Perkuat Ekosistem Riset Hingga Tehnologi, Gubernur Apolo Ikuti Kunker Ketua DEN di Sumut

Yulius Sulo • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 06:29 WIB
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo saat mengikuti kunker Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut B Panjaitan ke Taman Sains dan Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di Sumatera Utara, Jumat (25/9/2026)(CEPOSONLINE.COM/BIRO UMUM PAPSEL)
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo saat mengikuti kunker Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut B Panjaitan ke Taman Sains dan Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di Sumatera Utara, Jumat (25/9/2026)(CEPOSONLINE.COM/BIRO UMUM PAPSEL) 

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE - Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo mengikuti kunjungan kerja (Kunker) Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut B Panjaitan ke Taman Sains dan Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di Sumatera Utara, Jumat (25/9/2026). 

 

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka mendukung penguatan ekosistem riset, hilirisasi sektor herbal serta pengembangan teknologi nasional

 

Kegiatan ini bertujuan untuk meninjau perkembangan TSTH2 serta mengidentifikasi langkah strategis dalam mengoptimalkan perannya untuk mendukung program pembangunan dan penguatan ekonomi nasional 

 

Ketua DEN, Luhut B Panjaitan mengatakan waktu tak bisa dibeli, sehingga mari memulai sains dan teknologi dan Hortikultura agar tidak ketinggalan.

 

"Kami melihat dan dengan berbagai macam pengalaman, maka kami memulai,"kata Luhut di sela-sela sambutannya.

 

Lanjut dia, lantaran skalanya besar, jika berbicara soal tanaman pangan, tetapi masih menerima impor maka sama saja. Untuk itu, memulai, ini tidak membutuhkan kos yang besar.

 

Luhut mengatakan, di Papua juga bisa dikembangkan, baik di bidang pendidikan, pertanian dan di bidang lainnya, yang bisa dikembangkan semisal kentang, cabai,jangan memulai dengan investasi yang besar-besar.

 

Sementara itu, Direktur TSTH2 yang berlokasi di Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, Sri Fatmawati menjelaskan TSTH2 merupakan sebagian pusat sains, pusat inovasi, dan pusat industri. 

 

"Harapannya, melalui berbagai pengetahuan yang dikembangkan di pusat sains, kita dapat menghadirkan inovasi-inovasi baru serta memfasilitasi pengembangan produk-produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi bagi masyarakat," kata Sri yang juga seorang ilmuwan kimia bahan alam terkemuka asal Indonesia.

 

Menurutnya, hal ini merupakan aset yang sangat penting. Ini menjadi aset strategis untuk meningkatkan pemanfaatan biodiversitas sebagai gerbang kolaborasi dan pengembangan berbagai inovasi.

 

"Oleh karena itu, kami bersama ITB tentunya berharap tempat ini dapat menjadi pusat keunggulan di bidang herbal dan hortikultura rakyat,"ujarnya.

 

Ia berharap pusat ini memiliki orientasi global. Beberapa waktu yang lalu, pihaknya telah menerima kunjungan dan menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari Belanda, Tiongkok, serta beberapa negara lainnya yang menunjukkan ketertarikan untuk bekerja sama.

 

"Inilah yang kemudian mendorong kami untuk membangun visi menjadikan pusat-pusat herbal dan hortikultura yang tersebar di Indonesia sebagai bagian dari ekosistem yang mampu menghasilkan inovasi dan teknologi,"kata dia.

 

Sri menyebut, visi yang pertama adalah bagaimana mendapatkan dan mengembangkan sumber daya genetik yang unggul. Lantaran hingga kini, Indonesia masih banyak mengimpor berbagai komoditas, termasuk bawang putih dan komoditas hortikultura lainnya.

 

Mengapa hal tersebut terjadi? Karena benih unggul, sebagaimana halnya manusia, apabila tidak dipelihara dan dikembangkan, maka kualitasnya dapat menurun. 

 

"Benih unggul pun demikian. Apabila kita tidak melakukan pemeliharaan, pengembangan, dan seleksi secara berkelanjutan, maka potensi unggul tersebut dapat hilang,"ujarnya.

 

Dalam pengembangan tanaman, kata Sri, harus memperhatikan berbagai cekaman lingkungan. Cekaman tersebut dapat berupa suhu, baik suhu yang lebih tinggi maupun lebih rendah, serta kadar air yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah.

 

Kondisi lingkungan di setiap wilayah juga berbeda. Misalnya, wilayah dengan ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah yang berada pada ketinggian 100 atau 200 meter di atas permukaan laut.

 

Keragaman kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan tanaman di Indonesia.(*)

 

"

Editor : Agung Trihandono
Apolo Safanpo kunjungan kerja PAPUA SELATAN