Pembudidaya Ikan Kampung Yoka Terapkan Teknologi Pakan Otomatis Bertenaga Surya

Elfira Halifa • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 18:26 WIB
Foto Bersama TIM Uncen dan Kelompok Oblokhow Sejahtera Mandiri
Foto Bersama TIM Uncen dan Kelompok Oblokhow Sejahtera Mandiri

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Kelompok Pembudidaya Ikan Oblokhouw Sejahtera Mandiri di Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura, mulai menerapkan teknologi pemberian pakan otomatis untuk mendukung budidaya ikan nila dan mujair di Keramba Jaring Apung Danau Sentani.

Teknologi bernama Yoka-SmartFeeder tersebut dikembangkan oleh tim Universitas Cenderawasih dengan memadukan Internet of Things dan Artificial Intellegence kecerdasan buatan tepat guna, sensor kualitas air, aplikasi Android, dan energi surya. Teknologi dirancang agar pemberian pakan dapat dilakukan secara terjadwal, terukur, dan menyesuaikan kondisi perairan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2026 yang didukung pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui sistem BIMA. Tim pelaksana diketuai oleh Imam Mishbach, S.Kel., M.Si. dari program studi Ilmu Perikanan dengan anggota Klara Wonar, S.E., M.Ak. program studi Akuntansi dan Pisi Betania Titalessy, S.E., M.Sc. program studi Ekonomi.

Dua mahasiswa Universitas Cenderawasih, Adriano Ribetos Affar dan Angelica Anastasya Nur Rachmatiah dari program studi Sistem Informasi, turut dilibatkan dalam perakitan, instalasi, dan pendampingan teknis. Kegiatan dilaksanakan bersama 14 anggota kelompok yang dipimpin Ricky Menase Mebri, serta didampingi Dinas Perikanan Kota Jayapura yang diwakili oleh Mersiana Mebri, A.Md.Pi.

Kelompok Oblokhouw Sejahtera Mandiri sebelumnya Tahun 2025 melalui pendanaan BIMA KEMDIKTISAINTEK juga telah mampu memproduksi pakan ikan berbahan baku ikan red devil dan eceng gondok. Produksi pakan mencapai sekitar 160 kilogram per bulan dan telah membantu mengurangi ketergantungan kelompok terhadap pakan pabrikan. Namun, pemberian pakan masih dilakukan secara manual.

Anggota kelompok harus mendatangi KJA hingga empat kali sehari. Selain membutuhkan waktu dan tenaga, metode tersebut membuat jumlah pakan sulit dikontrol dan berpotensi menyebabkan pemberian pakan secara berlebihan. Sisa pakan yang tidak dikonsumsi juga dapat mengendap di bawah KJA dan meningkatkan kandungan bahan organik di perairan. Sosialisasi program dilaksanakan pada 3 Agustus 2026. Tim dan mitra mengidentifikasi kebutuhan, menentukan lokasi pemasangan alat, serta menetapkan operator dari anggota kelompok. Pelatihan, instalasi, dan pengujian teknologi kemudian dilaksanakan pada 13 Agustus 2026.

Inovasi alat Pakan Ikan Otomatis Yoka-SmartFeeder
Inovasi alat Pakan Ikan Otomatis Yoka-SmartFeeder

Yoka-SmartFeeder menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat pengendalian. Alat dilengkapi wadah pakan berkapasitas 10-15 kilogram, mekanisme pelontar, sensor suhu, sensor kekeruhan, sensor stok pakan, panel surya 50 WP, baterai, dan aplikasi monitoring berbasis Android. Jadwal dan dosis pakan dapat diatur melalui sistem.

Sebelum pakan dilontarkan, sensor membaca suhu dan kekeruhan air. Apabila suhu melebihi 32 derajat Celsius atau kekeruhan melampaui batas yang ditentukan, sistem akan menghentikan pemberian pakan. Fitur tersebut membantu mencegah pakan diberikan ketika kondisi air tidak mendukung aktivitas makan ikan. Sensor ultrasonik digunakan untuk mendeteksi ketersediaan pakan dalam wadah.

Operator dapat memantau stok, jadwal pemberian, suhu, dan kekeruhan melalui aplikasi tanpa harus selalu berada di lokasi KJA. Panel surya digunakan sebagai sumber energi karena lokasi budidaya tidak memiliki akses langsung terhadap listrik PLN. Alat dikalibrasi menggunakan pelet produksi kelompok yang berdiameter 3-5 milimeter. Dari dosis target sebesar 500 g, alat mengeluarkan rata-rata 485 g. Tingkat kesalahan sebesar tiga persen masih berada di bawah batas maksimal lima persen. Hasil pengujian juga menunjukkan pelet tetap utuh dan tidak menyumbat saluran pelontar.

Monitoring awal menunjukkan penggunaan pakan berkurang dari sekitar 10 kg menjadi 7,5 kilogram per hari atau lebih efisien sebesar 25 persen. Nilai Feed Conversion Ratio menurun dari 1,50 menjadi 1,28, sedangkan Survival Rate ikan mencapai 88 persen. Perubahan juga terlihat pada penggunaan tenaga dan waktu. Kunjungan anggota untuk memberikan pakan berkurang dari empat kali menjadi satu kali sehari atau turun sebesar 75 persen. Kunjungan harian selanjutnya digunakan untuk memeriksa kondisi ikan, menambah stok pakan, dan membersihkan alat.

Menurut Imam Mishbach, teknologi ini dikembangkan untuk membantu mitra memanfaatkan pakan lokal secara lebih efisien. Otomatisasi membuat kegiatan budidaya tidak hanya bergantung pada perkiraan, tetapi mulai menggunakan data pemberian pakan, pertumbuhan ikan, dan kondisi lingkungan. Ketua kelompok, Ricky Menase Mebri, menyambut penerapan teknologi tersebut karena dapat mengurangi beban pemberian pakan manual. Waktu anggota dapat dimanfaatkan untuk memproduksi pelet, merawat KJA, mencatat kegiatan usaha, dan memperluas pemasaran. 

Pelatihan tidak hanya berisi praktik pengoperasian alat. Anggota juga diberikan materi mengenai perawatan panel surya, pembersihan pelontar, pemeriksaan sensor, penggunaan aplikasi, dan penanganan gangguan ringan. Nilai rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 46,4 pada pretest menjadi 88,6 pada posttest. Sebanyak 12 dari 14 anggota atau 85,7 persen telah mampu melakukan pengoperasian dasar secara mandiri.

Pada aspek manajemen, kelompok didampingi menggunakan lima jenis pencatatan, yaitu Buku Kas, Buku Pakan, Buku Produksi, Buku Penjualan, dan Buku Perawatan Alat. Pencatatan tersebut digunakan untuk menghitung penggunaan pakan, pertumbuhan ikan, biaya produksi, pendapatan, dan kebutuhan perawatan teknologi. Ricky Menase Mebri ditetapkan sebagai koordinator operator bersama seorang anggota sebagai operator teknis. Kelompok juga menyepakati pengalokasian lima persen dari manfaat efisiensi usaha sebagai dana cadangan untuk pemeliharaan dan penggantian komponen alat.

Penerapan Yoka-SmartFeeder menjadi kelanjutan pemanfaatan ikan red devil dan eceng gondok sebagai bahan baku pakan. Integrasi pakan lokal, otomatisasi, sensor kualitas air, dan energi surya menunjukkan penerapan ekonomi biru yang menggabungkan manfaat ekonomi dengan perlindungan lingkungan. Pengaturan dosis membantu mengurangi sisa pakan yang berpotensi mencemari perairan, sedangkan panel surya menyediakan energi tanpa menambah penggunaan bahan bakar. Data digital juga membantu kelompok mengambil keputusan usaha secara lebih terukur. Kelompok Oblokhouw Sejahtera Mandiri diharapkan menjadi salah satu percontohan budidaya ikan berbasis teknologi di kawasan Danau Sentani.

Victoria sekretaris Kelompok Oblokhouw Sejahtera Mandiri mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya telah mendanai kegiatan ini yang dinilai sangat bermanfaat untuk kemajuan usaha budidaya di kampung Yoka. Diharapkan banyak lagi yang bisa dibantu oleh Tim UNCEN melalui pendanaan KEMDIKTISAINTEK. 

 

Editor : Elfira Halifa
kampung yoka mahasiswa Ceposonline.com UNCEN