Argentina.
Sebaliknya, Ronaldo justru mengakhiri hubungannya dengan Timnas Portugal di tengah ketegangan, tanpa banyak penggemar yang menyadari bahwa mereka mungkin tidak akan pernah melihatnya mengenakan seragam nasional lagi.
"Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi menandai sebuah era dalam sepak bola dunia, membintangi salah satu persaingan terbesar dalam sejarah olahraga selama sekitar dua dekade.”
“Namun, akhir karier internasional mereka masing-masing terbukti sangat berbeda: sementara pemain Argentina itu mendapat perpisahan dalam suasana meriah dan penuh perayaan, pemain Portugal itu mengakhiri hubungannya dengan Tim Nasional tanpa penggemar yang mengantisipasi bahwa mereka tidak akan pernah melihatnya lagi mengenakan seragam nasional."
Perbedaan tersebut menjadi semakin disorot karena Ronaldo dan Messi sama-sama memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sepak bola di negara masing-masing.
Mantan Pejabat Perwasitan Portugal Sebut Perpisahan Ronaldo sebagai Aib
Kritik terhadap cara Ronaldo meninggalkan tim nasional juga datang dari Duarte Gomes, mantan wasit sekaligus mantan direktur teknik perwasitan di Federasi Sepak Bola Portugal (FPF).
Gomes menyayangkan bagaimana hubungan antara Ronaldo dan tim nasional harus berakhir dalam situasi penuh kontroversi. Menurutnya, sosok sebesar Ronaldo seharusnya mendapatkan akhir yang jauh lebih baik.
"Cristiano Ronaldo akan selalu menjadi sosok unik dalam sejarah sepak bola Portugal dan dunia. Warisannya, kariernya, dan semua yang telah ia berikan kepada negara ini pantas mendapatkan akhir yang berbeda. Hampir tidak ada yang bisa membayangkan bahwa hubungan yang luar biasa seperti itu bisa berakhir seperti ini. Bahkan dirinya sendiri pun tidak."
Gomes menegaskan bahwa persoalan utamanya bukan terletak pada keputusan Ronaldo untuk pensiun, melainkan proses yang membuat perpisahan tersebut berlangsung dengan cara yang tidak semestinya.
"Yang paling membuat saya sedih bukanlah keputusannya – yang tak terhindarkan dalam jangka pendek – tetapi kepastian bahwa seharusnya hal ini tidak pernah terjadi seperti ini. Hasil ini adalah puncak dari serangkaian kejadian yang ceroboh, dapat dihindari, dan dikelola dengan buruk, di mana ketidakmampuan yang mencolok dari semua orang – saya ulangi, semua orang – untuk menemukan solusi yang berbeda sangat terlihat.”
“Terlepas dari alasan mendasar yang mungkin telah membimbing sebagian orang dan sebagian lainnya (yang sekarang tidak relevan), satu kesimpulan tampak jelas bagi saya: di suatu titik dalam proses tersebut, seorang dewasa tidak hadir. Sungguh disayangkan."
Pernyataan tersebut menjadi kritik keras terhadap semua pihak yang dianggap gagal mengelola konflik hingga berujung pada perpisahan kontroversial. (*)
Sumber : jawapos.com