CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Pemerintah Provinsi Papua memberikan apresiasi kepada Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) atas keberhasilannya menjalin kerja sama internasional dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan pelaksanaan seminar internasional di Kota Jayapura.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas pendidikan tinggi di Papua sekaligus membuka peluang kerja sama akademik di tingkat global.
Wakil Gubernur Papua, Aryoko Rumaropen mengatakan, kerja sama antara USTJ dan UKM menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi di Papua mampu bersanding dengan institusi pendidikan luar negeri dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan riset.
“Kami Pemerintah Daerah Provinsi Papua sangat apresiasi atas langkah USTJ membangun kerja sama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia, ini kolaborasi internasional yang sangat strategis ini,"ucap Aryoko Rumaropen.
Menurutnya, penandatanganan MoU tersebut menjadi tonggak penting dalam membangun hubungan akademik antara dua institusi dari negara bertetangga yang memiliki kedekatan budaya dan sejarah.
Kerja sama itu diharapkan dapat membuka ruang pertukaran dosen dan mahasiswa, penelitian bersama, pengembangan program akademik, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang pendidikan tinggi.
“Ini adalah bukti nyata bahwa lembaga pendidikan tinggi di Papua mampu menjangkau dan tampil di panggung akademik internasional,”katanya.
Pemprov Papua, lanjutnya, mendukung penuh keberlanjutan kerja sama tersebut dan siap memfasilitasi berbagai program yang akan dikembangkan ke depan.
Dalam kegiatan tersebut juga digelar seminar internasional bertema “Religion and Economics: A Clash of Civilisation.” Tema itu dinilai sangat relevan dengan dinamika global saat ini, khususnya dalam melihat hubungan antara nilai-nilai agama dan sistem ekonomi modern.
Wagub menilai diskusi akademik seperti ini sangat penting untuk melahirkan pemikiran yang konstruktif dan solutif bagi pembangunan masyarakat.
Ia menegaskan, Papua memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang menjadi modal besar dalam membangun pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.
“Hadirnya seminar internasional bertaraf tinggi di Kota Jayapura menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus memperkuat ekosistem akademik di tanah Papua,”ujarnya.
Ia berharap hasil seminar dan kerja sama tersebut tidak hanya menghasilkan gagasan ilmiah, tetapi juga rekomendasi nyata yang dapat diterapkan dalam pembangunan daerah dan pengembangan dunia pendidikan di Papua.
Di tempat yang sama, Rektor USTJ, Rusdianto Abu, menyampaikan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi USTJ untuk meningkatkan kualitas akademik sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat Papua.
Menurutnya, kerja sama dengan UKM memiliki nilai strategis karena dirinya juga pernah menempuh pendidikan doktoral (PhD) di kampus tersebut.
Hal itu diharapkan dapat memperkuat hubungan kelembagaan antara kedua universitas.
“Saya berharap UKM bisa lebih dekat dengan USTJ. Banyak program yang bisa kita bangun bersama, terutama dalam peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia Papua,”jelasnya.
Rusdianto Abu mengatakan, terdapat banyak program yang akan dikembangkan bersama UKM, mulai dari penguatan kurikulum, pertukaran akademik, hingga program gelar ganda yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengakuan akademik dari dua perguruan tinggi sekaligus.
Selain memperkuat kerja sama internasional, USTJ juga menargetkan memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah di seluruh Tanah Papua, baik Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota, guna mendukung pengembangan sumber daya manusia lokal.
Baginya dukungan pemerintah daerah sangat penting untuk membuka akses pendidikan tinggi yang lebih luas, khususnya bagi lulusan SMA maupun aparatur sipil negara (ASN) yang ingin melanjutkan pendidikan.
Salah satu program yang tengah dipersiapkan adalah pembukaan kelas khusus melalui skema Recognition of Prior Learning (RPL) atau rekognisi pembelajaran lampau.
Program ini memungkinkan peserta yang memiliki pengalaman kerja atau pendidikan sebelumnya melanjutkan studi dengan masa tempuh lebih singkat.
Melalui skema tersebut, lulusan SMA maupun diploma (D3) berpeluang menyelesaikan pendidikan dan memperoleh ijazah dalam waktu sekitar dua tahun sesuai pengakuan capaian pembelajaran yang dimiliki.
Selain itu, USTJ juga terus mempersiapkan pembukaan berbagai program pascasarjana sebagai bagian dari pengembangan institusi dan upaya menjawab kebutuhan peningkatan kualitas SDM di Papua.
"Dengan penguatan kerja sama internasional ini saya berharap kemitraan bersama pemerintah daerah, serta inovasi program pendidikan, USTJ optimistis dapat menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terdepan di Papua dalam mencetak generasi unggul dan berdaya saing global,"tutup Rusdianto Abu. (*).
Editor : Yohanes Palen