Desak Perang Suku di Timika Dihentikan, Kepala Suku Damal: Jika Berlanjut, Pelaku Ditahan di Nusakam

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 15:23 WIB
Kepala Suku Damal Provinsi Papua Tengah, Geradus Wamang (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
 Kepala Suku Damal Provinsi Papua Tengah, Geradus Wamang (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE) 

CEPOSONLINE.COM, NABIRE — Kepala Suku Damal Provinsi Papua Tengah, Geradus Wamang, mendesak aparat TNI-Polri segera menghentikan perang antarsuku di Timika, Kabupaten Mimika. Ia menegaskan, tidak boleh ada lagi pembunuhan akibat konflik dan meminta pelaku yang kembali terlibat dalam perang diproses secara hukum serta ditahan di Nusakambangan.


Geradus menegaskan bahwa pengukuhan dirinya sebagai Kepala Suku Damal menjadi momentum untuk mendorong perdamaian dan mengakhiri konflik yang telah menimbulkan korban jiwa. Ia meminta aparat keamanan memastikan perang tidak kembali berlanjut.


“Sekarang sudah diresmikan dan pelantikan sudah sah. Jadi saya minta TNI-Polri harus segera mengamankan perang itu. Kemarin sudah masuk dan tenda-tenda yang ada sudah dibongkar. Sekarang sudah tidak boleh perang lagi. Saya minta, tidak boleh perang,” tegas Kepala Suku Damal,  Geradus Wamang kepada media ini usai dikukuhkan oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Jumat (18/9/2026).


Menurut Geradus, masyarakat yang terlibat dalam konflik harus menahan diri dan tidak menjadikan perang sebagai jalan untuk menyelesaikan persoalan. Ia mengingatkan bahwa seluruh pihak memiliki kedudukan yang sama sehingga tidak boleh ada lagi pembunuhan.


“Karena manusia sekarang sudah sama. Sebelah sama, sebelah sini juga sama. Tidak ada kelebihan lagi. Jangan pembunuhan lagi. Stop! sekali lagi, Kalau sudah sama, berarti harus aman. Jangan perang lagi, jangan pembunuhan lagi,” ujarnya.


Geradus kemudian menyampaikan sikap tegasnya terhadap pelaku yang kembali melakukan pembunuhan atau terlibat dalam perang. Ia meminta aparat menindak pelaku sesuai hukum dan mengusulkan agar mereka dibawa ke Nusakambangan untuk menjalani hukuman, bukan ditahan di Timika.


“Kalau sekarang ada pembunuhan lagi, ada perang lagi, oknum-oknum itu harus dibawa ke Nusakambangan. Tidak boleh ditahan di Timika. Itu yang saya tegaskan dan saya minta,” katanya.


Lebih lanjut, Geradus mengungkapkan bahwa konflik di Kwamki Narama sebelumnya telah diupayakan untuk diselesaikan melalui koordinasi bersama pemerintah dan aparat keamanan. Ia menyebut dirinya bersama Pj. Sekda Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni, serta jajaran kepolisian telah turun tangan untuk mengamankan situasi.


“Kwamki Narama itu memang keluarga saya yang perang. Keluarga saya, tetapi waktu itu saya sudah mengamankan. Saya bersama pemerintah Puncak, Pak Nenu Tabuni, Kapolres dan Kapolda sudah turun dan mengamankan. Tetapi mereka mulai lagi, perang lagi, ada pembunuhan lagi dan ini sangat disayangkan,” jelasnya.


Ia mengatakan, upaya perdamaian juga dilakukan bersama pihak intelijen, termasuk pemberian dana sebesar Rp500 juta kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Namun, menurutnya, perang kembali terjadi meskipun berbagai upaya telah dilakukan.


“Lima ratus juta sudah diberikan kepada pihak yang berperang sebelah sini dan sebelah sana. Tetapi mereka lanjut perang lagi. Sekarang saya sudah dilantik dan menjadi kepala suku. Jadi perang itu sekarang saya tidak mau lagi dan mulai hari ini harus stop,” tegas Geradus.


Menutup pernyataannya, Geradus kembali meminta TNI-Polri memperkuat pengamanan dan mengambil tindakan tegas apabila konflik kembali terjadi. Ia menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan kedamaian dan tidak ingin korban jiwa terus berjatuhan akibat perang antarsuku.


“Kalau perang lanjut, saya minta anggota TNI-Polri harus masuk dan mengamankan. Tolong bantu kami. Saya tidak mau lihat ada korban lagi. Sekarang kami mau damai dan tidak mau ada korban lagi,” pungkasnya. (*)

Editor : Weny Firmansyah
Papua Tengah kepala suku Ceposonline.com timika