CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggandeng Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) untuk meningkatkan kualitas dan daya saing kopi Papua Tengah agar tidak hanya memenuhi pasar lokal dan nasional, tetapi juga mampu menembus pasar global.
Upaya tersebut dilakukan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Pemprov Papua Tengah dan SCOPI tentang pemberdayaan petani dan pelatih utama kopi melalui penerapan budidaya kopi berkelanjutan atau Good Agricultural Practices (GAP), pengelolaan pascapanen (post-harvest), serta pengembangan ekosistem kopi berkelanjutan.
Penandatanganan Nota Kesepahaman tersebut berlangsung di Hotel Carmel Kalibobo Nabire, Senin (10/8/2026).
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Papua Tengah, Dr. H. Tumiran, mengatakan kerja sama tersebut merupakan langkah strategis untuk membangun sektor perkebunan, khususnya komoditas kopi, secara lebih terintegrasi.
Menurut Tumiran, pengembangan kopi tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi dan memperluas areal perkebunan. Aspek kualitas, kapasitas petani, nilai tambah, hingga akses pasar juga perlu diperkuat agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam membangun sektor perkebunan, khususnya kopi, agar tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga peningkatan kualitas, kapasitas petani, nilai tambah, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Tumiran.
Melalui kerja sama tersebut, Pemprov Papua Tengah bersama SCOPI akan mendorong peningkatan kapasitas petani dan pelatih utama kopi melalui penerapan praktik budidaya yang baik dan berkelanjutan.
“ Pendampingan dilakukan mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan hingga penanganan pascapanen. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas kopi sekaligus memperkuat kemampuan petani dalam memenuhi standar pasar,” lugasnya.
Tumiran menjelaskan, pengembangan kopi Papua Tengah harus dilakukan dengan membangun ekosistem yang kuat dari hulu hingga hilir.
“ Karena itu, kerja sama dengan SCOPI juga diarahkan pada peningkatan kompetensi petani, penguatan pelatih utama (master trainers), penerapan standar budidaya berkelanjutan, peningkatan mutu pascapanen, serta pengembangan jejaring dan kemitraan dalam rantai nilai kopi,” ungkap Tumiran.
Dengan pendekatan tersebut, petani diharapkan tidak lagi hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi secara bertahap mampu menghasilkan kopi berkualitas yang memiliki daya saing dan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Petani harus menjadi subjek utama pembangunan, bukan sekadar penerima bantuan. Karena itu, peningkatan kapasitas dan keterampilan petani menjadi salah satu fokus utama,” katanya.
Ia mengatakan Papua Tengah memiliki potensi besar untuk menghasilkan kopi berkualitas dengan karakteristik dan cita rasa yang khas.
“Potensi tersebut perlu dikelola secara serius melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, teknologi budidaya, penanganan pascapanen, kelembagaan petani, serta akses terhadap pasar,” ujarnya.
Pengembangan kopi juga menjadi bagian dari upaya Pemprov Papua Tengah dalam mendorong komoditas unggulan daerah, termasuk melalui gerakan penanaman dan pengembangan kopi secara berkelanjutan.
Menurut Tumiran, kualitas menjadi faktor utama jika kopi Papua Tengah ingin bersaing di pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
“Kopi yang dihasilkan harus memiliki standar budidaya, panen, pengolahan, dan pascapanen yang baik sehingga mampu memiliki daya saing dan identitas sebagai kopi Papua Tengah,” jelasnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemprov Papua Tengah akan terus mendorong sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, petani, pelaku usaha, lembaga pendamping, akademisi, dan mitra pembangunan.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan Nota Kesepahaman, tetapi dilanjutkan dengan program konkret di lapangan yang dapat memperkuat kapasitas petani dan ekosistem kopi Papua Tengah.
“Kerja sama dengan SCOPI diharapkan menjadi salah satu fondasi untuk membangun ekosistem kopi Papua Tengah yang berkelanjutan, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah bagi petani,” ujarnya.
Tumiran menegaskan, pengembangan kopi Papua Tengah pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi juga menyangkut masa depan petani, peningkatan ekonomi masyarakat, kelestarian lingkungan, serta pembangunan daerah yang berkelanjutan.
“Kopi Papua Tengah bukan hanya tentang tanaman, tetapi tentang masa depan petani, peningkatan ekonomi masyarakat, kelestarian lingkungan, dan pembangunan Papua Tengah yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*)
Editor : Lucky Ireeuw