Terima Ribuan Koleksi Artefak di Museum, Kini Uncen Siapkan Pusat Riset dan Pelestarian Budaya Papua

Agung Trihandono • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 08:14 WIB
Warek II Uncen Dr. Ferdinand Risamasu, SE., M.Sc.Ag, saat menerima sejumlah benda berupa fosil peninggalan leluhur masyarakat Papua, Kamis (6/8).

(CEPOSONLINE.COM/JIMI) 
Warek II Uncen Dr. Ferdinand Risamasu, SE., M.Sc.Ag, saat menerima sejumlah benda berupa fosil peninggalan leluhur masyarakat Papua, Kamis (6/8). (CEPOSONLINE.COM/JIMI) 

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Kedatangan ribuan koleksi artefak dan dokumentasi ilmiah berharga hasil repatriasi dari Amerika Serikat pada, Kamis (6/8) menjadi momentum transformatif bagi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura.

 

  Guna merespons kebutuhan perawatan jangka panjang serta pemanfaatan aset budaya tersebut, pihak rektorat secara resmi merencanakan langkah strategis berupa renovasi menyeluruh hingga pembangunan gedung baru Museum Loka Budaya UNCEN yang lebih modern dan representatif.

 

  Rencana besar ini digulirkan sebagai wujud komitmen perguruan tinggi dalam menjaga kelestarian warisan etnografis Papua agar tidak sekadar tersimpan secara pasif, melainkan dapat diakses secara optimal oleh publik, akademisi, dan generasi mendatang.

 

   Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih, Dr. Ferdinand Risamasu, SE., M.Sc.Ag, mengungkapkan bahwa masuknya gelombang koleksi berskala besar yang mencakup artefak fisik, puluhan ribu slide foto, hingga rekaman suara etnografis menuntut kesiapan infrastruktur fisik yang jauh lebih memadai dari yang dimiliki saat ini.

 

   Ferdinand menegaskan bahwa visi pembangunan gedung baru ini tidak 

hanya berfokus pada fungsi penampungan, melainkan pada perluasan peran museum sebagai institusi pendidikan dan riset yang holistik.

 

   "Keberadaan koleksi tersebut mendorong Universitas Cenderawasih untuk merencanakan renovasi, bahkan pembangunan gedung museum yang lebih representatif. Bangunan baru nantinya tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga pusat pembelajaran, penelitian, pelatihan seni, serta ruang pelestarian budaya Papua," tegas Ferdinand, Kamis (6/8).

 

   Lebih lanjut, Ferdinand menjelaskan bahwa dalam proses perancangan arsitektur dan tata ruang gedung baru, Uncen akan melibatkan para pemangku adat secara langsung. Konsultasi intensif bersama Dewan Adat Papua akan dilakukan untuk memastikan bahwa estetika, filosofi, dan struktur bangunan museum secara visual dan simbolis mencerminkan identitas budaya Papua yang otentik.

   Guna merealisasikan rencana strategis ini, pihak rektorat siap menjalin sinergi dengan pemerintah pusat melalui pengajuan proposal anggaran dan teknis. "Kami akan mengusulkan pembangunan atau renovasi museum kepada Kementerian Kebudayaan maupun kementerian terkait agar koleksi ini dapat dirawat secara maksimal dan menjadi pusat pembelajaran budaya Papua," tambah Ferdinand.

 

  Kepala Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih, Enrico Yory Kondologit, S.Sos., M.Si, menyatakan apresiasi dan dukungan penuhnya atas kebijakan Uncen yang berpihak pada pelestarian warisan budaya lokal tersebut.

 

   Enrico menilai langkah ini sangat krusial mengingat benda-benda budaya yang baru tiba seperti peralatan batu kuno, tekstil langka berbahan kain jaring laba-laba, tas serat alami, serta media penyimpanan analog pita kaset membutuhkan penanganan laboratorium khusus dengan kontrol suhu dan kelembapan ruangan yang ketat agar tidak mengalami degradasi kualitas.

 

  Menurut Enrico, transformasi gedung museum menjadi pusat riset terpadu dan ruang pelatihan seni akan memperkuat posisi Museum Loka Budaya Uncen sebagai laboratorium hidup (living laboratory). (*)

Editor : Agung Trihandono
papua Ceposonline.com budaya