CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA - Legenda sepak bola Brasil, Cafu, melontarkan pandangan yang tajam setelah Samba harus mengakhiri langkahnya di babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Brasil tersingkir usai kalah 1-2 dari Norwegia dalam pertandingan dramatis yang berlangsung hingga menit-menit akhir.
Brasil sebenarnya sempat menjaga asa lewat gol penalti Neymar pada masa injury time babak kedua. Namun, dua gol Erling Haaland pada menit ke-79 dan menit ke-90 memastikan Norwegia membalikkan keadaan sekaligus mengamankan tiket ke perempat final.
Seperti dilansir dari Jawapos.com, Cafu mengungkapkan kekhawatirannya terhadap arah perkembangan sepak bola Brasil. Menurut mantan kapten Tim Samba itu, semakin banyak pemain Brasil yang berkarier di Liga Inggris atau Premier League, semakin kecil peluang negaranya untuk kembali menjadi juara dunia.
"Yang membuatku takut adalah ini; semakin banyak pemain Brasil yang pergi ke Premier League, semakin kecil peluang Brasil memenangkan Piala Dunia," ujar Cafu.
Pernyataan tersebut bukan ditujukan untuk meremehkan kualitas kompetisi Inggris. Sebaliknya, Cafu lebih menyoroti lingkungan dan cara pemain dibentuk selama berkompetisi di sana.
Ia menilai sorotan media yang berlebihan dapat membuat pemain merasa sudah berada di level tertinggi, padahal masih banyak aspek yang harus dikembangkan."Bayangkan setiap minggu kamu dikondisikan oleh media dengan ucapan 'Kalian adalah yang terbaik di dunia'. Padahal kenyataannya kamu bahkan tidak mendekati yang terbaik di dunia," lanjutnya.
Cafu kemudian membandingkan situasi tersebut dengan atmosfer sepak bola di Spanyol. Menurutnya, La Liga menawarkan budaya kompetitif yang lebih menekankan target meraih gelar dibanding membangun citra individu pemain.
"Saya lebih memilih La Liga karena di sana ada pola pikir untuk mencapai final dan memenangkan final," kata Cafu. Di Spanyol lebih banyak berfokus pada permainan di atas lapangan daripada membangun narasi yang berlebihan.
Pernyataan Cafu menjadi pengingat bahwa membangun tim juara tidak hanya bergantung pada kualitas individu, tetapi juga mentalitas, budaya kompetisi, dan kemampuan menjaga fokus terhadap tujuan utama, yakni memenangkan turnamen terbesar di dunia.(*)
Editor : Abdel Gamel Naser