UNCEN Libatkan Pemerintah, Guru dan Orang Tua Rancang Ekosistem Numerasi Keerom

Elfira Halifa • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 13:10 WIB
Sumber gambar : Tim bestarisaintek uncen
Sumber gambar : Tim bestarisaintek uncen

CEPOSONLINE.COM, KEEROM — Tim BESTARI SAINTEK Universitas Cenderawasih (UNCEN) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Desain Ekosistem Belajar Numerasi Generasi Alpha, Keerom, sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pembelajaran numerasi yang efektif, partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan di Kabupaten Keerom, Papua.

Kegiatan tersebut mempertemukan unsur pemerintah daerah, pendidikan, sekolah, guru, orang tua, tokoh agama, serta pemangku kepentingan masyarakat. FGD menjadi ruang kolaborasi untuk menggali kondisi, kebutuhan, tantangan, sekaligus merumuskan desain pembelajaran numerasi yang sesuai dengan karakteristik peserta didik Generasi Alpha dan konteks sosial budaya Kabupaten Keerom.

Program BESTARI SAINTEK dengan judul Desain Ekosistem Belajar Numerasi untuk Meningkatkan Kompetensi Numerasi Generasi Alpha di Kabupaten Keerom merupakan program  Hibah Bestari Saintek adalah program dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), tim dari Universitas Cenderawasih yang diketuai Prof. Dr. Jonner Nainggolan, M.Si. bersama lima anggota tim peneliti.

Tim tersebut terdiri atas Dr. Ida Mariati Hutabarat, S.Si., M.Si. dari bidang Statistika Terapan, Dr. Dewi Kristika Findia Ning Tyas, S.Pd., M.Pd. dan Marthinus Yohanes Ruamba, M.Pd. dari Pendidikan Matematika, Elvis Pawan, S.Kom., M.Kom. dari Sistem Informasi, serta Radian Januari Situmeang, M.Si. dari bidang statistika. Komposisi tersebut menunjukkan pendekatan multidisiplin yang memadukan matematika, statistika, pendidikan matematika, teknologi informasi, pengelolaan data, serta kebijakan pendidikan.

Dorong Perubahan Ekosistem Belajar Numerasi

Sumber Gambar : tim bestarisaintek uncen
Sumber Gambar : tim bestarisaintek uncen

Kegiatan ini menjadi penting karena persoalan numerasi di Kabupaten Keerom tidak hanya berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika, tetapi juga

Kegiatan ini diikuti oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Keerom, Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Kepala Distrik Arso Barat, Ketua Klasis Keerom, kepala sekolah dari enam sekolah fokus, guru Matematika Fase B, perwakilan orang tua, serta perwakilan tokoh agama.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan numerasi dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah berperan dalam penguatan kebijakan dan tata kelola, sekolah dan guru menjadi pelaksana utama pembelajaran, sedangkan orang tua, tokoh agama dan masyarakat menjadi bagian dari lingkungan pendukung belajar anak.

Berbasis Sains dan Budaya Lokal

Salah satu kekuatan program BESTARI SAINTEK adalah pendekatan multidisiplin. Keilmuan statistika digunakan untuk memastikan program berbasis data dan dapat diukur, pendidikan matematika berperan dalam desain pembelajaran dan pengembangan numerasi kontekstual, sementara sistem informasi mendukung pemanfaatan teknologi dan pengelolaan data.

Pendekatan pendidikan matematika juga diarahkan untuk menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan nyata melalui Realistic Mathematics Education (RME), representasi matematis, serta pendekatan etnomatematika yang mempertimbangkan konteks budaya lokal.

Siapkan Modul Numerasi dan Buku Penghubung

Dalam implementasinya, BESTARI SAINTEK menyiapkan sejumlah luaran utama, di antaranya Modul Numerasi Kontekstual Kabupaten Keerom, Buku Penghubung Orang Tua–Guru, SOP monitoring, sistem monitoring partisipatif, serta rekomendasi kebijakan berbasis data.

Modul numerasi dirancang dengan mengintegrasikan materi seperti bilangan, operasi hitung, pecahan, geometri, serta data dan probabilitas dengan budaya dan aktivitas lokal sehingga lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Sementara Buku Penghubung Orang Tua–Guru dirancang sebagai media komunikasi antara sekolah dan rumah. Buku tersebut dapat menjadi sarana bagi guru dan orang tua untuk memantau perkembangan belajar anak serta memperkuat keterlibatan keluarga dalam pendidikan.

Dukungan Pemerintah Daerah Keerom

Pemerintah daerah Keerom, melalui Sekretaris Daerah, Bapak Linus Pasarrang , S.H., M.MP. sangat menyambut dan mendukung baik program ini. Dalam sambutannya, Sekda menyampaikan bahwa ”Pemerintah Kabupaten Keerom menyambut baik dan menyatakan dukungan penuh terhadap program ini.

Dalam sambutannya, Sekda menegaskan bahwa peningkatan kemampuan numerasi siswa sekolah dasar merupakan bagian penting dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Keerom.

Beliau juga menyampaikan harapan agar program ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan berlanjut sampai ke ruang kelas dan melibatkan orang tua serta masyarakat kampung”.

Pemerintah bersama tim UNCEN akan menggerakan masyarakat menemani anak belajar di rumah melalui kampanye sosial bersama tokoh agama dan kepala  kampung.

Kepala dinas pendidikan Keerom, Ibu Deivy Regar, S.Pd, turut mendukung kegiatan ini dan mengarahkan agar guru berpartisipasi aktif, sehingga dalam monitoring berikutnya target-target dapat tercapai.

Selama 1 tahun, akan ada gerakan menemani anak belajar di rumah dan pembiasaan buku penghubung orangtua-guru di sekolah-sekolah pilot. Melalui gerakan ini, tim menargetkan peningkatan kehadiran guru dari 64 persen menjadi 80 persen serta peningkatan partisipasi aktif orang tua dalam pendampingan belajar anak di rumah dari 30 persen menjadi 70 persen.

Dalam jangka panjang, model yang dikembangkan di Kabupaten Keerom diharapkan dapat menjadi model yang direplikasi di wilayah 3T lainnya di Papua. Roadmap BESTARI SAINTEK menempatkan tahun 2026 sebagai fase implementasi BESTARI SAINTEK–Living Lab, yang dilanjutkan dengan fase scaling dan replikasi pada 2027–2028 serta pengembangan pusat unggulan dan studi longitudinal numerasi pada 2029–2030.

FGD Desain Ekosistem Belajar Numerasi Generasi Alpha dengan demikian menjadi salah satu tahapan penting dalam memastikan rancangan program tidak hanya disusun dari perspektif akademik, tetapi juga memperoleh masukan langsung dari pemerintah, sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan ekosistem belajar numerasi yang berbasis sains, kontekstual terhadap budaya lokal, adaptif terhadap karakteristik Generasi Alpha, serta berkelanjutan, sehingga peningkatan kemampuan numerasi anak-anak di Kabupaten Keerom dapat menjadi bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia Papua.

Editor : Elfira Halifa
Ceposonline.com KEEROM Universitas Cenderawasih Papua