Wagub Papua Lepas 30 Ton Kopra Sarmi Senilai Rp516 Juta ke Surabaya

Elfira Halifa • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:27 WIB
Wakil Gubernur Papua, Aryoko Rumaropen saat pelepasan komoditas kopra di Pelabuhan Jayapura, Selasa (11/8/2026).(CEPOSONLINE.COM/HUMAS PEMPROV).
Wakil Gubernur Papua, Aryoko Rumaropen saat pelepasan komoditas kopra di Pelabuhan Jayapura, Selasa (11/8/2026).(CEPOSONLINE.COM/HUMAS PEMPROV).

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Pemerintah Provinsi Papua terus mendorong pengembangan komoditas perkebunan berbasis potensi lokal untuk memperkuat perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui pelepasan pengiriman 30 ton kopra produksi petani rakyat Kabupaten Sarmi menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dengan nilai ekonomi mencapai sekitar Rp516 juta.

Pengiriman kopra tersebut secara resmi dilepas Wakil Gubernur Papua Aryoko A.F. Rumaropen di Jayapura, Selasa (11/8/2026).

Aryoko mengatakan pengiriman tersebut menjadi bukti bahwa potensi lokal Papua dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah apabila dikelola secara serius, berkelanjutan, dan melibatkan masyarakat.

“Nilai ini mungkin baru sebuah awal, tetapi memiliki makna yang sangat besar. Ini adalah bukti bahwa apabila potensi lokal dikelola secara serius, maka akan tercipta lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Aryoko.

Menurutnya, keberhasilan pengiriman kopra tersebut tidak terlepas dari kolaborasi pemerintah, masyarakat, petani, dunia usaha, mitra pembangunan, serta berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong pengembangan komoditas unggulan Papua.

Pemprov Papua, kata Aryoko, akan terus memberikan dukungan terhadap berbagai program peningkatan produktivitas masyarakat, khususnya sektor ekonomi yang bertumpu pada potensi lokal dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Aryoko menyebut kelapa merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta peluang pasar yang luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Papua memiliki potensi pengembangan komoditas kelapa sekitar 10.615 hektare yang tersebar di kawasan pesisir dan dataran rendah pada empat kabupaten sentra, yakni Jayapura, Sarmi, Biak Numfor, dan Supiori.

“Potensi ini harus kita kelola secara optimal melalui kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, petani, dunia usaha dan seluruh pemangku kepentingan,” katanya.

Selain kelapa, Aryoko juga mendorong pengembangan sejumlah komoditas unggulan Papua lainnya, seperti kakao, vanili, sagu, dan kelapa sawit.

Pengembangan komoditas tersebut perlu dilakukan melalui perencanaan yang terintegrasi, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Langkah itu dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah produk, memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi daerah.

Aryoko menilai penguatan sektor produktif berbasis potensi daerah semakin penting seiring perubahan struktur perekonomian Papua pascapembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) pada 2022.

Karena itu, Pemprov Papua terus mendorong pembangunan ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada sektor tertentu, tetapi juga memperkuat sektor perkebunan dan berbagai komoditas unggulan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Upaya tersebut sejalan dengan visi Pemprov Papua, “Terwujudnya Transformasi Papua yang Cerdas, Sejahtera dan Harmoni (Papua CERAH)”, melalui pembangunan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, memperkuat kemandirian daerah, dan mempercepat pemerataan kesejahteraan.

Dalam kesempatan tersebut, Aryoko menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Sarmi, Yayasan EcoNusa, Otoritas Pelabuhan, para mitra pembangunan, serta seluruh petani kelapa yang telah mendukung pengembangan komoditas kelapa di Papua.

Ia berharap kolaborasi tersebut terus diperkuat sehingga semakin banyak produk unggulan Papua mampu menembus pasar nasional maupun internasional. (*)

Editor : Elfira Halifa
papua