Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Tak Semuanya OPM! Ada Sipil dan Ibu Rumah Tangga yang Ditembak Aparat di Intan Jaya

Elfira Halifa • Jumat, 17 Oktober 2025 | 08:37 WIB
Illustrasi penembakan. (JAWA POS)
Illustrasi penembakan. (JAWA POS)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA– Tim Mediasi Konflik Papua, menegaskan bahwa 14 orang yang tewas dalam kontak senjata di Kampung Soanggama, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, bukan semuanya kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Hal ini diketahui setelah Tim Mediasi Konflik melakukan identifikasi terhadap para jenazah.

Identifikasi dilakukan tim, setelah sebelumnya TNI dalam rilisnya menyampaikam bahwa 14 anggota OPM Kodap VIII/Soanggama tewas dalam kontak senjata dengan pasukan Komando Operasi Habema Kogabwilhan III, di Kampung Soanggama, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, Rabu (15/10/2025).

Ketua Tim Mediasi Konflik, Yoakim Mujizau membenarkan jika pada 14 Oktober 2025, Satgas Rajawali/I dan II Habema dan Satgas 712/WT masuk ke Kampung Janamba dan Soanggama, Kabupaten Intan Jaya.

Setelah tim mengidentifikasi korban di Kampung Soanggama, dan mengumpulkan informasi dari masyarakat, mereka menyampaikan bahwa terdapat 15 korban.

“Sebanyak 15 orang yang menjadi korban tidak semuanya anggota OPM, " ungkapnya.

“Dari 15 orang itu, ada masyarakat sipil, seorang mono dan satu orang ibu rumah tangga yang menjadi korban saat aparat melakukan oprasi penegakan hukum di Kampung Soanggama,” terang Yoakim, kepada Ceposonline.com, Jumat (17/10/2025).

Ia menegaskan bahwa, dari 15 orang yang menjadi korban penembakan aparat. Sebanyak enam orang adalah anggota OPM, sementara lainnya adalah masyarakat sipil.

“Korban atas nama Agus Kogoya itu masyarakat, sementara Agus Kogoya yang anggota OPM masih hidup” ungkapnya.

“Apkam di lapangan menyampaikan bahwa Agus Kogoya ini keliru, karena nama Agus Kogoya di Kampung Soanggama ada dua orang” ungkapnya.

“Jadi setelah aparat melihat KTP atas nama Agus Kogoya, ia langsung ditembak. Padahal, dia bukan OPM, namanya saja yang sama,” terangnya.

Lainnya adalah, Pisen Kogoya dan Sepi Lawiya, bukan Sepi Kobogau. Mereka ini masyarakat sipil.

“Agopani Kobogau adalah seorang mono yang sering keliling kampung-kampung di Intan Jaya, yang juga menjadi korban” ungkapnya.

“Seorang ibu rumah tangga, yang ketakutan saat itu ditembak saat sedang ingin mengamankan diri ke hutan. Akibatnya, ia terjatuh dari jembatan, dan terbawa arus hingga meninggal dunia. Mayatnya sudah dievakuasi, dan dimakamkan,” terangnya.

Dari belasan orang yang meninggal dunia akibat penembakan itu, Yoakim menyampaikan bahwa sebagian sudah dimakamkan.

Sementara enam orang lainnya, belum ditemukan jasadnya. “Sampai saat ini, pihak keamanan belum memberikan informasi keberadaan korban penembakan lainnya. Tentang lokasi penembakan di mana, dan dikubur di mana. Sehingga kami masih dalami keberadaan jenazah lainnya, dan belum teridentifikasi apakah itu masyarakat atau OPM,” ucapnya.

Tim Mediasi Konflik mengingatkan aparat yang bertugas di wilayah Intan Jaya agar menggunakan pendekatan humanis dan preventif, tanpa harus mengedepankan tindakan represif yang menyebabkan banyak korban dari masyarakat sipil berjatuhan.

“Akibat penegakan hukum yang tidak terukur membuat masyarakat tidak bisa bebas beraktivitas, tidak bisa berkebun, tidak bisa buat apa-apa. Masyarakat selalu dihantui ketakutan, kecemasan dan trauma berlebihan,” tutup Yoakim. (*)

Editor : Agung Trihandono
#Papua Tengah #INTAN JAYA #opm